30, 2026
Nasional

Kekeringan, Sri Lanka Kirim 3 Biksu Terbang Berdoa Dekat Langit

Angkatan Udara Sri Lanka menerbangkan tiga biksu untuk berdoa agar hujan turun di tengah ancaman kekeringan parah akibat fenomena El Nino.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Kekeringan, Sri Lanka Kirim 3 Biksu Terbang Berdoa Dekat Langit

Kekeringan Ekstrem Melanda Sri Lanka, Pemerintah Kerahkan Biksu ke Langit untuk Berdoa

COLOMBO — Sri Lanka menghadapi krisis kekeringan yang semakin memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah negara itu mengambil langkah luar biasa dengan mengerahkan tiga biksu Buddha untuk terbang menggunakan pesawat kecil dan berdoa di ketinggian langit. Upaya spiritual ini dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar kolektif memohon turunnya hujan di tengah cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah.

Ketiga biksu tersebut diterbangkan dengan pesawat milik Angkatan Udara Sri Lanka. Mereka melakukan ritual doa dan pembacaan paritta—kumpulan ayat suci Buddha—selama berada di udara. Penerbangan dilakukan di atas beberapa wilayah yang paling parah terdampak kekeringan, termasuk kawasan pertanian di bagian tengah dan timur laut negara itu. Doa di langit diyakini sebagai bentuk permohonan tertinggi kepada kekuatan alam agar segera menurunkan hujan yang telah lama dinanti.

Dampak Kekeringan yang Semakin Meluas

Kekeringan yang melanda Sri Lanka bukan fenomena baru. Namun, intensitasnya tahun ini dinilai jauh lebih parah dibandingkan musim kemarau sebelumnya. Sejumlah waduk utama yang menjadi sumber irigasi pertanian mengalami penurunan permukaan air yang signifikan. Bendungan besar seperti Victoria, Randenigala, dan Kotmale dilaporkan berada di bawah kapasitas normal. Kondisi ini mengancam pasokan air untuk irigasi, pembangkit listrik tenaga air, serta kebutuhan rumah tangga di berbagai kota.

Pemerintah Sri Lanka menyatakan bahwa lebih dari satu juta penduduk di beberapa distrik mengalami kesulitan akses air bersih. Distribusi air bersih dilakukan menggunakan truk tangki ke daerah-daerah yang paling terdampak. Sekolah-sekolah di beberapa wilayah terpaksa mengubah jam belajar untuk menyesuaikan ketersediaan air. Sementara itu, para petani mengeluhkan gagal panen karena sawah dan ladang mereka mengering.

Sektor pertanian menjadi yang paling terdampak. Padi, teh, dan sayuran—tiga komoditas utama Sri Lanka—mengalami penurunan produksi signifikan. Pemerintah memperkirakan kerugian ekonomi akibat kekeringan ini mencapai miliaran rupee. Harga bahan pangan di pasar lokal mulai merangkak naik seiring berkurangnya pasokan.

Respons Pemerintah dan Langkah Spiritual

Selain upaya teknis seperti distribusi air dan modifikasi cuaca, pemerintah Sri Lanka juga mengizinkan praktik spiritual keagamaan sebagai respons terhadap bencana ini. Dalam tradisi Buddha Theravada yang dianut mayoritas penduduk Sri Lanka, doa dan ritual keagamaan sering dilakukan untuk memohon hujan. Namun, penerbangan biksu ke langit untuk berdoa merupakan langkah yang jarang terjadi dan mendapat perhatian luas dari publik.

Juru bicara Angkatan Udara Sri Lanka menyebutkan bahwa penerbangan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan protokol penerbangan. Ketiga biksu itu didampingi oleh kru pesawat yang berpengalaman. Mereka terbang selama beberapa jam melintasi wilayah-wilayah kritis, sambil membacakan doa dan menaburkan air suci yang telah diberkati.

Sejumlah pemuka agama menyambut baik inisiatif ini. Mereka menilai bahwa doa merupakan bagian dari ikhtiar batin yang melengkapi upaya lahiriah. Namun, sebagian kalangan mengkritik langkah tersebut sebagai simbolis semata dan mendesak pemerintah untuk lebih fokus pada solusi jangka panjang, seperti pengelolaan sumber daya air, reboisasi, dan adaptasi perubahan iklim.

Krisis Iklim dan Tantangan Jangka Panjang

Para ahli meteorologi memperkirakan bahwa kekeringan di Sri Lanka berkaitan erat dengan fenomena El Nino dan perubahan iklim global. Pola musim hujan yang tidak menentu membuat perencanaan pertanian dan pengelolaan air menjadi semakin sulit. Pemerintah diminta memperkuat sistem peringatan dini serta infrastruktur penampungan air agar mampu menghadapi musim kering yang datang lebih sering.

Langkah spiritual seperti yang dilakukan para biksu ini memang tidak dapat menggantikan kebijakan struktural. Namun, dalam konteks masyarakat Sri Lanka yang sangat religius, doa di langit menjadi simbol harapan dan solidaritas di tengah kesulitan. Pemerintah berharap kombinasi antara ikhtiar batin dan upaya nyata mampu mempercepat datangnya hujan serta meringankan beban rakyat yang terdampak.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai turunnya hujan di wilayah yang menjadi sasaran penerbangan doa tersebut. Pemerintah terus memantau perkembangan cuaca dan menyiapkan langkah darurat apabila kekeringan berlanjut hingga musim tanam berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter