Fenomena El Nino yang memicu pemanasan suhu permukaan laut dan mengganggu pola arus di sejumlah perairan dunia berimbas panjang hingga ke dapur pakan ternak. Ketika hasil tangkapan ikan kecil—terutama jenis pelagis seperti ikan teri dan sarden—menyusut, industri pakan ikan yang selama ini bergantung pada tepung ikan mulai mencari bahan baku alternatif. Pilihan yang paling cepat tersedia adalah tepung ayam, yakni produk olahan dari daging, tulang, dan bagian lain unggas yang biasa dipakai sebagai bahan pakan ternak. Alhasil, ikan budidaya di sejumlah kawasan kini "terpaksa" makan ayam.
Ketika Laut Tidak Lagi Stabil
El Nino adalah anomali iklim yang ditandai menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya tidak berhenti pada kekeringan di daratan. Di laut, kenaikan suhu air mengubah distribusi plankton, mengurangi produktivitas perairan, dan memaksa gerombolan ikan kecil bermigrasi ke lokasi yang lebih dalam atau lebih dingin. Bagi nelayan, kondisi itu berarti musim tangkap yang tidak menentu dan hasil yang menurun.
Penurunan tangkapan ikan kecil punya efek berantai yang cepat. Ikan jenis ini merupakan bahan mentah utama tepung ikan, komponen kunci pakan akuakultur karena kandungan protein dan asam amino esensialnya tinggi. Ketika pasokan berkurang, harga tepung ikan melonjak dan ketersediaannya di pasar global menipis. Sejumlah laporan industri menyebutkan produsen pakan di berbagai negara mulai mengurangi porsi tepung ikan dalam formulasi mereka dan menggantinya dengan sumber protein lain, termasuk produk sampingan unggas.
Ayam sebagai Penambal Celah Protein
Penggunaan tepung ayam dalam pakan ikan sebenarnya bukan hal baru. Teknologi formulasi pakan telah lama mengenal poultry by-product meal dan tepung bulu sebagai sumber protein alternatif untuk ikan omnivora seperti nila, lele, dan ikan mas. Yang berubah adalah skalanya. Ketika El Nino mempersempit pasokan bahan baku laut, substitusi yang tadinya bersifat pilihan menjadi keharusan operasional agar pabrik pakan tetap bisa berproduksi dan harga di tingkat pembudidaya tidak meledak.
Produsen pakan menyebut langkah ini sebagai strategi menjaga kesinambungan pasokan. Dengan mencampur beberapa sumber protein, formulasi pakan dapat disesuaikan mengikuti harga dan ketersediaan bahan baku. Namun para ahli nutrisi akuakultur mengingatkan bahwa substitusi tidak bisa dilakukan sembarangan. Komposisi asam amino, daya cerna, dan kandungan abu pada tepung unggas berbeda dari tepung ikan, sehingga proporsi penggantian perlu dihitung cermat agar laju pertumbuhan ikan tidak terganggu.
Beban Baru bagi Pembudidaya
Di tingkat lapangan, perubahan formulasi pakan terasa langsung pada biaya produksi. Pakan selama ini menyumbang porsi terbesar—kerap disebut mencapai 60 hingga 70 persen—dari total biaya budidaya. Ketika harga bahan baku bergejolak, pembudidaya kecil adalah pihak yang paling rentan. Sebagian memilih mengurangi frekuensi pemberian pakan, sebagian mencampur pakan pabrikan dengan bahan lokal, dan tidak sedikit yang menunda penebaran benih hingga harga kembali stabil.
Penundaan siklus produksi berdampak pada pasokan ikan ke pasar beberapa bulan kemudian. Pola ini pernah terlihat pada periode El Nino sebelumnya, ketika harga beberapa komoditas ikan budidaya mengalami kenaikan tidak lama setelah masa paceklik pakan. Bagi konsumen, efeknya adalah harga yang lebih tinggi dan ukuran ikan yang tersedia di pasar cenderung lebih kecil.
Persoalan Mutu dan Keberlanjutan
Selain soal biaya, peralihan ke bahan baku unggas memunculkan diskusi mengenai kualitas akhir produk. Sejumlah penelitian menyoroti bahwa pakan berbasis tepung unggas dapat memengaruhi profil asam lemak daging ikan, terutama kandungan omega-3 yang biasanya berasal dari rantai makanan laut. Perbedaan ini umumnya tidak membahayakan, tetapi menjadi catatan bagi produsen yang menargetkan pasar premium atau produk berlabel tertentu.
Dari sisi keberlanjutan, ketergantungan akuakultur pada tepung ikan memang sejak lama dipersoalkan karena menekan populasi ikan kecil di laut. Dalam kerangka itu, diversifikasi bahan baku dinilai sebagai langkah yang masuk akal. Kritiknya, substitusi dengan produk unggas juga memiliki jejak sumber daya sendiri, mulai dari lahan, air, hingga pakan ternak, sehingga tidak otomatis membuat rantai pasok pakan ikan menjadi lebih ramah lingkungan.
Menunggu Laut Kembali Normal
Para pengamat iklim memperkirakan gangguan akibat El Nino akan mereda secara bertahap, tetapi dampaknya pada stok ikan kecil tidak serta-merta pulih. Populasi yang tertekan membutuhkan waktu untuk kembali seimbang, sementara armada penangkapan dan pabrik tepung ikan harus menyesuaikan kapasitasnya. Dalam masa transisi itulah formulasi pakan campuran akan terus dipakai.
Bagi industri akuakultur, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal bibit dan kolam, tetapi juga soal rantai pasok bahan baku yang rentan terhadap cuaca. Pengembangan sumber protein alternatif—dari limbah pertanian, serangga, hingga protein sel tunggal—menjadi pekerjaan rumah jangka panjang. Sementara itu, di kolam-kolam budidaya, ikan tetap diberi makan setiap hari, dan untuk sekarang, sebagian dari makanan itu berasal dari ayam, bukan dari laut.
Komentar (0)