20, 2026
Nasional

Kecepatan Internet Indonesia Ditargetkan 100 Mbps pada 2029

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemerintah menargetkan kecepatan internet di Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029. Angka itu menjadi salah satu indikator utama pembangunan infrastruktur digital dalam lima tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa persoalan konektivitas tidak lagi berhenti pada perluasan jangkauan jaringan, tetapi bergerak ke arah peningkatan kualitas layanan yang dirasakan pengguna.

Target tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang menuntut percepatan di dua sisi sekaligus: penyediaan jaringan akses berkecepatan tinggi dan kesiapan pasar untuk memanfaatkannya. Tanpa keduanya berjalan seiring, angka 100 Mbps berisiko hanya menjadi capaian di atas kertas yang tidak berdampak langsung pada rumah tangga, usaha mikro, sekolah, maupun fasilitas kesehatan.

Dari Perluasan Jangkauan ke Peningkatan Kualitas

Selama satu dekade terakhir, agenda konektivitas nasional lebih banyak diarahkan pada penutupan daerah blankspot. Pembangunan jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring, penyediaan base transceiver station di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal, hingga pengoperasian satelit multifungsi menjadi bagian dari upaya tersebut. Hasilnya, peta jangkauan jaringan seluler mengalami perubahan signifikan, meski kualitas layanan di sejumlah wilayah masih tertinggal dibandingkan kawasan perkotaan.

Target 100 Mbps mengubah titik berat kebijakan. Persoalan utama tidak lagi semata ada atau tidaknya sinyal, melainkan seberapa besar kapasitas yang bisa dialirkan hingga ke pengguna akhir. Di banyak daerah, kendala justru berada pada jaringan akses terakhir, kapasitas backhaul, serta kualitas perangkat yang digunakan rumah tangga.

Peran jaringan tulang punggung

Kapasitas internasional dan antarpulau menjadi prasyarat. Satelit Satria-1 yang beroperasi sejak 2023 disebut memiliki kapasitas sekitar 150 Gbps dan dirancang untuk melayani titik-titik layanan publik di wilayah terpencil. Namun kapasitas sebesar itu tetap terbatas bila dibandingkan dengan kebutuhan agregat nasional, sehingga jaringan serat optik darat dan laut tetap menjadi tulang punggung utama. Penambahan rute kabel laut, peningkatan kapasitas gerbang internasional, serta interkoneksi antaroperator menjadi pekerjaan rumah yang harus selesai sebelum tenggat 2029.

Seluler dan spektrum frekuensi

Di sisi seluler, peningkatan kecepatan bergantung pada ketersediaan spektrum, kepadatan situs, dan kesiapan transmisi. Teknologi 5G menawarkan kecepatan puncak yang jauh di atas 100 Mbps, tetapi cakupannya masih terbatas di kawasan padat penduduk. Karena itu, sebagian besar beban pencapaian target akan tetap dipikul jaringan 4G yang dimodernisasi dan jaringan serat optik hingga ke rumah atau fixed broadband.

Kesenjangan yang Harus Dijembatani

Persoalan klasik tetap membayangi: jarak antara rata-rata kecepatan di kota besar dan di daerah. Kawasan dengan kepadatan pelanggan tinggi lebih menarik bagi investasi operator karena biaya per pengguna lebih rendah. Sebaliknya, daerah dengan populasi tersebar menghadapi biaya pembangunan yang tinggi dengan potensi pendapatan yang kecil. Tanpa skema dukungan, target nasional berisiko tercapai secara agregat namun meninggalkan disparitas yang makin lebar.

Skema pembiayaan dari kewajiban pelayanan universal, kerja sama pemerintah dan badan usaha, serta pemanfaatan infrastruktur pasif bersama menjadi beberapa jalan yang lazim ditempuh. Efisiensi biaya pembangunan juga bergantung pada kemudahan perizinan, ketersediaan lahan, dan kepastian aturan di tingkat daerah.

Dampak bagi Ekonomi Digital

Kecepatan internet memiliki korelasi langsung dengan produktivitas sektor ekonomi digital. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, koneksi stabil memungkinkan penjualan daring, pembayaran digital, dan pengelolaan usaha berbasis aplikasi. Di sektor pendidikan, koneksi berkapasitas besar membuka ruang bagi pembelajaran jarak jauh yang lebih interaktif. Layanan kesehatan jarak jauh dan administrasi pemerintahan berbasis digital juga menuntut kapasitas jaringan yang memadai.

Namun kecepatan tinggi tanpa literasi digital hanya menghasilkan kapasitas menganggur. Karena itu, program peningkatan keterampilan digital, pendampingan pelaku usaha, dan penyediaan perangkat menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pencapaian target.

Standar Layanan dan Perlindungan Konsumen

Aspek lain yang kerap terabaikan adalah kejelasan standar kualitas layanan. Pengguna sering kali menerima kecepatan yang jauh di bawah angka yang dipromosikan penyedia jasa. Pengaturan mengenai kecepatan minimum yang dijanjikan, transparansi pengukuran, serta mekanisme pengaduan menjadi kunci agar target tidak berhenti sebagai angka iklan.

Pengujian kualitas jaringan secara berkala oleh regulator, publikasi hasil pengukuran, dan sanksi bagi penyedia yang tidak memenuhi standar disebut sebagai instrumen yang dapat mendorong perbaikan nyata di lapangan.

Ukuran Keberhasilan

Pada akhirnya, keberhasilan target 100 Mbps tidak cukup diukur dari kecepatan puncak yang tercatat pada uji jaringan di pusat kota. Indikator yang lebih bermakna adalah kecepatan yang benar-benar dinikmati rumah tangga, tersedianya pilihan layanan yang terjangkau, serta meratanya kualitas jaringan antardaerah. Tanpa itu, percepatan angka di dokumen perencanaan tidak akan sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan yang diharapkan dari transformasi digital nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter