19, 2026
Teknologi

Bos Bulog Ungkap Gegara 2 Masalah Ini Ada yang "Bangkit dari Mati"

Perum Bulog menghadapi tantangan dalam mencapai swasembada pangan, terutama beras, akibat keterbatasan gudang dan fasilitas penggilingan.]]>

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bos Bulog Ungkap Gegara 2 Masalah Ini Ada yang "Bangkit dari Mati"

Direktur Utama Perum Bulog mengungkap dua persoalan mendasar yang selama ini membelit tata kelola pangan nasional. Menurutnya, dua masalah itu bukan sekadar memengaruhi stok dan harga beras di pasar, tetapi juga memicu sebuah fenomena yang ia sebut sebagai "bangkit dari mati", yakni kembalinya aktivitas ekonomi di salah satu simpul rantai pasok beras yang sebelumnya nyaris tidak berjalan.

Persoalan tersebut disampaikan dalam sebuah forum internal perusahaan yang membahas evaluasi kinerja penyerapan gabah dan penyaluran beras. Bos Bulog menilai publik perlu memahami akar masalahnya, bukan hanya melihat gejalanya di permukaan berupa fluktuasi harga yang dirasakan konsumen.

Dua Persoalan yang Diungkap Bos Bulog

Menurut Direktur Utama Perum Bulog, ada dua masalah utama yang membuat rantai pasok beras dalam negeri tidak bekerja secara optimal. Kedua persoalan itu saling berkaitan dan sama-sama berakar pada persoalan struktural yang telah berlangsung lama.

Pertama: Produksi dan Pasokan Gabah yang Tidak Stabil

Masalah pertama menyangkut sisi produksi. Pasokan gabah dalam negeri dinilai tidak stabil akibat sejumlah faktor, mulai dari gangguan cuaca yang menggeser musim tanam dan panen, penyusutan lahan pertanian, hingga keterbatasan akses petani terhadap sarana produksi. Ketidakstabilan ini membuat perencanaan penyerapan menjadi lebih rumit karena volume gabah yang tersedia di pasar tidak selalu sesuai dengan perkiraan awal.

Ketika pasokan melimpah pada periode tertentu, harga di tingkat petani cenderung tertekan. Sebaliknya, saat pasokan menipis, harga bergerak naik dengan cepat. Pola naik-turun yang tajam inilah yang kemudian menyulitkan semua pihak, termasuk Bulog sebagai pelaksana kebijakan cadangan beras pemerintah.

Kedua: Tata Niaga dan Rantai Distribusi yang Panjang

Masalah kedua menyangkut tata niaga. Rantai distribusi gabah dan beras dari petani hingga konsumen dinilai masih terlalu panjang dan melibatkan banyak perantara. Akibatnya, selisih harga antara tingkat petani dan harga di pasar konsumen menjadi lebar, sementara nilai tambah yang seharusnya dinikmati petani justru terpotong di sepanjang perjalanan.

Bulog menilai kondisi ini diperparah oleh lemahnya keterhubungan antara data produksi, data stok, dan keputusan pembelian. Tanpa data yang akurat, intervensi kebijakan berisiko datang terlambat atau tidak tepat sasaran. Dua persoalan itu, kata Dirut Bulog, menjadi pintu masuk bagi munculnya persoalan-persoalan turunan di lapangan.

Fenomena "Bangkit dari Mati"

Dari dua persoalan tersebut, menurut Bos Bulog, muncul satu dampak yang menarik untuk dicermati. Ia menyebut ada pelaku usaha di rantai pasok beras yang sebelumnya praktis tidak beroperasi, kini kembali hidup atau "bangkit dari mati".

Kebangkitan itu terjadi ketika Bulog memperluas dan mempercepat penyerapan gabah petani dengan harga pembelian yang ditetapkan pemerintah. Ketika pembelian berjalan lancar dan pembayaran dilakukan cepat, penggilingan-penggilingan kecil yang sempat berhenti beroperasi karena tidak mendapat pasokan gabah kembali menggeliat. Aktivitas ekonomi di tingkat bawah, termasuk tenaga kerja harian dan pengangkutan, ikut bergerak kembali.

Namun Bos Bulog mengingatkan bahwa kebangkitan tersebut tidak boleh dipahami sebagai solusi permanen. Jika dua masalah pokok tidak diselesaikan, kondisi itu bisa berbalik lagi. Penggilingan yang kembali hidup bisa mati suri lagi ketika pasokan gabah menipis atau ketika harga di pasar tidak lagi sejalan dengan kebijakan pembelian pemerintah.

Implikasi bagi Harga dan Stok Beras

Dalam paparannya, Direktur Utama Perum Bulog menegaskan bahwa stabilitas harga beras sangat bergantung pada kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Cadangan beras pemerintah berfungsi sebagai penyangga ketika pasar bergerak tidak wajar, baik karena panen yang tertunda maupun karena lonjakan permintaan.

Karena itu, penyerapan gabah dalam negeri menjadi prioritas. Bulog menyatakan terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, koperasi, dan kelompok tani agar gabah petani dapat terserap dengan harga yang layak. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan mengandalkan pasokan luar negeri sebagai jalan pintas.

Langkah Perbaikan yang Disiapkan

Untuk mengatasi dua persoalan tersebut, Bulog menyiapkan sejumlah langkah. Pertama, penguatan data produksi dan stok hingga tingkat wilayah agar keputusan pembelian lebih presisi. Kedua, pemangkasan rantai distribusi melalui kemitraan langsung dengan petani dan koperasi. Ketiga, percepatan pembayaran kepada mitra agar arus kas pelaku usaha kecil tidak terganggu.

Selain itu, Bulog menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga, mulai dari urusan produksi, irigasi, hingga perdagangan. Menurut Dirut Bulog, masalah pangan tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja karena sifatnya yang lintas sektor.

Pelajaran bagi Kebijakan Pangan

Pengungkapan dua masalah ini memberi gambaran bahwa persoalan beras di Indonesia tidak berhenti pada soal tersedia atau tidaknya stok. Persoalan sesungguhnya terletak pada bagaimana pasokan dikelola, bagaimana harga dibentuk di sepanjang rantai distribusi, dan bagaimana negara hadir secara tepat waktu.

Bos Bulog menegaskan bahwa perbaikan tata kelola menjadi kunci. Tanpa itu, fenomena "bangkit dari mati" hanya akan menjadi siklus yang berulang: satu simpul rantai pasok hidup sebentar, lalu kembali lesu ketika persoalan lama tidak pernah benar-benar dibereskan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter