19, 2026
Internasional

Israel Jadi Negara Paling Dibenci Dunia, 3 Tahun Gempur Gaza

Israel menjadi negara paling dibenci di dunia menurut Democracy Perceptions Index 2026, dengan kritik internasional meningkat akibat konflik di Gaza.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Israel Jadi Negara Paling Dibenci Dunia, 3 Tahun Gempur Gaza

Israel Dinilai sebagai Negara Paling Dibenci di Dunia

Israel kembali menjadi sorotan internasional setelah sebuah studi global menempatkannya sebagai negara paling dibenci di dunia. Hasil survei ini muncul seiring konflik berkepanjangan di wilayah Palestina, khususnya di Gaza, yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Konflik ini telah mengakibatkan korban jiwa besar di kedua sisi serta menimbulkan kritik internasional yang signifikan terhadap kebijakan militer Israel.

Survei Global tentang Persepsi Negara

Survei yang dilakukan oleh lembaga riset independen ini mengukur persepub publik terhadap berbagai negara di seluruh dunia. Dalam penilaian tersebut, Israel mendapatkan peringkat terendah dalam hal persepsi positif. Hasil ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam sentimen negatif terhadap Israel sejak konflik di Gaza memanas tiga tahun lalu.

Survei ini melibatkan ribuan responden dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam. Meskipun persepsi negatif terhadap Israel umumnya tinggi di negara-negara dengan mayoritas Muslim, peneliti menemukan bahwa sentimen negatif juga meningkat di beberapa negara Barat, terutama di kalangan generasi muda.

Konflik Gaza Berlangsung Tiga Tahun

Konflik di Gaza telah berlangsung selama tiga tahun dengan periode gencatan senjata yang singkat dan terputus-putus. Konfiksi ini dimulai pada tahun 2020 ketika ketegangan antara Israel dan Hamas, yang menguasai Gaza, mencapai titik kritis. Sejak itu, terjadi serangkaian serangan militer dari kedua sisi yang mengakibatkan ribuan korban jiwa, sebagian besar di antaranya warga sipil Palestina.

Israel menyatakan bahwa operasi militernya diperlukan untuk mencegah serangan roket dari Gaza dan menghancurkan infrastruktur militer Hamas. Sementara itu, Hamas dan organisasi Palestina lainnya menuduh Israel melakukan pembantaian terhadap warga sipil dan melancarkan pendudukan ilegal terhadap wilayah Palestina.

Dampak Kemanusiaatan

Konfik di Gaza telah mengakibatkan krisis kemanusiaatan yang parah. Infrastruktur kesehatan, rumah susun, sekolah, dan fasilitas umum lainnya hancur akibat serangan militer. PBB dan organisasi kemanusiaatan internasional telah berulang kali menyatakan kekhawatiran mereka terhadap kondisi warga Gaza, terutama terkait akses terhadap air bersih, makanan, dan perawatan medis yang memadai.

Koordinator Urusan Kemanusiaan PBB untuk Palestina menyatakan bahwa situasi di Gaza mencapai titik kritis dengan tingkat kelaparan yang meningkat drastis dan sistem kesehatan yang hampir runtuh. "Kami melihat situasi yang tidak manusiawi di mana anak-anak dan warga sipil menjadi korban utama dari konflik yang berkepanjangan ini," ujarnya dalam sebuah konferensi pers.

Reaksi Internasional

Konflik di Gaza telah memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional. Beberapa negara dan organisasi internasional telah mengutuk keras tindakan Israel dan menyerukan gencatan senjata segera. Sementara itu, beberapa negara lain, terutama Amerika Serikat, tetap mendukung hak Israel untuk membela diri diri dari serangan.

Dewan Keamanan PBB telah mengadakan beberapa pertemuan darurat untuk membahas situasi di Gaza, namun kesepakatan untuk menghentikan kekerasan seringkali sulit dicapai karena adanya veto dari anggota tetap tertentu. Mahkamah Internasional juga sedang meninjau tuduhan genosida terhadap Israel yang diajukan oleh Afrika Selatan.

Masa Depan Konflik

Masa depan konflik di Gaza tetap tidak pasti dengan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Beberapa analis memperkirakan bahwa konflik akan terus berlanjut dengan intensitas yang bervariasi, sementara yang lain berharap adanya tekanan internasional yang lebih besar untuk mencapai solusi politik jangka panjang.

Para pemimpin Palestina telah menekankan perlunya solusi dua negara sebagai satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Sementara itu, pemerintah Israel menekankan keamanan sebagai prioritas utama dan menolak kompromi terhadap wilayah yang mereka anggap sebagai bagian integral dari negara Israel.

Dengan konflik yang terus berlanjutan dan korban jiwa terus bertambah, israel tetap menjadi subjek perdebatan global dan sentimen negatif terhadap negara ini kemungkinan akan terus meningkat hingga solusi yang adil dan berkelanjutan ditemukan untuk konfik di Palestina.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter