11, 2026
Internasional

Latih Anak Belajar Hidup Susah, Orang Tua Ini Rela Keluarin Rp26 Juta

Sejumlah orang tua di China rela merogoh kocek hingga 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta untuk melatih anak-anak]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Latih Anak Belajar Hidup Susah, Orang Tua Ini Rela Keluarin Rp26 Juta

Latih Anak Belajar Hidup Susah, Orang Tua Ini Rela Keluarin Rp26 Juta

Program pelatihan bertahan hidup untuk anak yang menelan biaya Rp26 juta menjadi perbincangan hangat di kalangan orang tua di Indonesia. Program ini menawarkan pengalaman keras bagi anak-anak untuk belajar menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua yang melihat program ini sebagai investasi penting untuk masa depan anak mereka, meski biayanya terbilang fantastis.

Program ini diselenggarakan oleh sebuah lembaga pelatihan bertahan hidup yang berbasis di kota besar. Menurut informasi yang beredar, program ini dirancang khusus bagi anak-anak usia 10-17 tahun. Peserta akan diajarkan berbagai keterampilan bertahan hidup mulai dari cara bertahan di alam liar, pertolongan pertama, hingga psikologi menghadapi tekanan.

Konten Program dan Biaya yang Dikeluarkan

Program yang berlangsung selama 14 hari ini menawarkan pengalaman komprehensif. Anak-anak akan ditempatkan di lingkungan yang sengaja dibuat sulit untuk mengasah kemampuan adaptasi. Mereka diajari cara membuat tempat tidur darurat, mencari makanan di alam, mengalirkan air, serta mengatasi situasi darurat.

Selain itu, peserta juga akan diajarkan keterampilan mental dan emosional. Mereka dilatih untuk tetap tenang di bawah tekanan, membuat keputusan dengan cepat, dan bekerja sama dalam tim. Program ini juga menyertakan sesi psikologis untuk membantu anak-anak menghadapi rasa takut dan frustrasi.

Biaya sebesar Rp26 juta tersebut mencakup akomodasi, makan, seragam, peralatan pelatihan, serta jasa instruktur profesional. Menurut penyelenggara, biaya ini relatif sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh peserta. Mereka menegaskan bahwa program ini telah terbukti efektif dalam mengasah karakter dan kemandirian anak.

Tanggapan dari Orang Tua

Respons dari para orang tua terhadap program ini bervariasi. Ada yang mendukung sepenuhnya dan menganggap ini sebagai investasi penting untuk masa depan anak. "Dunia semakin sulit, saya ingin anak saya siap menghadapinya. Biaya mahal, tapi kalau hasilnya bagus, saya rasa worth it," ujar Budi, salah satu orang tua yang mendaftarkan anaknya.

Di sisi lain, ada pula kritik yang muncul. Beberapa orang tua berpendapat bahwa biaya tersebut terlalu mahal untuk program pelatihan anak. Mereka berargumen bahwa keterampilan bertahan hidup seharusnya dapat diajarkan dalam keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar itu. "Saya khawatir juga dengan keamanan anak di tengah program yang begitu intensif," kata Siti, seorang ibu dari dua anak.

Keamanan dan Aspek Kesehatan

Menanggapi kekhawatiran mengenai keamanan, penyelenggara menegaskan bahwa semua aspek keamanan dan kesehatan menjadi prioritas utama. Mereka menyatakan telah menyiapkan tim medis yang siap siaga 24 jam selama pelatihan berlangsung. Selain itu, semua instruktur telah disertifikasi dan memiliki pengalaman dalam bidangnya.

Peserta juga akan diperiksa kesehatan sebelum dan selama program untuk memastikan mereka dalam kondisi fisik yang memadai. "Kami tidak ingin ada korban dalam program ini. Keselamatan anak adalah yang utama," jelas salah perwakilan penyelenggara.

Dampak Jangka Panjang bagi Anak

Banyak ahli psikologi dan pendidikan yang memberikan perspektif berbeda mengenai program ini. Menurut Dr. Ratna, seorang psikolog anak, program seperti ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi perkembangan anak. "Belajar menghadapi kesulitan secara langsung dapat membangun ketahanan mental dan kemandirian yang sulit diperoleh di lingkungan yang terlalu protektif," ujarnya.

Akan tetapi, Dr. Ratna juga menyarankan agar orang tua perlu mempertimbangkan karakteristik individu anak sebelum mendaftarkan mereka dalam program semacam ini. "Tidak semua anak siap menghadapi tantangan seberat ini. Orang tua perlu memahami kapasitas emosional dan fisik anak mereka," tambahnya.

Sementara itu, beberapa peserta sebelumnya telah melaporkan perubahan positif setelah mengikuti program. Mereka merasa lebih percaya diri, mandiri, dan mampu menghadapi tekanan dengan lebih baik. Beberapa bahkan mengaku memiliki pandangan baru mengenai kehidupan dan tanggung jawab.

Tren Serupa di Dunia

Fenomena program pelatihan bertahan hidup untuk anak dengan biaya mahal bukanlah hal baru di dunia. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman telah lama memiliki program serupa yang menarik minat orang tua kelas menengah ke atas. Program-program ini sering kali menawarkan pengalaman eksklusif yang dianggap dapat mempersiapkan anak menghadapi tantangan global.

Di Indonesia, tren ini baru-baru ini mulai populer seiring dengan semakin kesadaran orang tua pentingnya keterampilan hidup di luar akademik. Meski demikian, biaya yang dikeluarkan masih menjadi pertimbangan utama bagi banyak keluarga.

Dengan semakin banyaknya pilihan program pelatihan karakter yang tersedia, orang tua di Indonesia dihadapkan pada beragam opsi untuk mengembangkan potensi anak. Namun, keseimbangan antara investasi untuk masa depan dan kelayakan biaya tetap menjadi pertimbangan penting dalam setiap keputusan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter