Jakarta Peringkat 140 dari 1.000 Kota Terbaik Dunia
Jakarta kembali masuk dalam daftar kota terbaik dunia yang dirilis oleh lembaga pemeringkat global. Dalam laporan bertajuk World's Best Cities 2026 yang disusun oleh Resonance Consultancy, ibu kota Indonesia itu menempati peringkat 140 dari 1.000 kota yang dinilai. Posisi tersebut menempatkan Jakarta di kelompok menengah, jauh di bawah sejumlah kota besar Asia Tenggara lain, tetapi masih lebih baik dibandingkan banyak kota metropolitan di kawasan lain.
Laporan tersebut menilai kota-kota berdasarkan kombinasi indikator yang mencakup kualitas hidup, daya tarik wisata, kekuatan ekonomi, konektivitas, serta reputasi global. Resonance Consultancy menggunakan data dari berbagai sumber, termasuk statistik resmi, platform digital, dan survei persepsi, untuk menentukan peringkat akhir setiap kota. Penilaian tidak hanya melihat infrastruktur fisik, tetapi juga citra sebuah kota di mata wisatawan, investor, dan penduduk.
Posisi Jakarta di Antara Kota Dunia
Dengan peringkat 140, Jakarta berada di atas sejumlah kota besar dunia seperti beberapa kota di Amerika Latin dan Eropa Timur. Namun, Jakarta masih tertinggal dari Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok yang biasanya menempati posisi lebih tinggi dalam berbagai indeks kota global. Kesenjangan ini terutama terlihat pada aspek kualitas hidup, transportasi publik, dan keberlanjutan lingkungan.
Meski demikian, Jakarta mencatat sejumlah capaian yang dinilai positif. Laporan itu menyoroti pertumbuhan ekonomi kota yang tetap kuat, jumlah penduduk muda yang besar, serta geliat sektor kreatif dan digital. Pembangunan infrastruktur seperti jaringan transportasi massal, termasuk MRT dan LRT, turut menjadi pertimbangan yang mengangkat posisi Jakarta dibandingkan periode sebelumnya.
Resonance Consultancy juga menyoroti peran Jakarta sebagai pusat bisnis dan keuangan di kawasan. Keberadaan kantor pusat perusahaan besar, aktivitas perdagangan, serta meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dinilai menjadi faktor pendukung. Namun, tantangan klasik seperti kemacetan, polusi udara, dan ketimpangan antarwilayah masih menjadi catatan yang menahan laju peringkat Jakarta.
Faktor yang Menentukan Peringkat
Metodologi pemeringkatan kota terbaik dunia umumnya mencakup enam dimensi utama, yakni tempat, produk, manusia, program, promosi, dan profit. Dimensi tempat menilai kualitas lingkungan dan cuaca, produk mengukur institusi dan infrastruktur, manusia melihat keberagaman dan pendidikan, program menilai budaya serta hiburan, promosi menghitung reputasi digital dan wisata, sedangkan profit mengukur kekuatan ekonomi dan pasar kerja.
Dalam sejumlah dimensi tersebut, Jakarta memiliki nilai kuat pada aspek profit dan manusia karena besarnya pasar domestik dan jumlah penduduk usia produktif. Sebaliknya, nilai Jakarta cenderung lemah pada aspek tempat, terutama terkait kualitas udara dan ruang terbuka hijau. Polusi udara menjadi persoalan yang berulang kali disorot dalam berbagai laporan internasional, termasuk oleh lembaga kesehatan dan lingkungan.
Pemerintah Provinsi Jakarta telah mencanangkan berbagai program untuk memperbaiki indikator tersebut, mulai dari penambahan ruang terbuka hijau, uji emisi kendaraan, hingga percepatan elektrifikasi transportasi publik. Program-program ini dinilai sebagai langkah awal, meski dampaknya belum sepenuhnya terlihat dalam pemeringkatan tahunan.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Peringkat 140 dari 1.000 kota terbaik dunia dapat dibaca sebagai posisi yang kompetitif sekaligus tantangan. Dengan jumlah kota yang dinilai mencapai seribu, berada di peringkat 140 berarti Jakarta masuk dalam 14 persen teratas kota dunia. Namun, apabila dibandingkan dengan target menjadi kota global kelas satu, posisi tersebut masih memerlukan perbaikan signifikan di banyak sektor.
Beberapa kalangan menilai Jakarta perlu memperkuat aspek transportasi publik yang terintegrasi, memperluas ruang terbuka hijau, serta meningkatkan kualitas layanan dasar bagi seluruh penduduk. Selain itu, pengelolaan lingkungan dan penanganan banjir menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda mengingat posisi Jakarta sebagai kota pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim.
Di sisi lain, pemindahan pusat pemerintahan ke Nusantara tidak otomatis menurunkan daya saing Jakarta. Kota ini tetap menjadi pusat ekonomi, keuangan, dan budaya nasional dengan populasi yang besar dan aktivitas bisnis yang dinamis. Dengan strategi pembangunan yang tepat, Jakarta berpeluang menaikkan peringkatnya dalam beberapa tahun mendatang.
Pemeringkatan kota pada akhirnya bukan sekadar soal angka, tetapi cerminan bagaimana sebuah kota dikelola dan dipersepsikan. Posisi Jakarta di peringkat 140 dari 1.000 kota terbaik dunia menjadi potret sekaligus pemicu untuk terus membenahi kualitas hidup warganya.
Komentar (0)