30, 2026
Nasional

Luhut Bicara Hubungannya Kini dengan Jokowi, Sebut Sosok Patut Dicontoh

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara mengenai hubungannya dengan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang kini disebutnya tetap terjalin baik. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah forum diskusi publik yang membahas isu kepemimpinan nasional.

Dalam forum tersebut, Luhut menuturkan bahwa Jokowi merupakan sosok yang patut dicontoh, terutama dalam hal kepemimpinan, kedisiplinan kerja, dan komitmen terhadap pembangunan. Menurutnya, pengalaman bekerja bersama Jokowi selama dua periode pemerintahan memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak ia dapatkan di tempat lain.

"Saya kira apa yang saya pelajari dari beliau itu hal-hal yang konkret, bukan hanya soal teori," ujar Luhut, dikutip dari keterangannya kepada awak media di Jakarta, Kamis (20/3/2025). Ia menegaskan tak ada keretakan dalam hubungan pribadinya dengan Jokowi, meskipun dinamika politik nasional pasca-Pemilu 2024 sempat menghangat.

Latar Belakang Hubungan Luhut dan Jokowi

Luhut dan Jokowi memiliki sejarah kerja sama panjang. Luhut masuk dalam jajaran kabinet Jokowi sejak periode pertama, menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sebelumnya, ia sempat ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dalam masa transisi pemerintahan.

Sejumlah proyek strategis nasional seperti pengembangan infrastruktur di kawasan Indonesia Timur, hilirisasi tambang, dan pembangunan kawasan wisata superprioritas merupakan bagian dari kerja sama keduanya. Luhut sering disebut sebagai salah satu menteri paling berpengaruh pada era pemerintahan Jokowi.

Namun, menjelang akhir masa jabatan, hubungan keduanya kerap menjadi sorotan publik. Beberapa pengamat menilai ada pergeseran kedekatan politik setelah Jokowi tak lagi memiliki kewenangan penuh dalam kabinet. Luhut membantah anggapan tersebut.

Respons atas Isu Keretakan Politik

"Tidak ada yang berubah. Saya tetap berkomunikasi dengan beliau, tentu dalam kapasitas masing-masing sekarang," kata Luhut. Ia menyebut komunikasi yang terjalin lebih banyak bersifat pribadi dan tidak selalu terkait urusan pemerintahan.

Luhut juga menyoroti pentingnya menjaga etika politik dan kebersamaan pasca-reformasi. Menurutnya, perbedaan pandangan politik merupakan hal wajar dalam demokrasi, tetapi tidak seharusnya memutus silaturahmi kebangsaan.

"Jangan kita bikin republik ini pecah hanya karena beda pilihan. Itu pesan yang selalu saya pegang," ujarnya.

Sosok Jokowi Menurut Luhut

Lebih lanjut, Luhut menilai Jokowi punya gaya kepemimpinan yang khas, terutama dalam hal mengambil keputusan cepat dan blusukan ke lapangan. Hal itu, kata dia, membuat banyak kebijakan pusat bisa lebih mudah diterima di daerah.

"Beliau itu sangat detail, perhatian pada hal-hal kecil yang berdampak pada rakyat. Misalnya kualitas jalan, harga sembako, itu beliau hafal di luar kepala," ucap Luhut.

Ia juga menyebut Jokowi konsisten mendorong agenda hilirisasi dan pembangunan sumber daya manusia. Menurut Luhut, keberlanjutan program-program tersebut perlu dijaga oleh pemerintahan berikutnya agar investasi yang sudah berjalan tidak terputus.

Pandangan Pengamat

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Ahmad Kurniawan, menilai pernyataan Luhut tersebut sebagai bagian dari upaya merawat narasi kebersamaan di tengah dinamika koalisi usai pemilu. "Pernyataan seperti ini penting untuk menenangkan basis pendukung dan menjaga stabilitas politik," katanya.

Namun, ia mengingatkan publik tetap perlu melihat substansi kebijakan, bukan hanya kedekatan personal antar-elite. "Yang lebih penting adalah bagaimana arah pembangunan dan demokrasi ke depan, apakah konsisten dengan janji konstitusi," tambahnya.

Sementara itu, peneliti politik dari lembaga independen, Dwi Lestari, menilai pernyataan Luhut bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dirinya masih ingin menjaga posisi strategis dalam peta politik nasional. "Kedekatan dengan mantan presiden itu tetap punya nilai tawar politik," ujarnya.

Implikasi bagi Pemerintahan Prabowo

Pernyataan Luhut muncul di tengah transisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mulai menata kabinet dan program prioritas. Sejumlah menteri era Jokowi masih dipercaya melanjutkan jabatan, termasuk di sektor ekonomi dan investasi.

Kehadiran figur-figur lama dinilai bisa memberikan kesinambungan kebijakan, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti perlambatan ekonomi, tekanan geopolitik, dan transisi energi. Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan soal regenerasi kepemimpinan dan dominasi kelompok tertentu.

Luhut menegaskan mendukung penuh pemerintahan baru dan berkomitmen membantu sesuai kapasitasnya. "Saya siap membantu kalau memang dibutuhkan. Negara ini harus terus maju," tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antarpihak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, stabilitas politik dan kepastian hukum menjadi kunci utama menarik investasi asing.

Penutup

Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa hubungan pribadinya dengan Jokowi tetap harmonis, meskipun posisi keduanya kini berbeda. Sosok Jokowi disebutnya sebagai teladan dalam kepemimpinan dan kerja keras.

Publik menantikan apakah pesan kebersamaan tersebut benar-benar tercermin dalam praktik politik sehari-hari, terutama menjelang penyusunan kebijakan strategis pemerintahan mendatang. Yang jelas, dinamika komunikasi antar-elite tetap menjadi penentu arah stabilitas nasional.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara mengenai hubungannya dengan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang kini disebutnya tetap terjalin baik. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah forum diskusi publik yang membahas isu kepemimpinan nasional.

Dalam forum tersebut, Luhut menuturkan bahwa Jokowi merupakan sosok yang patut dicontoh, terutama dalam hal kepemimpinan, kedisiplinan kerja, dan komitmen terhadap pembangunan. Menurutnya, pengalaman bekerja bersama Jokowi selama dua periode pemerintahan memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak ia dapatkan di tempat lain.

"Saya kira apa yang saya pelajari dari beliau itu hal-hal yang konkret, bukan hanya soal teori," ujar Luhut, dikutip dari keterangannya kepada awak media di Jakarta, Kamis (20/3/2025). Ia menegaskan tak ada keretakan dalam hubungan pribadinya dengan Jokowi, meskipun dinamika politik nasional pasca-Pemilu 2024 sempat menghangat.

Latar Belakang Hubungan Luhut dan Jokowi

Luhut dan Jokowi memiliki sejarah kerja sama panjang. Luhut masuk dalam jajaran kabinet Jokowi sejak periode pertama, menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sebelumnya, ia sempat ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dalam masa transisi pemerintahan.

Sejumlah proyek strategis nasional seperti pengembangan infrastruktur di kawasan Indonesia Timur, hilirisasi tambang, dan pembangunan kawasan wisata superprioritas merupakan bagian dari kerja sama keduanya. Luhut sering disebut sebagai salah satu menteri paling berpengaruh pada era pemerintahan Jokowi.

Namun, menjelang akhir masa jabatan, hubungan keduanya kerap menjadi sorotan publik. Beberapa pengamat menilai ada pergeseran kedekatan politik setelah Jokowi tak lagi memiliki kewenangan penuh dalam kabinet. Luhut membantah anggapan tersebut.

Respons atas Isu Keretakan Politik

"Tidak ada yang berubah. Saya tetap berkomunikasi dengan beliau, tentu dalam kapasitas masing-masing sekarang," kata Luhut. Ia menyebut komunikasi yang terjalin lebih banyak bersifat pribadi dan tidak selalu terkait urusan pemerintahan.

Luhut juga menyoroti pentingnya menjaga etika politik dan kebersamaan pasca-reformasi. Menurutnya, perbedaan pandangan politik merupakan hal wajar dalam demokrasi, tetapi tidak seharusnya memutus silaturahmi kebangsaan.

"Jangan kita bikin republik ini pecah hanya karena beda pilihan. Itu pesan yang selalu saya pegang," ujarnya.

Sosok Jokowi Menurut Luhut

Lebih lanjut, Luhut menilai Jokowi punya gaya kepemimpinan yang khas, terutama dalam hal mengambil keputusan cepat dan blusukan ke lapangan. Hal itu, kata dia, membuat banyak kebijakan pusat bisa lebih mudah diterima di daerah.

"Beliau itu sangat detail, perhatian pada hal-hal kecil yang berdampak pada rakyat. Misalnya kualitas jalan, harga sembako, itu beliau hafal di luar kepala," ucap Luhut.

Ia juga menyebut Jokowi konsisten mendorong agenda hilirisasi dan pembangunan sumber daya manusia. Menurut Luhut, keberlanjutan program-program tersebut perlu dijaga oleh pemerintahan berikutnya agar investasi yang sudah berjalan tidak terputus.

Pandangan Pengamat

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Ahmad Kurniawan, menilai pernyataan Luhut tersebut sebagai bagian dari upaya merawat narasi kebersamaan di tengah dinamika koalisi usai pemilu. "Pernyataan seperti ini penting untuk menenangkan basis pendukung dan menjaga stabilitas politik," katanya.

Namun, ia mengingatkan publik tetap perlu melihat substansi kebijakan, bukan hanya kedekatan personal antar-elite. "Yang lebih penting adalah bagaimana arah pembangunan dan demokrasi ke depan, apakah konsisten dengan janji konstitusi," tambahnya.

Sementara itu, peneliti politik dari lembaga independen, Dwi Lestari, menilai pernyataan Luhut bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dirinya masih ingin menjaga posisi strategis dalam peta politik nasional. "Kedekatan dengan mantan presiden itu tetap punya nilai tawar politik," ujarnya.

Implikasi bagi Pemerintahan Prabowo

Pernyataan Luhut muncul di tengah transisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mulai menata kabinet dan program prioritas. Sejumlah menteri era Jokowi masih dipercaya melanjutkan jabatan, termasuk di sektor ekonomi dan investasi.

Kehadiran figur-figur lama dinilai bisa memberikan kesinambungan kebijakan, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti perlambatan ekonomi, tekanan geopolitik, dan transisi energi. Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan soal regenerasi kepemimpinan dan dominasi kelompok tertentu.

Luhut menegaskan mendukung penuh pemerintahan baru dan berkomitmen membantu sesuai kapasitasnya. "Saya siap membantu kalau memang dibutuhkan. Negara ini harus terus maju," tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antarpihak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, stabilitas politik dan kepastian hukum menjadi kunci utama menarik investasi asing.

Penutup

Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa hubungan pribadinya dengan Jokowi tetap harmonis, meskipun posisi keduanya kini berbeda. Sosok Jokowi disebutnya sebagai teladan dalam kepemimpinan dan kerja keras.

Publik menantikan apakah pesan kebersamaan tersebut benar-benar tercermin dalam praktik politik sehari-hari, terutama menjelang penyusunan kebijakan strategis pemerintahan mendatang. Yang jelas, dinamika komunikasi antar-elite tetap menjadi penentu arah stabilitas nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter