20, 2026
Teknologi

IHSG Anjlok, Danantara Cium Peluang Cuan di Saham Murah

BPI Danantara melihat penurunan IHSG sebagai peluang investasi jangka panjang. Mereka fokus pada saham dengan fundamental kuat.]]>

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

IHSG Anjlok, Danantara Cium Peluang Cuan di Saham Murah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan setelah sejumlah sentimen negatif menghantam pasar keuangan domestik dalam beberapa pekan terakhir. Pelemahan indeks yang cukup dalam membuat valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar turun ke level yang dianggap lebih menarik. Di tengah kondisi itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) disebut melihat koreksi sebagai peluang untuk menempatkan dana pada saham-saham yang harganya sudah terdiskon.

Tekanan yang Menekan Indeks

Penurunan IHSG tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada kombinasi faktor eksternal dan domestik yang bekerja bersamaan. Dari sisi global, ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tarif di Amerika Serikat telah mengubah peta aliran modal dunia. Investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia, dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Ekspektasi terhadap arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga menjadi penentu. Ketika pasar memperkirakan suku bunga bertahan lebih lama di level tinggi, imbal hasil obligasi negara maju menjadi lebih kompetitif. Konsekuensinya, aliran dana asing ke pasar saham domestik menyusut, bahkan cenderung keluar. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah memperkuat kecenderungan tersebut karena investor asing menghitung risiko kurs terhadap imbal hasil portofolio mereka.

Di dalam negeri, faktor musiman dan psikologis pasar ikut memperbesar koreksi. Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan komoditas, menjadi penekan utama indeks karena bobotnya yang dominan. Ketika investor institusi melakukan penyesuaian portofolio, dampaknya terhadap indeks menjadi berkali lipat dibandingkan pergerakan saham lapis kedua.

Valuasi Murah dan Logika Investor Jangka Panjang

Koreksi yang berlangsung cukup lama membuat rasio valuasi pasar saham Indonesia bergerak ke bawah rata-rata historisnya. Rasio harga terhadap laba dan harga terhadap nilai buku sejumlah emiten unggulan berada pada level yang secara historis sering dikaitkan dengan titik masuk bagi investor berhorizon panjang. Kondisi inilah yang menjadi dasar pandangan bahwa koreksi bukan semata risiko, melainkan juga pembentukan harga yang lebih rasional.

Posisi Danantara sebagai Pemodal Jangka Panjang

Danantara memiliki karakter yang berbeda dari investor portofolio biasa. Sebagai pengelola investasi negara dengan mandat jangka panjang, dana yang dikelolanya tidak terikat kebutuhan likuiditas jangka pendek. Orientasi itu memungkinkan pendekatan investasi berbasis nilai intrinsik, bukan berdasarkan pergerakan harga harian. Dalam kerangka tersebut, penurunan harga saham berkualitas dengan fundamental yang relatif stabil justru memperbaiki potensi imbal hasil di masa depan, termasuk melalui dividen.

Peran pemodal domestik berukuran besar menjadi penting karena struktur pasar saham Indonesia masih sangat dipengaruhi arus dana asing. Ketika arus keluar terjadi, keberadaan pembeli strategis dapat membantu menyerap tekanan jual dan mengurangi volatilitas yang berlebihan. Efeknya bukan hanya pada harga, tetapi juga pada kepercayaan pelaku pasar terhadap keberlanjutan pasar modal domestik.

Risiko yang Tetap Harus Dihitung

Meski demikian, strategi masuk saat pasar tertekan tidak bebas risiko. Pertama, koreksi dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan apabila sentimen global memburuk. Menangkap titik terendah pasar secara presisi hampir tidak mungkin dilakukan, sehingga disiplin dalam bertahap masuk menjadi kunci. Kedua, valuasi murah tidak selalu berarti murah secara fundamental apabila laba emiten ikut tertekan oleh pelemahan ekonomi.

Aspek tata kelola dan transparansi juga menjadi sorotan. Penempatan dana negara di pasar saham menuntut mekanisme pengambilan keputusan yang akuntabel, batas eksposur yang jelas, serta pengelolaan potensi konflik kepentingan mengingat keterkaitan Danantara dengan sejumlah badan usaha milik negara. Kerangka pengawasan yang kuat diperlukan agar tujuan stabilisasi pasar tidak bertabrakan dengan prinsip pengelolaan investasi yang sehat.

Yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar

Bagi investor ritel, sinyal dari pergerakan pemodal besar sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Ada beberapa hal yang layak diperhatikan. Pertama, kualitas laba emiten dan kemampuan menghasilkan arus kas operasional yang konsisten. Kedua, kebijakan dividen dan keberlanjutannya, terutama pada sektor yang memiliki karakter pendapatan stabil. Ketiga, struktur biaya transaksi dan profil risiko masing-masing investor.

Selain itu, arah kebijakan moneter dan fiskal domestik tetap menjadi variabel penentu. Stabilitas nilai tukar, inflasi yang terkendali, serta konsistensi kebijakan akan menentukan seberapa cepat minat investor asing kembali. Tanpa perbaikan sentimen global dan domestik, dukungan dari pemodal dalam negeri hanya mampu meredam gejolak, bukan membalik arah tren secara permanen.

Prospek ke Depan

Koreksi IHSG pada akhirnya menempatkan pasar pada fase uji: apakah penurunan ini mencerminkan koreksi valuasi yang wajar atau cerminan pelemahan fundamental yang lebih dalam. Jawabannya bergantung pada kualitas laba emiten pada periode mendatang, disiplin kebijakan, dan kemampuan pasar menyerap tekanan eksternal. Di titik ini, kehadiran pemodal jangka panjang seperti Danantara memberi warna tersendiri bagi dinamika pasar saham Indonesia, sekaligus menjadi ujian bagi transparansi dan profesionalisme pengelolaan dana publik di sektor yang sangat terbuka terhadap pengawasan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter