Jakmania Ketakutan Pulang usai Ricuh di Markas Persita, Polisi Turun Tangan
Insrik kekerasan yang melanda laga Persita Tangerang kontra Persija Jakarta di Stadasion PTIK, Jakarta pada Sabtu (16/10/2021) berdampak serius bagi para pendukung Persija yang dikenal dengan sebutan Jakmania. Setelah pertandingan berakhir dengan skor 1-1, suasana menjadi tidak kondusif dan berujung pada kerusuhan yang melibatkan kedua kelompok suporter. Polisi pun harus turun tangan untuk mengamankan situasi.
Insiden Terjadi di Akhir Laga
Kerusuhan terjadi menit-menit akhir pertandingan saat kedua tim sedang bertarung untuk memperebutkan kemenangan. Persita yang unggul lebih dulu melalui gol Firman Utina pada menit ke-40, harus menyerah kepada Persija yang berhasil menyamakan skor lewat gol Fabiano Belan pada menit ke-83. Skor imas 1-1 membuat kedua kelompok suporter saling provokasi.
Saat wasit meniupkan peluit tanda pertandingan usai, beberapa Jakmania terlihat mendekati tribun yang ditempati oleh suporter Persita. Adegan ini memicu adu mulut dan saling lempar benda antara kedua kubu. Bebatuan, botol minuman, dan benda tajam lainnya terlihat terbang di antara kedua kelompok suporter.
Polisi Terpaksa Bertindak
Situasi yang semakin memanas membuat aparat kepolisian yang berjaga terpaksa turun tangan. Mereka membentuk barikade untuk memisahkan kedua kelompok suporter yang sudah saling menyerang. Polisi menggunakan senjata non-letal seperti water canon dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang sudah tidak terkendali.
"Kami harus mengambil langkah tegas karena situasi sudah membahayakan keselamatan warga di sekitar stadion," kata Kepala Polisi Sektor (Polsek) Metro Kebayoran Baru, Komisur Ahmad Yani, saat memberikan keterangan pers.
Evakuasi Jakmania
Dalam insiden ini, puluhan Jakmania mengalami luka ringan akibat terkena lemparan batu dan botol. Mereka segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Beberapa di antaranya mengaku merasa ketakutan saat harus pulang ke Jakarta.
"Saya takut pulang karena khawatir akan dihadang oleh kelompok lain. Tapi polisi sudah menjamin kami akan diamankan sampai ke tempat yang aman," ucap salah satu Jakmania yang enggan menyebut namanya.
Setelah situasi dinyatakan kondusif, polisi mengamankan para Jakmania yang masih berada di stadion dan membawa mereka ke posko pengungsian sementara. Di sana, mereka akan diamankan hingga siap untuk dievakuasi ke Jakarta dengan pengamanan yang memadai.
Respon Klub dan PSSI
Persita Tangerang yang menjadi tuan rumah dalam laga ini menyesalkan kejadian yang menimpa suporter mereka. Manajemen klub menyatakan akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menyelidiki insiden tersebut dan menindak pelaku sesuai aturan yang berlaku.
"Kami menyesalkan terjadinya aksi kekerasan yang merusak sportivitas. Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan hal seperti ini tidak terulang lagi di masa depan," ujar Ketua Umum Persita Tangerang, Eki Arief.
Sementara itu, Persija Jakarta juga mengutuk keras kejadian yang menimpa suporter mereka. Klub biru ini meminta agar kompetisi bisa berjalan tanpa adanya aksi kekerasan yang merugikan semua pihak.
"Kami meminta kepada semua pihak untuk menjaga sportivitas. Persija selalu mendukung pertandingan yang fair play dan bebas dari kekerasan," kata Manajer Umum Persija, Muhammad Hidayat.
PSSI sebagai pengelola kompetisi juga menyatakan akan menyelidiki insiden ini secara mendalam. Komisi Disiplin PSSI akan memanggil seluruh pihak terkait, termasuk kedua klub, aparat kepolisian, dan perwakilan suporter untuk memberikan keterangannya.
Dampak pada Kompetisi
Insiden ini tentu memberikan dampak buruk bagi sepak bola Indonesia. Kompetisi Liga 1 yang tengah berjalan harus berhadapan dengan imbas negatif dari kekerasan suporter. PSSI perlu mengambil langkah tegas untuk mencegah terulangnya insiden serupa di pertandingan-pertandingan selanjutnya.
"Kami akan mengevaluasi keamanan di setiap pertandingan. Keamanan harus menjadi prioritas utama agar kompetisi bisa berjalan dengan baik," kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.
Dengan adanya insiden ini, kembali menyoroti masalah yang masih melekat di sepak bola Indonesia, yaitu masalah suporter yang sering kali tidak bisa mengendalikan emosi saat menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar sepak bola Indonesia bisa lebih berkembang positif di masa depan.
Komentar (0)