Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kembali meluas dalam beberapa hari terakhir. Titik api yang semula hanya muncul di lahan gambut dan semak belukar kini merambat ke arah permukiman, bahkan nyaris menyentuh kawasan pemakaman warga. Kondisi itu membuat warga di sekitar lokasi waspada dan berjaga-jaga, terutama pada malam hari ketika api terlihat membesar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kobaran api bergerak cepat karena didukung bahan bakar berupa rumput kering, ranting, dan lapisan gambut yang mudah terbakar. Angin yang bertiup cukup kencang membuat petugas kesulitan memastikan api tidak berpindah ke sisi lain lahan. Asap tebal terlihat membubung tinggi dan menutupi pandangan jarak dekat, sehingga proses pemadaman harus dilakukan secara hati-hati.
Api Mendekati Area Pemakaman Warga
Salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah lokasi kebakaran yang berada tidak jauh dari pemakaman warga. Jarak api dengan makam-makam disebut hanya beberapa meter. Warga sekitar sempat berupaya memadamkan api secara manual menggunakan air, ember, dan peralatan seadanya untuk mencegah kobaran menyentuh area pemakaman.
Upaya warga tersebut dilakukan sambil menunggu kedatangan petugas pemadam. Sejumlah warga juga memindahkan barang-barang yang mudah terbakar dari sekitar rumah mereka. Meski demikian, tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan dalam peristiwa tersebut.
Kawasan pemakaman menjadi salah satu lokasi yang dinilai rawan karena banyak ditumbuhi rumput kering dan ilalang. Pada musim kemarau, vegetasi seperti itu mudah tersulut, terutama jika ada sumber api dari aktivitas pembakaran lahan atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Penyebab dan Kondisi Lahan
Petugas mencatat sejumlah faktor yang membuat karhutla di Kapuas sulit dikendalikan. Selain cuaca panas dan curah hujan yang rendah, sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Api yang masuk ke lapisan gambut dapat bertahan lama di bawah permukaan, sehingga asap terus muncul meskipun bagian atas sudah disiram air.
Kondisi itu menuntut metode pemadaman khusus, antara lain penyemprotan air secara terus-menerus ke titik panas di dalam tanah. Petugas juga melakukan pengecekan ulang pada area yang sudah dipadamkan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi menyala kembali.
Selain faktor alam, aktivitas manusia disebut masih menjadi pemicu utama. Pembukaan lahan dengan cara membakar untuk kepentingan perkebunan dan pertanian, serta pembakaran sampah yang tidak terkendali, kerap menjadi penyebab munculnya titik api baru. Aparat telah mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran lahan karena berisiko menimbulkan kebakaran luas dan sanksi hukum.
Upaya Pemadaman Gabungan
Pemadaman dilakukan secara gabungan yang melibatkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), personel pemadam kebakaran, aparat kepolisian, TNI, serta relawan dan masyarakat peduli api. Mereka bekerja dengan peralatan terbatas, termasuk mobil pemadam, pompa air, selang, dan peralatan manual.
Kendala utama di lapangan adalah sulitnya sumber air di dekat lokasi kebakaran. Petugas harus menempuh jarak cukup jauh untuk mengisi tangki dan menyambung selang agar air bisa mencapai titik api. Akses jalan yang sempit dan berlumpur juga memperlambat pergerakan kendaraan pemadam.
Meski demikian, petugas terus melakukan pemadaman secara bertahap dengan membagi lokasi menjadi beberapa sektor. Prioritas diberikan pada area yang berdekatan dengan permukiman, fasilitas umum, dan kawasan pemakaman agar api tidak merembet lebih jauh.
Dampak Kabut Asap
Kabut asap dari kebakaran lahan ini turut berdampak pada aktivitas warga. Jarak pandang di beberapa ruas jalan sempat menurun, terutama pada pagi hari. Pengendara diimbau berhati-hati dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Dinas kesehatan setempat mengingatkan warga agar mewaspadai gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata.
Imbauan dan Pencegahan
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan jika melihat titik api. Partisipasi warga dinilai penting karena luasnya wilayah yang harus diawasi tidak sebanding dengan jumlah petugas.
Selain pemadaman, upaya pencegahan dilakukan melalui patroli rutin, sosialisasi kepada kelompok tani, serta pemantauan titik panas. Pemerintah desa juga diminta menyiapkan tim awal dan peralatan sederhana agar kebakaran kecil dapat ditangani sebelum meluas.
Hingga saat ini, petugas masih berjaga di lokasi untuk melakukan pendinginan dan pemantauan. Warga berharap karhutla di Kapuas dapat segera tertangani sehingga aktivitas sehari-hari kembali normal dan kawasan pemakaman warga tidak sampai terdampak.
Komentar (0)