30, 2026
Nasional

Jokowi Alami Delay dan Batal Transit di Jakarta Dampak Erupsi Anak Krakatau

Jokowi mengalami delay dan batal transit di Jakarta akibat erupsi Gunung Anak Krakatau saat pulang dari Malaysia. Penerbangan terpaksa diganti.]]>

Reza Setiawan
Reza Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Jokowi Alami Delay dan Batal Transit di Jakarta Dampak Erupsi Anak Krakatau

Jokowi Alami Delay dan Batal Transit di Jakarta Akibat Erupsi Anak Krakatau

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengalami penundaan dan pembatalan transit di Jakarta pada Selasa (19/11) lalu. Penundaan ini terjadi akibat dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan gangguan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Kondisi ini memaksa Presiden untuk langsung kembali ke Jakarta dari Riau tanpa transit seperti yang telah direncanakan sebelumnya.

Perjalanan Presiden Terhambat Erupsi

Awalnya, Presiden Jokowi merencanakan untuk transit singkat di Jakarta setelah menyelesaikan agenda kerja di Provinsi Riau. Namun, rencana ini harus dibatalkan karena Bandara Soekarno-Hatta, pintu gerbang utama penerbangan di ibu kota, terpaksa ditutak sementara waktu. Penutupan ini disebabkan oleh abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan kondisi penerbangan tidak aman.

Menurut informasi dari Staf Khusus Presiden, Heru Budi Hartono, Presiden memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta menggunakan pesawat dari Pekanbaru, tanpa transit di Jakarta seperti yang semula direncanakan. "Pak Presiden memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta dari Pekanbaru karena kondisi Bandara Soetta yang ditutup sementara akibat abu vulkanik," ujar Heru dalam keterangannya.

Erupsi Anak Krakatau Mengganggu Penerbangan

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Senin (18/11) lalu menghasilkan kolom abu setinggi hingga 600 meter di atas puncak gunung. Aktivitas vulkanik ini menyebabkan penutupan ruang udara di sekitar wilayah Banten dan Lampung selama beberapa jam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan mengeluarkan peringatan dini untuk penerbangan di sekitar wilayah tersebut.

Kepala Penerangan Umum Bandara Soetta, Wiendho Aris Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya memutuskan menutup bandara sementara untuk mengantisipasi risiko keselamatan penerbangan. "Kami memutuskan untuk menutup bandara sementara karena adanya abu vulkanik dari Anak Krakatau. Keselamatan adalah prioritas utama kami," ujar Wiendho.

Presiden Tetap Fokus pada Tugas

Meskipun mengalami penundaan perjalanan, Presiden Jokowi tetap fokus melaksanakan tugas-tugasnya. Setiba di Jakarta, Presiden langsung melanjutkan agenda kerja yang sudah direncanakan sebelumnya. Presiden juga memberikan arahan terkait penanganan dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau kepada para pejabat terkait.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menekankan pentingnya antisipasi dini dan penyiagaan yang matang menghadapi bencana alam. "Kita harus selalu waspada dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. Terutama gunung berapi yang aktivitasnya sulit diprediksi," ujar Presiden.

Respons Pemerintah Terkait Erupsi

Pemerintah telah mengaktifkan posko darurat dan pusko operasi untuk mengantisipasi dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengimbau masyarakat di sekitak wilayah gunung untuk tetap waspada dan mematuhi arahan dari pihak berwenang.

Kepala BNPB, Doni Monardo, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiagakan tim SAR dan logistik darurat di wilayah terdampak. "Kami sudah menyiapkan tim SAR, posko darurat, dan logistik darurat. Kami juga terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi tersebut," jelas Doni.

Kondisi Anak Krakatau Masih Dipantau

Gunung Anak Krakatau yang merupakan hasil letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 terus dipantau oleh tim vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG). Hingga saat ini, status gunung ini masih berada pada level waspada (level II) dengan aktivitas vulkanik yang masih relatif tinggi.

Tim PVMBG terus melakukan pemantauan visual dan instrumental untuk melacak setiap perkembangan aktivitas gunung. "Kita terus memantau aktivitas Anak Krakatau. Sampai saat ini aktivitasnya masih tinggi dan kita berharap tidak ada peningkatan status ke level siaga," kata Kepala PVMBG, Kasbani.

Dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya terasa di sekitar lokasi, tetapi juga berpengaruh pada aktivitas penerbangan di beberapa wilayah di Indonesia. Pihak bandara-bandra di sekitar wilayah Banten dan Lampung terus memantau kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik untuk menentukan apakah penerbangan dapat berjalan lancar atau tidak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Reza Setiawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter