03, 2026
Ekonomi

Harga Solar di Inggris Tembus Rp 48 Ribu per Liter, Rekor Baru

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga bahan bakar solar di Inggris menembus rekor baru setelah rata-rata harga di pompa bensin melampaui 232,9 pence per liter atau setara Rp 48.000 per liter. Kenaikan ini menjadikan solar sebagai bahan bakar termahal yang pernah tercatat di jaringan stasiun pengisian bahan bakar di seluruh Inggris, memperparah tekanan biaya hidup yang tengah dihadapi rumah tangga dan pelaku usaha.

Data yang dihimpun dari pemantauan harga ritel menunjukkan lonjakan terjadi dalam beberapa pekan terakhir seiring menguatnya harga minyak mentah dunia dan ketatnya pasokan bahan bakar diesel di pasar global. Harga solar kini melampaui harga bensin yang selama ini menjadi acuan utama konsumen, sebuah kondisi yang tidak lazim dan berdampak langsung pada sektor transportasi serta logistik.

Pemicu Kenaikan Harga

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab utama lonjakan harga solar di Inggris. Pertama, permintaan global terhadap diesel meningkat tajam seiring pemulihan aktivitas industri di sejumlah negara besar. Kedua, kapasitas kilang minyak dunia dinilai belum sepenuhnya pulih untuk memenuhi kebutuhan pasokan diesel yang terus bertambah. Ketiga, ketegangan geopolitik di kawasan penghasil minyak turut menambah ketidakpastian pasar energi.

Selain itu, faktor musiman juga berperan. Permintaan solar biasanya meningkat pada musim dingin karena digunakan untuk pemanas ruangan, sementara stok yang tersedia tidak selalu mencukupi. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat harga solar di pasar internasional melonjak, dan dampaknya terasa langsung di stasiun pengisian bahan bakar di Inggris.

Dampak bagi Konsumen dan Pelaku Usaha

Kenaikan harga solar ini memberikan tekanan besar bagi pengemudi kendaraan pribadi, terutama pemilik mobil bermesin diesel yang jumlahnya cukup signifikan di Inggris. Namun, dampak yang lebih serius dirasakan oleh pelaku usaha, khususnya perusahaan transportasi, logistik, dan distribusi barang. Biaya operasional kendaraan niaga yang sebagian besar menggunakan solar meningkat tajam, dan hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

Para pengusaha angkutan barang menyatakan kenaikan harga bahan bakar mengurangi margin keuntungan mereka. Sebagian dari mereka terpaksa menaikkan tarif pengiriman, sementara yang lain memilih menunda perawatan kendaraan atau mengurangi jumlah perjalanan untuk menekan biaya. Kondisi ini dikhawatirkan memperlambat roda perekonomian karena distribusi barang menjadi lebih mahal dan lambat.

Di sektor pertanian, kenaikan harga solar juga berdampak signifikan. Petani menggunakan solar untuk mengoperasikan traktor, mesin pemanen, dan peralatan irigasi. Kenaikan biaya bahan bakar menambah beban pengeluaran mereka di tengah ketidakpastian harga hasil panen. Hal serupa dialami nelayan yang bergantung pada solar untuk melaut.

Respons Pemerintah dan Otoritas Energi

Pemerintah Inggris menghadapi tekanan untuk mengambil langkah konkret menekan harga bahan bakar. Sejumlah anggota parlemen mendesak peninjauan ulang kebijakan pajak bahan bakar yang dinilai membebani konsumen. Mereka menyerukan pengurangan beban pajak sementara agar harga di pompa bensin tidak semakin memberatkan masyarakat.

Otoritas energi dan regulator pasar menyatakan akan terus memantau pergerakan harga serta memastikan tidak ada praktik penetapan harga yang merugikan konsumen. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa harga bahan bakar sangat dipengaruhi oleh pasar global sehingga ruang intervensi pemerintah terbatas.

Organisasi konsumen menyerukan transparansi dalam penetapan harga bahan bakar. Mereka menilai selisih antara harga minyak mentah dunia dan harga di pompa bensin perlu dijelaskan secara terbuka agar masyarakat memahami komponen biaya yang membentuk harga akhir. Transparansi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik di tengah lonjakan harga yang terus terjadi.

Prospek ke Depan

Para analis energi memperkirakan harga solar akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika pasokan global tidak segera membaik. Perubahan cuaca, permintaan musiman, dan dinamika geopolitik akan menjadi faktor penentu arah harga. Sebagian analis tidak menutup kemungkinan harga solar kembali menembus rekor baru jika kondisi pasar tidak membaik.

Dalam jangka panjang, kenaikan harga bahan bakar fosil ini dinilai memperkuat urgensi transisi menuju energi terbarukan dan kendaraan listrik. Namun, transisi tersebut membutuhkan waktu, investasi besar, dan dukungan kebijakan yang konsisten. Sementara itu, rumah tangga dan pelaku usaha di Inggris harus bertahan menghadapi biaya energi yang kian mahal.

Rekor harga solar di Inggris menjadi cerminan tantangan energi global yang tidak hanya dialami satu negara. Ketergantungan pada bahan bakar fosil, terbatasnya kapasitas kilang, dan ketidakpastian geopolitik menjadi persoalan struktural yang memerlukan solusi jangka panjang. Bagi masyarakat, kenaikan ini menambah daftar panjang beban biaya hidup yang harus ditanggung setiap hari.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter