Infografis: Update Kebakaran Hutan Kalteng dan Sumsel
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menjadi wilayah yang terdampak parah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau tahun ini. Data terkini menunjukkan bahwa kondisi di kedua provinsi ini terus memburuk sejak pertengahan Agustus lalu, dengan ratusan hektar lahan hangus dan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Kondisi di Kalimantan Tengah
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 20 September 2023, total titik api yang terdeteksi di Kalimantan Tengah telah mencapai 1.243 titik. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 856 titik. Sebagian besar titik api tersebar di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, dan Kabupaten Katingan.
Dampak kebakaran hutan terasa sangat nyata di wilayah ini. Kabupaten Kotawaringin Barat dilaporkan mengalami kabut asap tebal selama seminggu terakhir, dengan konsentrasi partikulat PM10 yang mencapai 1.200 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas aman 150 mikrogram per meter kubik. Akibatnya, ratusan warga mengalami gangguan pernafasan, termasuk anak-anak dan lansia.
Pihak berwenang telah melakukan berbagai upaya penanggulangan. Sebanyak 15 unit pesawat AT-802 yang disediakan oleh TNI AU terus melakukan operasi penyiraman air (water bombing) di titik-titik api yang sulit diakses. Selain itu, ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan turun langsung untuk memadamkan api di lapangan. Walau demikian, upaya ini terhambat oleh kondisi cuaca yang kering dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api.
Situasi di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, kondisi kebakaran hutan juga mengkhawatirkan. Data dari Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) menunjukkan terdapat 987 titik api yang tersebar di 19 kabupaten/kota di provinsi ini. Kabupaten Ogan Ilir, Muara Enim, dan Banyuasin menjadi daerah dengan jumlah titik api terbanyak.
Kebakaran hutan di Sumsel telah mengakibatkan lahan seluas 12.500 hektar hangus, yang 60% di antaranya adalah lahan gambut. Kondisi ini semakin memperparah bencana karena lahan gambut sangat sulit dipadamkan dan cenderung menyala kembali meskipun sudah didinginkan. Selain itu, asap dari kebakaran hutan juga telah menyebar ke kota-kota besar seperti Palembang dan Prabumulih, menyebabkan penurunan kualitas udara drastis.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah mengaktifkan posko penanganan karhutla di kabupaten/kota yang berpotensi terdampak. "Kita telah mempersiapkan 1.500 personel dan 30 unit alat berat untuk penanganan darurat. Selain itu, kita juga melakukan pembukaan kanal untuk mengendalikan air ke lahan gambut," jelasnya dalam konferensi pers pada Rabu (20/9).
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Dampak karhutla tidak hanya terasa di lokasi kejadian tetapi juga berdampak luas. Kualitas udara di sekitar wilayah terdampak jauh menurun. Di Kalteng, indeks standar polutan udara (ISPU) di beberapa titik mencapai level 300 yang berkategori "Tidak Sehat". Demikian pula di Sumsel, ISPU di Palembang beberapa kali mencapai level berbahaya di atas 400.
Dampak kesehatan juga mulai terlihat. RSUD Pangkalan Bun di Kalteng melaporkan adanya peningkatan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan hingga 40% sejak seminggu terakhir. Sementara itu di Sumsel, RSUD Palembang mengalami peningkatan pasien asma dan infeksi saluran pernafasan atas.
Upaya Penanganan dan Mitigasi
Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengirimkan tim penanggulangan bencana ke kedua provinsi. Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan, termasuk pemantauan satelit untuk deteksi dini titik api dan penyiagaan tim rapid response di seluruh Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan teknologi modern dalam penanganan karhutla. "Kita menggunakan teknologi seperti sistem pemantauan satelit, drone untuk identifikasi titik api, dan sistem informasi geografis untuk memetakan area berisiko tinggi. Semua ini untuk mempercepat respons dan efektivitas penanganan," jelas Siti Nurbaya.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan melakukan pencegahan dengan tidak membakar lahan, memastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat, dan menggunakan masker saat aktivitas di luar ruangan. Pemerintah daerah juga telah mempersiapkan pusko kesehatan di tingkat desa untuk menangani dampak kesehatan akibat karhutla.
Dengan musim kemarau diperkirakan akan berlanjut hingga Oktober, pihak berwenang terus berupaya maksimal untuk mengendalikan situasi. Namun, koordinasi yang lebih baik antar pihak dan partisipasi masyarakat dianggap sebagai kunci utama dalam penanganan bencana karhutla yang kembali menghantui Indonesia setiap tahunnya.
Komentar (0)