15, 2026
Nasional

Kekurangan Kelas, Siswa SD di Pandeglang Belajar di Mushola dan Perpustakaan

Siswa SDN Banjarwangi terpaksa belajar di Mushola dan Perpustakaan akibat kekurangan ruang kelas. Sudah 10 tahun, kondisi ini belum diperbaiki.]]>

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kekurangan Kelas, Siswa SD di Pandeglang Belajar di Mushola dan Perpustakaan

Kekurangan Ruang Belajar, Siswa SD di Pandeglang Terpaksa Belajar di Mushola dan Perpustakaan

Di tengah upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kondisi fisik fasilitas belajar di beberapa daerah masih menunjukkan tantangan besar. Salah satunya terjadi di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, di mana sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) terpaksa menempati ruang belajar yang tidak memadai, bahkan harus bergantung pada mushola dan perpustakaan sebagai tempat belajar sehari-hari.

Kondisi Fisik Sekolah yang Memprihatinkan

Sebuah laporan dari Tim Pengawas Kecamatan Carita mengungkap bahwa sedikitnya tiga SD di wilayah tersebut mengalami kekurangan ruang kelas yang signifikan. Sementara itu, jumlah siswa terus bertambah setiap tahunnya tanpa adanya penambahan gedung atau ruang kelas baru. Akibatnya, satu ruang kelas sering digunakan untuk dua kelas secara bergantian atau bahkan menampung siswa dengan jumlah meja dan kursi yang tidak memadai.

Kepala Sekolah SDN Carita 1, Ahmad Fauzi, mengungkapkan kondisi yang dialami sekolahnya. "Kami memiliki enam kelas tetapi jumlah sisnya mencapai 280 orang. Rata-rata satu kelas menampung 45-50 siswa, padahal standar yang ditetapkan adalah 30 siswa per kelas. Beberapa kelas bahkan harus dibagi menjadi dua sesi belajar," ujarnya.

Mushola dan Perpustakaan Jadi Solusi Darurat

Dalam situasi yang tidak terhindari, beberapa sekolah di Carita menemukan solusi darurat dengan memanfaatkan mushola dan perpustakaan sebagai ruang belajar alternatif. Mushola yang biasanya digunakan untuk aktivitas ibadah menjadi tempat siswa-siswi melakukan kegiatan belajar mengajar selama jam-jam tertentu.

"Kami menggunakan mushola untuk kelas V dan VI pada pagi hari, sedangkan ruang perpustakaan digunakan untuk kelas III dan IV siang hari. Meski tidak ideal, ini adalah solusi sementara agar proses belajar mengajar tidak terhenti," jelas Kepala SDN Carita 2, Siti Aminah.

Kondisi ini tentu saja memberikan dampak negatif terhadap kenyamanan dan efektivitas proses belajar. Siswa sering terganggu dengan suara bising dari aktivitas sekitar, sementara guru kesulitan untuk memberikan perhatian penuh kepada setiap siswa karena jumlah peserta yang terlalu banyak.

Respons Pemerintah Daerah

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Pandeglang melalui Dinas Pendidikan mengaku sedang melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah kekurangan ruang kelas. Kepala Dinas Pendidikan Pandeglang, Dr. Budi Santoso, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengusulkan anggaran untuk pembangunan gedung sekolah baru dan renovasi beberapa sekolah yang sudah rusak.

"Untuk tahun anggaran 2023, kami mengusulkan anggaran sebesar Rp 50 miliar untuk penambahan ruang kelas di seluruh kecamatan di Pandeglang. Namun, proses pencairan anggaran masih menunggu persetujuan dari DPRD dan pemerintah provinsi," jelas Budi.

Ia juga menambahkan bahwa selain menunggu anggaran baru, pihaknya juga sedang menggandakan sistem pembelajaran dengan menerapkan sistem shift dan memanfaatkan gedung serbaguna yang ada di beberapa desa.

Dampak terhadap Kualitas Pendidikan

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pandeglang, Hj. Rina Wulandari, mengakui bahwa kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan. "Siswa menjadi tidak fokus belajar, guru kesulitan mengelola kelas, dan fasilitas yang tidak memadai membuat proses belajar mengajar tidak optimal," ujarnya.

Seorang guru SDN Carita 3, Ahmad Yani, mengungkapkan pengalamannya langsung menghadapi tantangan ini. "Seringkali kami harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Kadang-kadang saya harus mengajarnya di luar ruangan jika mushola sedang digunakan untuk kegiatan lain. Ini tentu saja mempengaruhi konsentrasi siswa," paparnya.

Harapan Masyarakat

Masyarakat di Carita menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi ini. Beberapa tokoh masyarakat dan ormas pendidikan setempat telah mengajukan petisi kepada pemerintah daerah agar segera menyelesaikan masalah kekurangan ruang kelas. Mereka berharap pemerintah memberikan prioritas pada peningkatan fasilitas pendidikan di daerah terpencil dan terbelakang.

"Pendidikan adalah hak setiap anak. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk membiarkan siswa belajar di fasilitas yang tidak layak. Kami meminta agar masalah ini segera ditanggap serius," ujar Ketua Komite Sekolah SDN Carita 1, Hasanudin.

Dengan kondisi yang masih terus berlangsung, nasib siswa-siswi di Pandeglang bergantung pada cepat atau lambatnya respons pemerintah dalam memenuhi hak mereka untuk menempatkan ruang belajar yang layak dan nyaman. Sampai saat ini, mereka terus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter