21, 2026
Nasional

Kumpulan Makhluk Aneh tapi Cantik dari Laut Dalam, Ada dari Bawah Sulawesi

Dalhousie University di Nova Scotia, Kanada meyakini bahwa 91% dari hewan-hewan yang hidup di laut dalam masih belum kita ketahui. Banyak yang sangat menawan.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kumpulan Makhluk Aneh tapi Cantik dari Laut Dalam, Ada dari Bawah Sulawesi

Laut dalam menyimpan bentuk kehidupan yang sering kali tampak seperti hasil imajinasi: tubuh transparan, cahaya yang menyala di kegelapan, mata membesar, dan bentuk yang tidak lazim. Sejumlah di antaranya berada di perairan dalam sekitar Sulawesi, wilayah yang secara geografis termasuk pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini mencakup Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga perairan di utara dan timur pulau, dengan kedalaman yang di beberapa titik mencapai ribuan meter.

Laut dalam umumnya didefinisikan sebagai wilayah perairan di bawah kedalaman 200 meter, tempat sinar matahari tidak lagi mampu menembus. Tanpa cahaya, proses fotosintesis tidak berlangsung, sehingga rantai makanan bergantung pada material organik yang tenggelam dari permukaan serta pada organisme yang mampu menghasilkan cahaya sendiri. Kondisi ekstrem itu melahirkan adaptasi yang aneh sekaligus memikat secara visual.

Ikan purba dari perairan Manado

Salah satu penghuni laut dalam Indonesia yang paling dikenal adalah coelacanth Sulawesi atau Latimeria menadoensis. Ikan ini pertama kali tercatat setelah ditemukan di pasar ikan Manado pada 1997 dan dideskripsikan secara ilmiah pada 1999. Keberadaannya mengejutkan kalangan peneliti karena kelompok ikan bersirip lobus tersebut sebelumnya dianggap telah lama punah dan hanya dikenal melalui fosil.

Coelacanth memiliki sirip yang menyerupai anggota tubuh, sisik tebal, serta struktur tubuh yang tidak banyak berubah dibandingkan kerabat fosilnya. Populasinya diperkirakan menempati perairan berbatu pada kedalaman sekitar 100 hingga 200 meter, bersembunyi di celah-celah dasar laut pada siang hari dan lebih aktif pada malam hari. Bagi ilmu pengetahuan, keberadaan Latimeria menadoensis menjadi pengingat bahwa perairan dalam Nusantara masih menyimpan catatan evolusi yang belum sepenuhnya terbaca.

Cahaya sebagai bahasa di kegelapan

Di kedalaman tanpa sinar matahari, bioluminesensi atau kemampuan menghasilkan cahaya menjadi salah satu bentuk adaptasi paling mencolok. Ubur-ubur, comb jelly, krustasea kecil, hingga ikan lentera mengembangkan organ penghasil cahaya untuk berkomunikasi, mengelabui predator, atau memikat mangsa.

Salah satu contoh yang kerap menarik perhatian adalah ubur-ubur mahkota (Atolla wyvillei), yang ketika merasa terancam memancarkan pola cahaya berputar menyerupai alarm untuk memanggil predator yang lebih besar agar menyerang penyerangnya. Sementara itu, comb jelly atau ubur-ubur sisir bergerak dengan deretan silia yang membiaskan cahaya, sehingga tampak seperti pita warna yang bergerak di air gelap.

Ikan lentera dari keluarga Myctophidae, yang melimpah di perairan dalam, memiliki fotofor di sepanjang tubuhnya. Kelompok ini berperan penting dalam migrasi harian vertikal, yaitu pergerakan massal dari kedalaman ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan, lalu kembali ke bawah saat fajar.

Bentuk tubuh yang tidak lazim

Selain cahaya, laut dalam juga dihuni makhluk dengan morfologi yang kerap dianggap aneh. Gurita dumbo (Grimpoteuthis) memiliki sirip menyerupai telinga besar yang digunakan untuk berenang, sementara cumi vampir (Vampyroteuthis infernalis) berwarna merah gelap dan mengeluarkan cairan bercahaya sebagai pengalih perhatian ketika terganggu.

Ikan sungut ganda atau anglerfish dikenal karena tonjolan di kepalanya yang berfungsi sebagai umpan bercahaya untuk memikat mangsa di lingkungan yang gelap. Ada pula gulper eel dengan mulut sangat lebar dan tubuh memanjang, serta barreleye yang memiliki kepala transparan sehingga organ matanya tampak mengapung di dalam.

Di dasar laut, isopod raksasa dari genus Bathynomus hidup sebagai pemakan bangkai, sementara timun laut berjalan yang dikenal sebagai sea pig menelusuri sedimen untuk menyerap material organik. Kehadiran organisme semacam ini menjadi indikator kesehatan ekosistem dasar laut.

Terumbu mesofotik dan lili laut

Bukan hanya hewan yang tampak asing, lanskap laut dalam Sulawesi juga menyimpan formasi terumbu mesofotik, yaitu terumbu karang yang tumbuh pada kedalaman 30 hingga 150 meter dengan cahaya redup. Terumbu jenis ini kerap menjadi tempat berlindung berbagai spesies ikan ekonomis penting pada fase tertentu dalam siklus hidupnya.

Lili laut atau crinoid, termasuk jenis bertangkai yang menempel di substrat, turut memperkaya bentang dasar laut. Dengan lengan berbulu yang mengembang seperti kipas, hewan ini menyaring partikel makanan dari arus air dan memberi kesan taman yang tumbuh di kegelapan.

Tantangan riset dan ancaman

Pengetahuan tentang laut dalam Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan perairan dangkal. Keterbatasan kapal riset, peralatan selam berawak, serta kendaraan bawah laut nirawak membuat pemetaan dan pengambilan sampel berjalan lambat. Sejumlah ekspedisi yang melibatkan lembaga riset nasional bersama mitra internasional telah dilakukan, tetapi cakupan wilayahnya belum menyeluruh.

Di sisi lain, tekanan terhadap ekosistem laut dalam meningkat. Penangkapan ikan dengan alat berat, pencemaran plastik yang tenggelam, hingga perubahan iklim yang memengaruhi suhu dan kandungan oksigen laut menjadi ancaman nyata. Penambangan dasar laut juga menjadi perhatian karena dapat merusak habitat yang pemulihannya membutuhkan waktu sangat lama.

Keunikan bentuk dan kemampuan adaptasi makhluk laut dalam bukan sekadar bahan tontonan. Setiap spesies membawa informasi tentang evolusi, tentang cara kehidupan bertahan di lingkungan ekstrem, dan tentang keseimbangan ekosistem yang menopang perairan dangkal. Bagi Indonesia, yang wilayah lautnya jauh lebih luas daripada daratannya, pemetaan dan konservasi laut dalam merupakan pekerjaan yang belum selesai.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter