20, 2026
Teknologi

Destry Lapor Prabowo: BI Bisa Jaga Stabilitas Rupiah Dua Hari Ini

Gubernur BI Destry Damayanti melaporkan inflasi dan nilai tukar rupiah kepada Presiden Prabowo. Inflasi pangan mencapai 5%.]]>

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Destry Lapor Prabowo: BI Bisa Jaga Stabilitas Rupiah Dua Hari Ini

Wakil Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa bank sentral memiliki ruang kebijakan dan instrumen yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam dua hari ke depan. Laporan tersebut disampaikan Destry usai pertemuan tertutup di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, yang berlangsung seusai penutupan perdagangan valuta asing domestik.

Dalam keterangannya kepada awak media setelah pertemuan, Destry menegaskan bahwa kondisi pasar valuta asing masih terkendali meskipun tekanan eksternal cukup kuat. Ia menyebut Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah agar pergerakan rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi, bukan sekadar sentimen jangka pendek.

"Kami melaporkan perkembangan terkini kepada Bapak Presiden. Intinya, Bank Indonesia siap menjaga stabilitas rupiah, termasuk dalam dua hari ke depan, dengan seluruh instrumen yang kami miliki," kata Destry.

Pertemuan Singkat, Pembahasan Terfokus

Pertemuan antara Destry dan Presiden Prabowo berlangsung sekitar satu jam. Selain membahas pergerakan nilai tukar, agenda pembicaraan mencakup perkembangan arus modal asing, kondisi pasar surat berharga negara, serta kesiapan otoritas moneter menghadapi jadwal rilis data ekonomi global yang diperkirakan memicu gejolak.

Menurut Destry, Presiden menaruh perhatian besar pada dampak fluktuasi kurs terhadap harga barang kebutuhan pokok dan biaya produksi sektor riil. Kepala negara, lanjutnya, meminta agar koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga terkait terus diperkuat agar gejolak di pasar keuangan tidak merambat ke perekonomian sehari-hari.

Destry menjelaskan, laporan kepada Presiden merupakan bagian dari komunikasi rutin antara bank sentral dan pemerintah. Ia menekankan bahwa bank sentral tetap independen dalam menjalankan kebijakan moneter, namun koordinasi dengan pemerintah diperlukan untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Strategi Tiga Intervensi

Bank Indonesia, kata Destry, terus menjalankan strategi triple intervention, yakni intervensi di pasar spot, pasar berjangka domestik atau domestic non-deliverable forward, serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Langkah itu ditempuh untuk memastikan likuiditas valuta asing tetap cukup dan meredam tekanan spekulatif.

Ia menyebutkan bahwa efektivitas intervensi bergantung pada besaran cadangan devisa. Posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih memadai untuk menopang kebutuhan pembayaran luar negeri dan stabilisasi kurs dalam kondisi tekanan global seperti saat ini.

"Kami tidak hanya menjaga level kurs, tetapi juga memastikan pasar tetap likuid. Kalau pasarnya likuid dan dalam, gejolak yang terjadi tidak akan berlangsung lama," ujar Destry.

Selain intervensi, Bank Indonesia mengandalkan instrumen suku bunga dan operasi moneter untuk menarik aliran masuk modal asing. Imbal hasil yang kompetitif di pasar surat berharga negara diharapkan menahan arus keluar dana asing yang menjadi salah satu sumber tekanan terhadap rupiah.

Tekanan Eksternal Masih Dominan

Destry mengakui bahwa faktor eksternal masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, serta fluktuasi harga komoditas menjadi variabel yang sulit dikendalikan oleh otoritas domestik.

Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat. Inflasi yang terjaga dalam sasaran, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta defisit anggaran yang dikelola secara disiplin menjadi bantalan bagi stabilitas nilai tukar. Hal itu, menurutnya, membuat Indonesia tidak perlu mengambil langkah yang bersifat panik.

Pengamat pasar keuangan menilai pernyataan bank sentral yang disampaikan langsung kepada Presiden memiliki efek psikologis bagi pelaku pasar. Sinyal kesiapan otoritas dinilai dapat menurunkan ekspektasi depresiasi rupiah dan mengurangi tekanan jual di pasar valuta asing.

Koordinasi dengan Pemerintah

Destry menambahkan, Bank Indonesia dan pemerintah telah menyepakati pembagian peran dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Bank sentral fokus pada stabilitas moneter dan sistem pembayaran, sementara pemerintah mengelola fiskal dan mendorong masuknya investasi.

Ia juga menyinggung pentingnya penggunaan instrumen lindung nilai oleh pelaku usaha, terutama importir yang memiliki kewajiban pembayaran valuta asing. Sosialisasi mengenai pengelolaan risiko kurs terus dilakukan agar dunia usaha tidak melakukan pembelian valuta asing secara berlebihan yang dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Menurut Destry, Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar secara harian dan tidak menutup kemungkinan menambah intensitas intervensi apabila diperlukan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap langkah akan diambil secara terukur dan mempertimbangkan kondisi likuiditas serta cadangan devisa.

Dengan laporan tersebut, pemerintah dan bank sentral menegaskan posisi yang sama: stabilitas rupiah menjadi prioritas bersama karena nilai tukar yang stabil dibutuhkan untuk menjaga daya beli masyarakat, menekan biaya impor bahan baku, dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter