Menhut Buka Suara soal Karhutla Meluas Kepung Kalimantan
Kepala Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Menhut) Siti Nurbaya Bakar memberikan keterangan resmi mengenai situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di Pulau Kalimantan. Menurutnya, kondisi saat ini memang menjadi perhatian serius pemerintah mengingat semakin memburuknya cuaca akibat dampak El Nino yang sedang berlangsung.
Dalam keterangannya yang disiarkan secara langsung, Menhut mengakui bahwa jumlah titik api di Kalimantan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. "Saat ini kita melihat peningkatan titik api di beberapa provinsi di Kalimantan, terutami di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan," ujar Siti Nurbaya Bakar pada konferensi pers yang digelar di Jakarta, Rabu (15/11).
Upaya Pemadaman Massal
Pemerintah telah menggerakkan berbagai sumber daya untuk melakukan upaya pemadaman secara masif. Sebanyak 1.500 personel dari TNI/Polri, Basarnas, serta petugas pemadam kebakaran dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) telah diterjunkan ke lokasi. Selain itu, 20 unit pesawat yang terdiri dari 11 pesawat water bomber dan 9 pesawat Hercules telah disiagakan untuk membantu operasi pemadaman dari udara.
"Kita telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk penanganan karhutla tahun ini. Anggaran ini digunakan untuk operasi pemadaman, restorasi lahan, dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di masa depan," jelas Menhut.
Penyebab Utama Kebakaran
Menurut data yang dihimpun KLHK, sebagian besar kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan disebabkan oleh aktivitas perkebunan yang tidak bertanggung jawab. "Ada sekitar 80% dari total titik api yang teridentifikasi berada di dalam area perkebunan. Ini menunjukkan bahwa masih ada praktik yang tidak bertanggung jawab dalam mengelola lahan," tegas Siti Nurbaya.
Pemerintah telah melakukan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. "Kami telah menetapkan beberapa perusahaan sebagai tersangka dalam kasus karhutla tahun ini. Kami akan menindak tegas sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kebakaran Hutan dan Lahan," tambahnya.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan
Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Kalimantan telah menyebabkan dampak serius terhadap kualitas udara. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa kota seperti Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarmasin telah mencapai kategori tidak sehat bahkan berbahaya. "Kita melihat peningkatan drastis kasus gangguan pernafasan, terutama pada anak-anak dan lanjut usia, di wilayah yang terkena dampak asap," ujar juru bicara Kementerian Kesehatan.
Selain itu, kebakaran hutan juga mengancam keberlanjutan proyek orangutan di Kalimantan. Menurut World Wildlife Fund (WWF), sekitar 500 orangutan terancam hilang habitatnya akibat kebakaran hutan yang meluas di beberapa kawasan konservasi.
Langkah Jangka Panjang
Untuk mengatasi masalah ini secara menyeluruh, pemerintah berencana melakukan sejumlah langkah jangka panjang. "Kita perlu melakukan perubahan paradigma dalam pengelolaan lahan. Tidak bisa lagi kita mengandalkan cara-cara konvensional yang berpotensi menyebabkan kebakaran," kata Menhut.
Beberapa langkah yang akan diambil antara lain adalah percepatan program moratorium penebangan hutan, penguatan pengawasan di area perkebunan, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan. "Kami juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak swasta untuk mengembangkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan," tambahnya.
Dengan situasi El Nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun depan, pemerintah meminta seluruh pihak untuk bersiaga dan ikut serta dalam pencegahan karhutla. "Kita perlu sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini," pungkas Siti Nurbaya Bakar.
Komentar (0)