04, 2026
Ekonomi

Kabel Fiber Optik Harus Rapi, Jartatel Tawarkan Skema Konsorsium

Jartatel dorong kolaborasi pemerintah dan industri untuk penataan kabel serat optik. Tujuannya, jaga kualitas jaringan dan dukung UMKM tanpa bebankan APBD.]]>

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kabel Fiber Optik Harus Rapi, Jartatel Tawarkan Skema Konsorsium

Kabel Fiber Optik Harus Rapi, Jartatel Tawarkan Skema Konsorsium

Penataan kabel fiber optik di berbagai ruang publik maupun kawasan permukiman menjadi persoalan yang belum tuntas. Kondisi kabel yang menjuntai, melintang di atas jalan, hingga menempel pada tiang listrik tanpa pengikat yang memadai tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Jaringan yang semula dirancang untuk mempercepat konektivitas justru dapat berubah menjadi sumber masalah ketika pengelolaannya dilakukan secara sporadis oleh banyak penyedia layanan.

Persoalan ini muncul karena pertumbuhan penyedia jasa internet yang pesat tidak selalu diikuti dengan penataan infrastruktur yang terencana. Setiap operator memiliki jaringan sendiri, membangun jalur sendiri, dan dalam banyak kasus meletakkan kabel pada tiang yang sama tanpa koordinasi yang memadai. Akibatnya, satu tiang dapat menampung belasan bahkan puluhan kabel dari berbagai operator. Ketika satu kabel putus atau mengalami gangguan, proses perbaikannya pun menjadi rumit karena harus memilah jalur milik masing-masing penyedia.

Persoalan Kabel yang Menumpuk di Tiang dan Ruang Publik

Dalam pengamatan di sejumlah kawasan perkotaan, tumpukan kabel fiber optik terlihat menggantung rendah, sebagian bahkan menyentuh tajuk pohon atau nyaris menyentuh kendaraan yang melintas. Selain membahayakan pengguna jalan, kondisi ini juga menyulitkan petugas ketika melakukan pemeliharaan rutin. Pemerintah daerah di berbagai wilayah telah berulang kali meminta operator melakukan penataan, namun hasilnya sering kali tidak bertahan lama karena penambahan jalur baru terus terjadi.

Masalah lain yang kerap muncul adalah kabel yang terpasang tanpa izin atau tidak sesuai standar. Ada kabel yang diletakkan pada tiang milik perusahaan listrik negara tanpa perjanjian yang jelas, ada pula yang dipasang di tiang telekomunikasi milik pihak lain. Ketidakjelasan status pemasangan ini membuat tanggung jawab perawatan menjadi kabur. Ketika terjadi kabel putus, tidak jarang tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, sehingga perbaikan berlarut-larut dan mengganggu layanan internet pengguna.

Di sisi lain, penataan kabel membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Operator harus mengalokasikan anggaran untuk merapikan jalur, memasang pengikat, mengganti tiang yang sudah tidak layak, hingga memindahkan kabel ke jalur bawah tanah di kawasan tertentu. Bagi operator kecil, beban biaya ini bisa menjadi penghambat serius, terutama jika harus dilakukan secara mandiri tanpa dukungan skema pembiayaan yang memadai.

Skema Konsorsium sebagai Jalan Tengah

Menjawab persoalan tersebut, Jartatel menawarkan pendekatan konsorsium sebagai solusi penataan kabel fiber optik. Dalam skema ini, sejumlah operator yang memanfaatkan jalur atau tiang yang sama bergabung dalam satu wadah kerja sama untuk membagi beban pembangunan, perawatan, dan penataan infrastruktur. Alih-alih masing-masing membangun jalur sendiri secara paralel, para anggota konsorsium dapat menggunakan jalur bersama yang dikelola secara terpadu.

Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena mengurangi jumlah kabel yang terpasang di satu titik. Dengan jalur bersama, tumpukan kabel di tiang dapat ditekan secara signifikan. Penataan pun menjadi lebih mudah karena hanya ada satu pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan jalur tersebut. Operator anggota konsorsium cukup menyewa kapasitas sesuai kebutuhan, tanpa harus membangun infrastruktur dari nol.

Skema konsorsium juga membuka ruang bagi pembagian biaya yang lebih adil. Operator besar yang memiliki jumlah pelanggan banyak dapat menanggung porsi lebih besar, sementara operator kecil tidak terbebani biaya yang melampaui kapasitasnya. Dengan demikian, penataan kabel tidak lagi bergantung pada kemampuan satu pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang terkoordinasi.

Tantangan Implementasi dan Kebutuhan Regulasi

Meski menawarkan banyak keuntungan, skema konsorsium tidak lepas dari tantangan. Diperlukan kesepakatan yang jelas mengenai hak dan kewajiban setiap anggota, termasuk mekanisme penetapan tarif, pembagian beban biaya, serta penyelesaian sengketa bila terjadi perselisihan. Tanpa aturan main yang tegas, konsorsium berisiko berjalan lambat karena setiap keputusan harus dibahas bersama banyak pihak.

Selain itu, dukungan regulasi dari pemerintah menjadi kunci. Pemerintah daerah perlu menetapkan standar penataan kabel, termasuk ketinggian minimum, jarak antarkabel, serta kewajiban penggunaan jalur bersama di kawasan tertentu. Regulasi ini harus disertai penegakan yang konsisten agar tidak hanya menjadi imbauan tanpa efek. Insentif bagi operator yang tertib, misalnya kemudahan perizinan, dapat menjadi pendorong tambahan.

Partisipasi masyarakat juga tidak kalah penting. Laporan mengenai kabel yang menjuntai atau berpotensi membahayakan dapat membantu pengelola jaringan melakukan perbaikan lebih cepat. Keterlibatan warga menjaga fasilitas di lingkungan sekitar akan memperkuat upaya penataan yang dilakukan operator dan pemerintah.

Menuju Infrastruktur yang Tertata dan Berkelanjutan

Penataan kabel fiber optik bukan sekadar persoalan keindahan kota. Infrastruktur yang rapi berkaitan erat dengan kualitas layanan, keselamatan publik, dan keberlanjutan pengembangan jaringan di masa depan. Kabel yang tertata memudahkan deteksi gangguan, mempercepat perbaikan, dan mengurangi risiko kecelakaan. Bagi pengguna, dampaknya adalah layanan internet yang lebih stabil dan andal.

Skema konsorsium yang ditawarkan Jartatel dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan infrastruktur telekomunikasi yang lebih terpadu. Namun, keberhasilannya bergantung pada komitmen semua pihak, mulai dari operator, pemerintah, hingga masyarakat. Tanpa koordinasi yang kuat, tumpukan kabel di tiang dan ruang publik akan terus menjadi persoalan yang berulang setiap tahun.

Ke depan, model pengelolaan bersama semacam ini berpotensi menjadi standar baru dalam pembangunan jaringan fiber optik di Indonesia. Jika dijalankan dengan perencanaan yang matang dan pengawasan yang konsisten, penataan kabel tidak lagi menjadi beban yang saling dilempar antar pihak, melainkan tanggung jawab kolektif yang membawa manfaat bagi seluruh pengguna layanan telekomunikasi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter