30, 2026
Olahraga

John Herdman Bongkar Sisi Gelap Sepak Bola ASEAN, Timnas Indonesia Diminta Waspada

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/07/18/6a5b72e3ed774-john-herdman-puji-fasilitas-bali-united-training-center_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Mantan pelatih Timnas Kanada dan Timnas Selandia Baru, John Herdman, kembali menjadi sorotan publik sepak bola Asia Tenggara. Sosok yang kini menangani proyek pengembangan sepak bola di kawasan tersebut mengungkap sejumlah persoalan struktural yang selama ini dianggap tabu di sepak bola ASEAN. Pernyataannya itu muncul di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi baru di bawah kepemimpinan federasi saat ini.

Kritik terhadap Budaya Instan di Sepak Bola ASEAN

Herdman menilai salah satu persoalan paling mendasar di sepak bola ASEAN adalah budaya instan yang menuntut hasil cepat tanpa mau membangun proses jangka panjang. Menurutnya, banyak federasi di kawasan ini lebih memilih solusi jangka pendek, seperti mendatangkan pelatih asing mahal atau pemain naturalisasi dalam jumlah besar, ketimbang membenahi fondasi pembinaan usia dini, kurikulum kepelatihan, dan kualitas kompetisi domestik.

Ia menyebut pola tersebut sebagai lingkaran setan. Ketika hasil tidak datang dalam satu atau dua tahun, kursi pelatih menjadi taruhan, program dibongkar, dan pembangunan dimulai lagi dari nol. Menurut Herdman, siklus ini membuat sepak bola ASEAN selalu berputar di tempat dan sulit mengejar negara-negara Asia Timur maupun Timur Tengah yang jauh lebih serius dalam perencanaan jangka panjang.

Pengalaman Herdman menangani Selandia Baru dan Kanada menjadi dasar argumennya. Di kedua negara itu, ia membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan hingga menghasilkan generasi pemain yang mampu bersaing di level internasional. Ia menegaskan bahwa hasil di lapangan adalah konsekuensi dari sistem yang rapi, bukan dari keajaiban sesaat.

Tekanan Politik dan Intervensi di Balik Kursi Pelatih

Selain soal budaya instan, Herdman juga menyoroti tekanan nonteknis yang kerap menghantui pelatih di kawasan ASEAN. Ia menyebut adanya intervensi dari berbagai pihak, mulai dari kepentingan politik, bisnis, hingga tekanan suporter, yang membuat pelatih tidak memiliki kebebasan penuh dalam mengambil keputusan teknis.

Menurutnya, seorang pelatih seharusnya diberi ruang untuk memilih pemain, menyusun strategi, dan menetapkan disiplin tanpa harus mempertimbangkan tekanan dari luar. Ketika keputusan teknis dicampuri oleh kepentingan nonteknis, ia menilai produk akhir di lapangan akan selalu jauh dari harapan.

Ia menambahkan, salah satu indikator sehatnya sebuah federasi adalah kemampuan melindungi staf pelatih dari tekanan tersebut. Federasi yang kuat, kata dia, berani mengambil peran sebagai tameng antara pelatih dan berbagai kepentingan yang mencoba masuk ke ruang ganti.

Peringatan untuk Timnas Indonesia

Pernyataan Herdman ini kemudian dikaitkan dengan situasi Timnas Indonesia. Meski tidak menyebut Indonesia secara eksplisit, berbagai kalangan menilai peringatan tersebut relevan dengan dinamika yang tengah terjadi di Tanah Air. Indonesia saat ini berada di fase pembangunan yang cukup menjanjikan, dengan investasi besar di sektor pembinaan, pembangunan fasilitas latihan, serta keterlibatan pelatih-pelatih berkualitas di level klub maupun tim nasional.

Namun, sejumlah pengamat menilai fondasi itu masih rentan terhadap gejolak jangka pendek. Target tinggi di berbagai ajang internasional, ekspektasi suporter yang meledak-ledak, serta tekanan publik setelah hasil buruk, berpotensi mendorong pengambilan keputusan yang terburu-buru dan bertentangan dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, pesan Herdman dianggap penting. Kunci keberhasilan bukan hanya soal siapa pelatihnya atau berapa pemain berkualitas yang dimiliki, melainkan konsistensi arah pembinaan, kesabaran dalam menunggu hasil, dan keberanian federasi untuk melindungi proses dari intervensi yang merusak.

Fasilitas Bukan Jaminan Prestasi

Herdman juga mengingatkan bahwa fasilitas megah dan pusat latihan modern tidak otomatis melahirkan prestasi. Infrastruktur hanya alat; yang menentukan adalah kualitas kurikulum, kompetensi pelatih usia dini, jumlah jam latihan berkualitas, serta volume pertandingan kompetitif bagi pemain muda.

Pernyataan ini relevan bagi Indonesia yang tengah gencar membangun sarana olahraga, termasuk pusat latihan yang dikelola klub-klub peserta liga. Menurut Herdman, tanpa sistem yang benar, fasilitas mahal hanya akan menjadi bangunan tanpa dampak nyata pada kualitas pemain.

Menuju Perubahan yang Lebih Mendasar

Di akhir, Herdman menegaskan bahwa sepak bola ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki potensi besar. Jumlah penduduk, minat publik yang luar biasa, dan pertumbuhan ekonomi menjadi modal penting. Namun, potensi itu hanya akan berbuah jika seluruh pemangku kepentingan bersedia mengubah cara berpikir dari jangka pendek menjadi jangka panjang, dari pencitraan menjadi pembinaan, dan dari reaksi sesaat menjadi strategi berkelanjutan.

Bagi Timnas Indonesia, pesan itu menjadi cermin. Keberhasilan jangka panjang bukan soal seberapa cepat prestasi datang, melainkan seberapa kokoh sistem dibangun dan seberapa konsisten arah pembinaan dijaga dari tekanan sesaat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter