30, 2026
Teknologi

Lebih dari 230 Juta HP Murah bakal Hilang di Pasar Akibat AI

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Industri telepon seluler global bersiap menghadapi salah satu pergeseran struktural terbesar dalam satu dekade terakhir. Gelombang adopsi kecerdasan buatan atau AI diprediksi akan memicu penyusutan drastis segmen ponsel pintar kelas bawah. Sebuah analisis industri memperkirakan lebih dari 230 juta unit ponsel murah akan hilang dari pasar dalam beberapa tahun ke depan seiring produsen mengalihkan fokus ke perangkat dengan kemampuan AI.

Pergeseran Prioritas Produsen ke Perangkat Berkemampuan AI

Sejumlah produsen ponsel pintar utama dunia mulai mengurangi produksi model entry-level yang selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan di pasar berkembang. Alokasi komponen, kapasitas produksi, dan anggaran riset dan pengembangan kini diarahkan ke perangkat yang mampu menjalankan model AI secara langsung di perangkat, atau yang dikenal sebagai on-device AI.

Langkah ini didorong oleh pergeseran permintaan konsumen. Pengguna semakin mencari ponsel yang dapat menjalankan asisten digital cerdas, penerjemahan waktu nyata, pengeditan foto berbasis AI, hingga fitur ringkasan dokumen tanpa bergantung pada koneksi internet. Fitur-fitur tersebut membutuhkan chipset dengan kemampuan pemrosesan neural yang lebih tinggi, memori lebih besar, dan sistem pendingin yang lebih baik.

Konsekuensinya, biaya produksi perangkat naik. Ponsel dengan harga jual di bawah 150 dolar Amerika Serikat menjadi semakin sulit diproduksi secara menguntungkan ketika komponen inti harus memenuhi standar komputasi AI. Produsen kemudian memilih mengurangi lini produk murah mereka daripada menjual perangkat dengan margin tipis.

Dampak bagi Pasar Negara Berkembang

Penghapusan ratusan juta unit ponsel murah dari pasar berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Di banyak negara Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin, ponsel pintar berharga rendah merupakan pintu masuk utama masyarakat ke layanan digital, termasuk perbankan, pendidikan, dan layanan pemerintah.

Jika pasokan perangkat murah menyusut, harga ponsel pintar di segmen terbawah berisiko naik. Masyarakat berpenghasilan rendah dapat tertahan menggunakan perangkat lama yang tidak mendukung aplikasi terbaru, atau bahkan tertinggal dari ekosistem digital yang semakin bergantung pada AI.

Operator telekomunikasi juga menghadapi tantangan tersendiri. Basis pelanggan baru yang selama ini ditopang penjualan ponsel murah dapat melambat. Padahal, banyak operator tengah mendorong migrasi pelanggan dari jaringan generasi lama ke jaringan 4G dan 5G yang membutuhkan perangkat kompatibel.

Respons Rantai Pasokan dan Produsen Chip

Produsen chipset global telah mengumumkan lini prosesor khusus yang mendukung komputasi AI untuk kelas menengah. Namun, harga chip tersebut masih berada di atas kemampuan segmen ponsel ultra-murah. Beberapa vendor dilaporkan sedang mengembangkan varian chip AI dengan biaya lebih rendah, tetapi ketersediaannya secara massal diperkirakan baru terwujud dalam beberapa tahun.

Di sisi lain, produsen komponen seperti modul memori, sensor kamera, dan baterai turut menyesuaikan strategi. Permintaan akan memori berkapasitas besar meningkat, sementara permintaan untuk komponen generasi lama menurun. Penyesuaian ini mempercepat hilangnya model ponsel murah dari daftar produksi.

Sejumlah analis menilai konsolidasi pasar tidak terhindarkan. Merek-merek kecil yang selama ini bersaing di segmen harga rendah berisiko tersingkir karena tidak mampu membeli komponen AI dalam jumlah besar dengan harga kompetitif. Sementara itu, merek besar dengan skala ekonomi luas lebih mampu menekan biaya dan tetap menyediakan perangkat AI di kelas menengah.

Proyeksi Jangka Panjang dan Antisipasi Regulasi

Dalam jangka menengah, pasar diperkirakan akan terbelah menjadi dua kutub. Kutub pertama adalah perangkat AI kelas menengah ke atas dengan harga yang terus turun seiring kematangan teknologi. Kutub kedua adalah perangkat lama yang tetap beredar di pasar sekunder dan dijual kembali dengan harga sangat murah.

Beberapa pemerintah di negara berkembang mulai mencermati dampak kebijakan ini terhadap inklusi digital. Wacana untuk memberikan insentif fiskal bagi produksi ponsel terjangkau, atau menyediakan program subsidi perangkat bagi kelompok berpenghasilan rendah, mulai mengemuka. Namun, hingga kini belum ada kebijakan regional yang disepakati secara luas.

Yang jelas, hilangnya lebih dari 230 juta unit ponsel murah dari pasar bukan sekadar persoalan bisnis. Ini menyangkut masa depan akses digital bagi ratusan juta orang yang selama ini mengandalkan perangkat terjangkau untuk terhubung dengan dunia. Bagaimana industri dan pembuat kebijakan menyeimbangkan dorongan inovasi AI dengan kebutuhan inklusi digital akan menjadi salah satu pertanyaan penting dalam beberapa tahun mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter