Kawasan konservasi mangrove Clungup di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga sekitar. Kawasan yang dikelola oleh kelompok masyarakat setempat ini mencakup hamparan mangrove, pantai berpasir putih, serta terumbu karang di pesisir selatan Jawa Timur, tidak jauh dari Pelabuhan Sendang Biru dan Pulau Sempu.
Pengelolaan kawasan tidak dilakukan oleh korporasi, melainkan oleh warga desa yang berhimpun dalam kelompok pengawas masyarakat dan sebuah yayasan lokal. Model itu membuat keputusan mengenai batas kunjungan, zonasi, dan kegiatan rehabilitasi dibahas bersama warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari laut dan pesisir.
Berawal dari Kerusakan
Kawasan Clungup tidak selalu terjaga. Pada awal 2000-an, sebagian besar tutupan mangrove di pesisir Tambakrejo mengalami kerusakan akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan. Kayu mangrove diambil untuk bahan bakar dan bangunan, sementara sebagian lahan dibuka untuk kepentingan lain. Akibatnya, abrasi meluas dan hasil tangkapan nelayan menurun karena hilangnya daerah asuhan bagi ikan, kepiting, dan biota laut lain.
Kondisi itu mendorong sekelompok warga melakukan penanaman kembali. Bibit mangrove ditanam bertahap di lahan yang sebelumnya gundul, dengan pendekatan yang disesuaikan kondisi substrat dan pasang surut. Prosesnya tidak berlangsung cepat. Beberapa kali penanaman gagal karena gelombang dan sedimentasi, sehingga warga memperbaiki pola tanam serta melibatkan pendampingan dari akademisi dan lembaga lingkungan.
Setelah bertahun-tahun, tutupan mangrove kembali rapat. Kawasan ini kini menjadi salah satu lokasi rehabilitasi pesisir yang kerap dirujuk sebagai contoh praktik konservasi berbasis masyarakat di Jawa Timur.
Tiga Pantai, Satu Kawasan
Kawasan konservasi Clungup mencakup tiga pantai yang dikelola dalam satu kesatuan, yaitu Pantai Clungup, Pantai Gatra, dan Pantai Tiga Warna. Masing-masing memiliki karakter berbeda. Pantai Clungup dan Gatra dikenal dengan garis pantai berpasir putih yang diapit vegetasi pesisir, sementara Tiga Warna memiliki air laut yang jernih dengan gradasi warna berbeda dan menjadi lokasi favorit untuk snorkeling.
Kawasan ini juga menjadi jalur jelajah bagi wisatawan yang ingin melihat langsung ekosistem mangrove. Pengunjung tidak dibiarkan masuk begitu saja. Mereka diwajibkan didampingi pemandu lokal yang menjelaskan fungsi mangrove, aturan kawasan, dan larangan selama berada di dalam area konservasi.
Sejumlah aturan diberlakukan, antara lain larangan membawa plastik sekali pakai, larangan memetik atau mengambil biota, serta pembatasan jumlah kunjungan harian. Pembatasan itu diterapkan untuk menekan tekanan terhadap terumbu karang dan vegetasi pesisir yang rentan.
Dampak Ekonomi bagi Warga
Konservasi yang berhasil mengubah wajah ekonomi desa. Warga yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil tangkapan ikan kini memperoleh penghasilan tambahan dari sektor wisata. Mereka bekerja sebagai pemandu, petugas parkir, penjaga pos, pengelola penginapan warga, hingga penjual makanan dan minuman di sekitar titik masuk kawasan.
Perempuan di sekitar kawasan juga terlibat melalui kelompok usaha yang mengolah hasil mangrove dan pesisir menjadi produk bernilai tambah, seperti olahan pangan, minuman, dan produk kerajinan. Sebagian warga mengembangkan usaha budidaya kepiting dan pengolahan hasil laut yang dipasarkan ke wisatawan.
Pendapatan dari tiket masuk dan jasa pemanduan digunakan untuk membiayai perawatan kawasan, pembibitan mangrove, honor petugas, serta kegiatan sosial warga. Pola itu membuat konservasi tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber penghidupan yang perlu dijaga.
Nelayan dan Ekosistem yang Pulih
Pemulihan mangrove berimbas pada sektor perikanan. Akar mangrove yang rapat menahan sedimen dan mengurangi abrasi, sekaligus menyediakan tempat berlindung bagi benih ikan dan kepiting. Nelayan di sekitar Tambakrejo melaporkan hasil tangkapan yang lebih baik dibandingkan masa ketika mangrove rusak, meski jumlahnya tetap dipengaruhi musim dan cuaca.
Keberadaan terumbu karang di perairan Tiga Warna juga menjadi perhatian pengelola. Aktivitas snorkeling dibatasi pada area tertentu dan dilakukan dengan pendampingan agar terumbu tidak rusak akibat sentuhan atau aktivitas berlebih.
Tantangan yang Belum Selesai
Meski dinilai berhasil, pengelolaan kawasan menghadapi sejumlah tantangan. Sampah kiriman dari laut, terutama pada musim tertentu, menjadi persoalan rutin yang harus dibersihkan bersama warga. Tekanan kunjungan juga meningkat setiap tahun, sehingga pembatasan kapasitas dan penegakan aturan harus terus dijaga.
Selain itu, perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi ancaman bagi vegetasi pesisir. Pengelola perlu memastikan bibit yang ditanam mampu bertahan terhadap gelombang tinggi dan perubahan pola pasang surut. Ketersediaan pendanaan yang berkelanjutan juga menjadi pekerjaan rumah, mengingat perawatan kawasan membutuhkan biaya tetap.
Model yang Perlu Diperkuat
Pengalaman Clungup menunjukkan bahwa konservasi pesisir dapat berjalan jika masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan, pembagian manfaat ekonomi yang jelas, serta aturan kunjungan yang tegas menjadi kunci keberlanjutan kawasan.
Bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain, dukungan berupa pendampingan teknis, penguatan kelembagaan, dan akses pasar bagi produk warga dinilai penting agar model ini tidak bergantung pada semangat sukarela semata. Dengan begitu, upaya menjaga alam di pesisir selatan Malang dapat terus berjalan tanpa mengorbankan kesejahteraan warga yang hidup di sekitarnya.
Komentar (0)