30, 2026
Nasional

Ketua MPR Kunjungi Pindad, Dorong Kemandirian Alutsista RI

Ketua MPR RI Ahmad Muzani kunjungi PT Pindad untuk mendukung industri pertahanan. Diskusi fokus pada pengembangan dan kemandirian alutsista nasional.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ketua MPR Kunjungi Pindad, Dorong Kemandirian Alutsista RI

Ketua MPR Bambang Soesatyo Kunjungi Pindad, Dorong Kemandirian Alutsista Nasional

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad (Persero) di Bandung, Jawa Barat, guna meninjau langsung perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Kunjungan tersebut menjadi penegasan komitmen lembaga negara terhadap upaya mewujudkan kemandirian alutsista atau alat utama sistem senjata yang diproduksi oleh anak bangsa sendiri.

Dalam kunjungan itu, Ketua MPR didampingi sejumlah pejabat perusahaan dan menerima paparan mengenai lini produksi, riset, serta pengembangan produk pertahanan yang telah dihasilkan Pindad. Ia meninjau fasilitas manufaktur dan melihat langsung berbagai produk unggulan, mulai dari kendaraan taktis, senjata ringan, hingga munisi yang telah digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia.

Dorongan terhadap Kemandirian Industri Pertahanan

Bambang Soesatyo menegaskan bahwa kemandirian alutsista merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga kedaulatan negara. Menurutnya, ketergantungan pada produk luar negeri dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kerentanan, terutama ketika menghadapi situasi geopolitik yang tidak menentu. Oleh karena itu, penguatan industri pertahanan dalam negeri harus menjadi prioritas bersama seluruh elemen bangsa.

Ia menilai PT Pindad sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis yang memiliki kapasitas untuk memperkuat ekosistem pertahanan nasional. Kemampuan perusahaan dalam memproduksi senjata dan kendaraan taktis dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan, meskipun masih menghadapi tantangan dalam hal penguasaan teknologi dan rantai pasok komponen.

"Kemandirian di sektor pertahanan bukan sekadar soal kemampuan produksi, tetapi juga soal kedaulatan dan martabat bangsa. Kita tidak boleh terus bergantung pada pihak lain untuk kebutuhan yang menyangkut keamanan negara," ujar Bambang Soesatyo dalam keterangan yang disampaikan usai peninjauan.

Dukungan Anggaran dan Regulasi

Ketua MPR menyoroti pentingnya dukungan anggaran yang memadai bagi riset dan pengembangan industri pertahanan. Menurutnya, alokasi anggaran pertahanan harus diarahkan tidak hanya untuk pembelian alutsista, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia di dalam negeri.

Ia juga mendorong adanya sinergi lintas lembaga, termasuk antara pemerintah, DPR, dan pelaku industri, dalam menyusun regulasi yang mendukung pertumbuhan industri pertahanan nasional. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah perlunya kepastian pasar bagi produk dalam negeri, sehingga perusahaan seperti Pindad dapat merencanakan produksi jangka panjang dengan lebih baik.

Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dinilai penting untuk mempercepat alih teknologi. Kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah diyakini mampu mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan pertahanan modern, termasuk pengembangan sistem senjata berbasis teknologi digital dan otomasi.

Tantangan Industri Pertahanan Nasional

Meski menunjukkan kemajuan, industri pertahanan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketergantungan pada komponen impor, keterbatasan teknologi manufaktur presisi, serta kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi persoalan yang harus diatasi secara bertahap. Pemenuhan standar internasional juga menjadi prasyarat agar produk dalam negeri dapat bersaing dan diterima di pasar global.

Di sisi lain, permintaan dari dalam negeri menjadi penopang utama bagi keberlanjutan industri pertahanan. Program modernisasi alutsista TNI yang dijalankan pemerintah membuka peluang besar bagi Pindad dan industri pertahanan dalam negeri lainnya untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kemampuan rekayasa.

Bambang Soesatyo berharap kunjungan ini dapat menjadi momentum untuk mendorong percepatan kemandirian alutsista. Ia menekankan bahwa kemandirian bukan tujuan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan proses panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan.

Harapan ke Depan

Ke depan, penguatan industri pertahanan nasional diharapkan tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga pada perekonomian nasional. Industri pertahanan berpotensi menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi tepat guna, serta meningkatkan kemampuan industri pendukung di dalam negeri.

Dengan kapasitas yang terus dibangun, PT Pindad diharapkan mampu menjadi tulang punggung kemandirian alutsista Indonesia. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga negara seperti MPR, menjadi bagian penting dalam upaya tersebut agar kemandirian pertahanan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan terwujud secara nyata dan berkelanjutan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter