22, 2026
Teknologi

Harga Tiket Pesawat Bisa Naik 20% Mulai 2027, Liburan Makin Mahal

Harga tiket pesawat diprediksi naik hingga 20% pada 2027 akibat lonjakan harga bahan bakar dan pajak penerbangan.]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Tiket Pesawat Bisa Naik 20% Mulai 2027, Liburan Makin Mahal

Harga tiket pesawat berpotensi mengalami kenaikan signifikan hingga 20 persen mulai 2027. Kenaikan itu bukan disebabkan oleh lonjakan harga minyak mentah semata, melainkan oleh bertambahnya beban biaya dekarbonisasi yang harus ditanggung maskapai penerbangan, mulai dari kewajiban penggunaan bahan bakar aviasi berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) hingga perluasan skema perdagangan karbon di sektor penerbangan. Bagi wisatawan, konsekuensinya cukup jelas: biaya liburan, terutama perjalanan jarak jauh, akan semakin mahal.

Sejumlah kajian industri penerbangan memperkirakan bahwa kombinasi mandat SAF, pungutan lingkungan, dan harga karbon akan mendorong struktur biaya operasional maskapai naik secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Puncaknya diperkirakan terjadi pada 2027, ketika sejumlah kebijakan transisi energi di Eropa dan kawasan lain mulai diberlakukan secara penuh. Maskapai pada akhirnya akan meneruskan sebagian biaya tersebut kepada penumpang melalui harga tiket dan berbagai pungutan tambahan.

Bahan Bakar Berkelanjutan Jadi Pendorong Utama

Faktor terbesar yang mendorong kenaikan harga tiket adalah mandat pencampuran SAF. Regulasi di Uni Eropa mewajibkan pemasok bahan bakar aviasi mencampur SAF dalam proporsi tertentu ke dalam bahan bakar jet konvensional, dimulai dari level rendah pada pertengahan dekade ini dan meningkat secara bertahap hingga puluhan persen pada dekade berikutnya. Harga SAF saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan avtur konvensional karena kapasitas produksi global belum mencukupi dan bahan baku yang tersedia masih terbatas.

Selisih harga itulah yang menjadi sumber tekanan biaya. Ketika kewajiban pencampuran meningkat, maskapai harus membeli bahan bakar dengan komponen SAF yang lebih besar, sementara margin keuntungan industri penerbangan secara historis tergolong tipis. Analisis industri menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu persen biaya bahan bakar dapat berdampak langsung pada harga tiket, sehingga kenaikan bertahap menuju dua digit persen dalam beberapa tahun bukan hal yang mustahil.

Kapasitas produksi belum seimbang dengan permintaan

Persoalan lain adalah kesenjangan antara pasokan dan permintaan. Sejumlah produsen energi tengah membangun fasilitas SAF baru, tetapi sebagian besar proyek tersebut baru beroperasi komersial dalam beberapa tahun ke depan. Ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada pasokan, harga SAF berpotensi tetap tinggi, bahkan melonjak pada periode transisi. Kondisi ini membuat maskapai menghadapi ketidakpastian biaya yang sulit direncanakan dalam jangka panjang.

Pajak dan Perdagangan Karbon Menambah Beban

Selain SAF, perluasan skema perdagangan karbon di sektor penerbangan turut menambah beban biaya. Maskapai yang beroperasi pada rute tertentu diwajibkan membeli kuota emisi atau membayar kompensasi karbon atas emisi yang dihasilkan. Di Eropa, sektor penerbangan telah masuk dalam sistem perdagangan emisi, dan cakupannya terus diperluas. Sementara itu, skema kompensasi karbon global untuk penerbangan internasional juga mulai diterapkan secara bertahap.

Sejumlah negara juga menerapkan pajak penumpang pesawat yang dikaitkan dengan kelas kabin dan jarak tempuh. Kebijakan semacam ini menambah komponen biaya yang pada akhirnya muncul dalam harga tiket. Industri penerbangan berulang kali menyatakan bahwa pungutan berganda—dari mandat SAF, pajak, dan harga karbon—dapat menekan daya saing sektor aviasi serta menghambat pemulihan permintaan perjalanan udara.

Dampak ke sektor pariwisata

Kenaikan harga tiket berpotensi mengubah pola perjalanan wisatawan. Perjalanan jarak jauh dengan durasi singkat, seperti kunjungan akhir pekan ke destinasi lintas benua, diperkirakan paling terdampak karena sensitif terhadap perubahan harga. Wisatawan mungkin akan memilih destinasi yang lebih dekat, memperpanjang durasi tinggal agar biaya per hari lebih efisien, atau menunda perjalanan hingga menemukan promosi.

Bagi negara yang mengandalkan pariwisata, terutama destinasi yang bergantung pada penerbangan jarak jauh, dampaknya perlu diantisipasi. Penurunan jumlah kunjungan dapat memengaruhi pendapatan sektor akomodasi, restoran, dan usaha kecil di kawasan wisata. Di sisi lain, kenaikan biaya perjalanan udara bisa mendorong pertumbuhan pariwisata domestik dan perjalanan darat jarak menengah.

Respons Industri dan Prospek ke Depan

Maskapai menghadapi dilema antara memenuhi kewajiban lingkungan dan menjaga harga tiket tetap terjangkau. Sebagian maskapai memilih mengunci pasokan SAF melalui perjanjian jangka panjang untuk mengurangi risiko harga, sementara yang lain berinvestasi pada pesawat generasi baru yang lebih hemat bahan bakar. Efisiensi bahan bakar memang membantu menekan biaya, tetapi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan harga bahan bakar alternatif dalam jangka pendek.

Asosiasi industri penerbangan mendorong pemerintah untuk memberikan insentif produksi SAF, kepastian regulasi, dan dukungan pendanaan bagi pengembangan kapasitas. Tanpa dukungan tersebut, biaya transisi diperkirakan akan sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Beberapa pemerintah telah menyiapkan skema insentif, namun cakupannya masih terbatas dan belum merata antarnegara.

Dengan demikian, kenaikan harga tiket pesawat hingga 20 persen pada 2027 lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan yang perlu diwaspadai daripada angka pasti. Besarannya akan bergantung pada kecepatan pengembangan kapasitas SAF, arah kebijakan pajak karbon, harga energi global, serta kemampuan maskapai menyerap biaya. Bagi konsumen, perencanaan anggaran perjalanan yang lebih matang dan fleksibilitas dalam memilih waktu serta destinasi akan menjadi kunci menghadapi era liburan yang lebih mahal.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter