Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung berbulan-bulan di sejumlah wilayah Indonesia kembali memunculkan pertanyaan lama: seberapa besar peran El Niño, dan seberapa besar peran manusia? Fenomena cuaca global itu memang memperpanjang musim kering dan memperbesar peluang api menyebar, tetapi sejumlah pengamat menilai iklim tidak bisa sendirian menanggung beban penyebab bencana tahunan ini.
Api yang membakar lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan diketahui bertahan lama, bahkan berbulan-bulan, karena bara dapat terus membakar di bawah permukaan tanah meski hujan telah mengguyur bagian atas. Kondisi itu membuat operasi pemadaman menjadi rumit dan mahal, serta menjelaskan mengapa titik api dapat muncul kembali di lokasi yang sama setelah dinyatakan padam.
El Niño dan Kekeringan yang Berpanjangan
El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi atmosfer global. Dampak yang paling terasa di Indonesia adalah berkurangnya pembentukan awan hujan, sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang daripada biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi kekeringan meteorologis pada periode El Niño.
Dalam kondisi curah hujan rendah, bahan bakar di lahan—serasah, ranting, dedaunan kering, dan lapisan gambut yang mengering—menjadi sangat mudah terbakar. Lahan gambut yang biasanya basah berubah menjadi bahan bakar padat yang sulit dipadamkan. Karena itu, para ahli kebakaran lahan secara umum sepakat bahwa tahun-tahun El Niño memiliki risiko karhutla yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun normal.
Namun, kesepakatan itu juga disertai catatan penting. Kekeringan ekstrem memang menciptakan kondisi yang mendukung kebakaran, tetapi tidak dengan sendirinya menyalakan api. Diperlukan sumber penyalaan, dan pada sebagian besar kasus karhutla di Indonesia, sumber penyalaan itu berkaitan dengan aktivitas manusia.
Faktor Non-Iklim yang Tak Bisa Diabaikan
Berbagai kajian dan laporan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar titik api muncul di area yang berdekatan dengan konsesi perkebunan, hutan tanaman industri, maupun lahan yang sedang dibuka oleh masyarakat. Pola ini melahirkan dugaan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar masih dipraktikkan karena dianggap paling murah dan cepat, terutama untuk menyiapkan lahan pertanian atau perkebunan.
Faktor lain adalah kondisi lahan gambut yang telah lama terkuras. Kanal-kanal drainase yang dibuat untuk mengeringkan gambut demi keperluan perkebunan membuat lahan kehilangan kemampuan menyimpan air. Ketika kemarau datang, gambut mengering hingga kedalaman tertentu dan menjadi sangat rentan terbakar. Dalam kondisi seperti itu, percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran bawah permukaan yang menjalar lambat tetapi sulit dihentikan.
Penegakan Hukum dan Efek Jera
Pemerintah telah beberapa kali menempuh jalur hukum terhadap perusahaan yang lahannya terbakar, termasuk gugatan perdata dan sanksi administratif. Meski demikian, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai penegakan hukum belum memberikan efek jera yang memadai. Proses pembuktian yang panjang, putusan yang bervariasi, serta kesulitan membuktikan siapa yang menyalakan api menjadi kendala yang berulang.
Kritik lain menyoroti lambatnya penanganan pada jam-jam pertama kemunculan titik api. Padahal, dalam kasus kebakaran gambut, semakin cepat api dilokalisasi, semakin kecil kemungkinan kebakaran menyebar dan bertahan berbulan-bulan.
Respons Pemerintah di Lapangan
Setiap kali karhutla membesar, pemerintah mengerahkan kombinasi upaya pemadaman darat dan udara. Tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta relawan masyarakat dikerahkan ke lokasi. Pesawat pembom air dan helikopter digunakan untuk menjangkau area yang sulit diakses darat.
Teknologi modifikasi cuaca juga diterapkan dengan menyemai awan menggunakan garam untuk memicu hujan buatan di wilayah terdampak. Metode ini dinilai membantu, tetapi sangat bergantung pada ketersediaan awan yang layak disemai. Pada puncak kemarau ekstrem, awan sering kali tidak cukup tersedia sehingga efektivitasnya menurun.
Dampak yang Menumpuk
Karhutla yang berlangsung lama menimbulkan dampak berlapis. Kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia, serta meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut. Asap juga mengganggu aktivitas sekolah, penerbangan, dan transportasi darat.
Dari sisi ekonomi, kerugian muncul dari terganggunya aktivitas usaha, hilangnya hasil pertanian, dan biaya pemadaman yang besar. Pada tingkat global, kebakaran lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah signifikan karena gambut menyimpan karbon yang telah terakumulasi ribuan tahun. Kerusakan gambut juga berdampak jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis lahan.
Di tingkat regional, asap lintas batas pernah memicu ketegangan diplomatik antarnegara ASEAN. Kesepakatan ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas yang disepakati pada 2002 menjadi kerangka kerja sama, meski implementasinya masih menjadi bahan perdebatan.
El Niño Bukan Satu-satunya Penjelasan
Menempatkan El Niño sebagai penyebab utama karhutla tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak lengkap. El Niño menjelaskan mengapa api mudah menyebar dan sulit dipadamkan; ia tidak menjelaskan mengapa api dinyalakan. Dengan kata lain, iklim berperan sebagai pengali risiko, sementara keputusan manusia mengenai tata guna lahan menentukan apakah risiko itu berubah menjadi bencana.
Karena itu, sejumlah pengamat mendorong pendekatan yang tidak bertumpu pada faktor cuaca semata. Penataan ulang pengelolaan gambut, penegakan hukum yang konsisten, pengawasan terhadap praktik pembukaan lahan, serta penguatan sistem deteksi dini dinilai menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada faktor keberuntungan cuaca.
Selama persoalan tata kelola lahan belum tuntas, karhutla berpotensi terus berulang setiap kali kemarau panjang datang. El Niño boleh jadi memperberat keadaan, tetapi menjadikannya sebagai satu-satunya kambing hitam berisiko menutupi persoalan mendasar yang justru berada dalam kendali manusia.
Komentar (0)