17, 2026
Nasional

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

Dunia kerja di Indonesia menghadapi tantangan serius, terutama bagi lulusan perguruan tinggi yang mencari pekerjaan sesuai dengan gelar mereka. Dalam situasi ini, sejumlah sarjana memilih jalan yang tidak biasa: bergabung dengan Pasukan Oranye, satuan pengendali massa yang sering terlihat dalam berbagai acara dan demonstrasi. Fenomena ini mencerminkan realitas kompleks di tengah kesulitan ekonomi dan ketidakpastian lapangan kerja.

Keputusan untuk menjadi anggota Pasukan Oranye sering kali datang setelah melalui proses panjang dan frustrasi dalam mencari pekerjaan. Banyak lulusan universitas menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mengirimkan lamaran namun tidak mendapatkan respons positif. Situasi ini semakin diperparah dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan persaingan pekerjaan yang semakin ketat di berbagai sektor.

Realitas di Balik Keputusan

Bekas mahasiswa teknik hukum yang memilih menjadi anggota Pasukan Oranje mengungkapkan alasan di balik keputasannya. "Saya lulus dari universitas ternama dengan gelar sarjana hukum, tapi setelah dua tahun mencari kerja di kantor hukum dan perusahaan, tidak ada hasil," kata sambil mengenakan seragam oranye khas pasukan tersebut. "Di sini setidaknya saya bisa mendapatkan penghasilan rutin meskipun tidak sesuai dengan keahlian saya."

Fenomena ini tidak terbatas pada satu disiplin ilmu saja. Lulusan dari berbagai fakultas mulai dari humaniora hingga sains ternyata juga mengambil jalan serupa. Mereka menemukan bahwa menjadi anggota Pasukan Oranye menawarkan stabilitas finansial yang mereka butuhkan, meskipun pekerjaan ini seringkali dianggap sebagai pilihan terakhir.

Struktur dan Organisasi

Pasukan Oranye secara umum terorganisir dalam struktur hierarkis yang jelas. Mereka biasanya direkrut melalui agen atau koordinator yang bertanggung jawab atas penempatan personel ke berbagai acara. Gaji yang ditawarkan bervariasi tergantung pada durasi acara dan tingkat keahlian yang dimiliki, namun umumnya dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seorang koordinator Pasukan Oranje menjelaskan bahwa mereka selalu membutuhkan personel baru terutama menjelang musim kampanye pemilu atau demonstrasi besar-besaran. "Kita mencari orang-orang yang disiplin, bisa mengikuti perintah, dan siap bekerja dalam kondisi apa pun," ujarnya. "Pendidikan formal bukan persyaratan utama, tapi keahlian khusus seperti pertahanan diri atau komunikasi bisa menjadi nilai tambah."

Dampak Psikologis dan Sosial

Meskipun memberikan penghasilan, menjadi anggota Pasukan Oranye tidak terlepas dari dampak psikologis dan sosial. Banyak yang merasa kecewa karena tidak dapat mewujudkan potensi dan keahlian yang mereka dapatkan selama berkuliah. Beberapa mengalami konflik internal antara keinginan untuk berkembang di bidang keahlian dan kenyataan harus menerima pekerjaan yang dianggap menurunkan martabat.

Dampak sosial juga tidak kalah signifikan. Keluarga dan teman sering kali tidak memahami pilihan yang diambil, yang mengakibatkan tekanan psikologis tambahan. "Awalnya orangtua saya sangat kecewa, tapi setelah melihat saya bisa membantu keuangan keluarga, mereka perlahan menerimanya," cerita salah satu anggota Pasukan Oranye yang lulusan ilmu komunikasi.

Mencari Jalan Keluar

Di tengah situasi ini, pemerintah dan berbagai pihak terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi tingginya pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi. Program pelatihan keterampilan, program magang, dan upaya peningkatan kualitas pendidikan terus dikembangkan untuk mempersiapkan lulusan lebih baik menghadapi dunia kerja.

Sementara itu, beberapa mantan anggota Pasukan Oranye berhasil menemukan jalan keluar dengan memanfaatkan jaringan dan pengalaman yang mereka dapatkan selama menjadi anggota. Beberapa berhasil membuka usaha kecil, berkarier di bidang non-tradisional, atau melanjutkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas diri.

Fenomena Pasukan Oranye mencerminkan realitas kompleks di tengah struktur ekonomi dan sosial Indonesia yang belum mampu menyerap sepenuhnya lulusan perguruan tinggi. Meskipun sering dianggap sebagai pilihan terakhir, keputusan untuk bergabung dengan satuan pengendali massa ini menunjukkan adaptasi dan ketekunan individu dalam menghadapi tantangan hidup.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter