30, 2026
Nasional

Kota di Negara Tetangga RI Tenggelam, Hujan Turun 3 Hari Non-Stop

Hujan deras di kota ini menyebabkan banjir parah, mengganggu lalu lintas dan memaksa warga mengungsi. Keadaan darurat.]]>

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kota di Negara Tetangga RI Tenggelam, Hujan Turun 3 Hari Non-Stop

Banjir Besar Rendam Kota di Negara Tetangga RI, Hujan Tiga Hari Non-Stop Jadi Pemicu

Curah hujan ekstrem yang berlangsung tanpa henti selama tiga hari berturut-turut menyebabkan sejumlah kawasan perkotaan di negara tetangga Indonesia dilanda banjir besar. Air merendam permukiman, jalan protokol, hingga pusat perniagaan, memaksa ribuan warga mengungsi dan melumpuhkan aktivitas ekonomi sehari-hari. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terburuk yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan otoritas setempat, intensitas hujan yang turun sejak Jumat malam hingga Senin dini hari melampaui kapasitas drainase kota. Sungai-sungai utama yang melintasi wilayah perkotaan tidak mampu menampung debit air kiriman dari kawasan hulu, sehingga meluap ke permukiman padat penduduk. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan mencapai satu hingga dua meter, bahkan lebih tinggi di daerah cekungan yang menjadi langganan genangan.

Ribuan Warga Mengungsi, Akses Jalan Terputus

Pemerintah daerah mencatat sedikitnya ribuan kepala keluarga terdampak langsung. Mereka yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi ke balai desa, sekolah, dan fasilitas umum yang ditetapkan sebagai posko darurat. Tim penyelamat dikerahkan menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga lanjut usia, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya dari kawasan yang terisolasi.

Akses jalan utama yang menghubungkan kota dengan wilayah sekitarnya terputus akibat genangan dalam dan longsor di beberapa ruas. Kemacetan parah terjadi di jalur-jalur alternatif yang masih bisa dilalui. Layanan transportasi umum dihentikan sementara karena jalur yang terendam dinilai membahayakan. Pasokan listrik di sejumlah kelurahan juga dipadamkan untuk mencegah korsleting dan bahaya tersengat aliran listrik.

Fasilitas kesehatan dilaporkan kewalahan menerima pasien, terutama anak-anak dan lansia yang terserang penyakit kulit, diare, serta infeksi saluran pernapasan. Kondisi air yang bercampur limbah dan sampah memperbesar risiko penyebaran penyakit pasca-banjir. Dinas kesehatan setempat mengimbau warga untuk tidak menggunakan air banjir dan menjaga kebersihan lingkungan posko.

Penyebab dan Kaitan Perubahan Iklim

Para ahli meteorologi menilai hujan tiga hari non-stop dipicu oleh kombinasi monsun aktif, suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya, serta pola angin yang membawa uap air dalam jumlah besar ke wilayah tersebut. Fenomena ini memperkuat pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di kawasan Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir.

Pengamat lingkungan menyebut banjir ini sebagai pengingat bahwa kota-kota di kawasan perlu mempercepat adaptasi terhadap perubahan iklim. Alih fungsi lahan di kawasan hulu, berkurangnya daerah resapan, serta buruknya sistem drainase menjadi faktor yang memperparah dampak curah hujan tinggi. Tanpa perbaikan tata ruang dan infrastruktur, banjir serupa berpotensi berulang dengan skala lebih besar.

Otoritas setempat menyatakan telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempermudah mobilisasi bantuan. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan mulai disalurkan ke posko-posko pengungsian. Pemerintah pusat disebut turut mengirimkan pompa air berkapasitas besar untuk mempercepat penyedotan genangan di kawasan strategis.

Dampak Ekonomi dan Peringatan Dini Cuaca

Aktivitas ekonomi di kota tersebut nyaris terhenti. Pasar tradisional, pertokoan, dan kawasan industri terendam, sementara pekerja tidak dapat menjangkau tempat kerja. Diperkirakan kerugian ekonomi akibat banjir ini mencapai angka yang signifikan, meski penghitungan resmi masih dilakukan. Sektor pertanian di pinggiran kota juga terdampak karena lahan sawah terendam dan tanaman terancam gagal panen.

Badan meteorologi setempat memperingatkan potensi hujan lebat masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Warga di daerah bantaran sungai dan lereng bukit diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir susulan dan tanah longsor. Sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan tinggi muka air sungai diaktifkan untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat.

Peristiwa ini juga menjadi sorotan lintas negara mengingat posisi kota tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan di kawasan. Pengalaman banjir sebelumnya menunjukkan bahwa pemulihan pasca-bencana membutuhkan waktu berbulan-bulan, terutama untuk perbaikan infrastruktur jalan, jembatan, dan saluran air. Pemerintah berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi bencana yang ada.

Sementara itu, warga yang masih bertahan di rumah masing-masing berupaya menyelamatkan barang berharga ke lantai atas. Solidaritas antarwarga terlihat dari aksi gotong royong membersihkan lumpur dan menyalurkan bantuan bagi tetangga yang terdampak. Namun, curah hujan yang belum sepenuhnya reda membuat kekhawatiran akan gelombang banjir kedua tetap tinggi di kalangan masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter