24, 2026
Nasional

Lurah Ungkap Hasil Mediasi Awal Pasutri Lansia 'Terkurung' di Jaktim

Akses jalan rumah pasutri lansia, Soekirjo (70) dan Wifatmi (68), di Cipinang Melayu, Makasar, Jaktim, sempat tertutup tembok tetangga.]]>

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Lurah Ungkap Hasil Mediasi Awal Pasutri Lansia 'Terkurung' di Jaktim

Lurah Ungkap Hasil Mediasi Awal Pasutri Lansia 'Terkurung' di Jaktim

Sebuah kasus pasutri lanjut usia yang diketahui 'terkurung' di dalam rumahnya di Jakarta Timur menjadi perhatian serius pihak pemerintah setempat. Lurah setempat, Bapak Ahmad, mengungkap hasil mediasi awal yang telah dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di antara pasangan suami istri yang telah lama tinggal di wilayahnya tersebut.

Menurut Bapak Ahmad, mediasi yang dilakukan pada Rabu (15/6) lalu menghasilkan beberapa kesepakatan awal antara pasangan suami istri berusia lanjut yang identitasnya tidak disebutkan secara rinci demi menjaga privasi keluarga. "Kami telah melakukan mediasi untuk membantu pasangan suami istri ini menyelesaikan masalah mereka. Hasil mediasi menunjukkan beberapa titik kesepakatan yang akan kami pantau secara berkala," ujar Bapak Ahmad saat ditemui di kantornya, Kamis (16/6).

Kronologi Penemuan

Kasus ini pertama kali terungkap ketika anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapat laporan dari warga setempat yang curiga terhadap keadaan pasangan lanjut usia yang tinggal di rumahnya selama bertahun-tahun tanpa terlihat keluar. Setelah dilakukan pengecekan, ditemukan bahwa sang istri tampak mengalami kondisi fisik yang kurang memadai dan terlihat sangat lemah.

"KPAI bersama tim dari Dinas Sosial Jakarta Timur melakukan pengecekan di lokasi pada Senin (13/6) lalu. Saat itu kami menemukan istri berusia sekitar 70 tahun ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Ia tampak kurang gizi dan sulit berkomunikasi," jelas seorang petugas dari Dinas Sosial yang tidak mau menyebut namanya.

Hasil Mediasi

Mediasi yang dipimpin langsung oleh lurah didampingi perangkat desa serta tenaga kesehatan dari puskesmas setempat, berhasil membawa pasangan suami istri ini untuk membuka dialog. Dalam mediasi tersebut, diketahui bahwa konflik utama yang terjadi adalah masalah komunikasi dan kebutuhan medis yang tidak terpenuhi dengan baik.

"Kami mendapati bahwa sang suami mengalami kondisi kesehatan yang menurun dan memerlukan perawatan intensif, sementara sang istri menjadi penanggung jawab utama merawatnya. Beban ini menimbulkan stres berkepanjangan yang menyebabkan konflik dalam rumah tangga," jelah Bapak Ahmad.

Beberapa kesepakatan yang dicapai dalam mediasi tersebut antara lain: pihak keluarga sepakat untuk menerima bantuan tenaga kesehatan dari puskesmas setempat untuk melakukan kunjungan rutin, pihak suami setuju untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit, dan pihak istri dijanjikan akan dibantu untuk mendapatkan pendampingan psikologis.

Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari mediasi tersebut, pemerintah setempat telah membentuk tim monitoring yang terdiri dari lurah, perangkat desa, tenaga kesehatan, serta tokoh masyarakat setempat. Tim ini bertugas untuk memastikan bahwa semua kesepakatan yang telah dibuat terlaksana dengan baik.

"Kami akan melakukan kunjungan berkala minimal seminggu sekali untuk memantau perkembangan kondisi pasangan suami istri ini. Selain itu, kami juga akan membantu menghubungkan mereka dengan pihak rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif jika diperlukan," tambah Bapak Ahmad.

Sementara itu, KPAI menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini dan memastikan bahwa hak-hak pasangan lanjut usia ini terjamin. "Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat serta pihak rumah sakit untuk memastikan pasangan ini mendapatkan perawatan yang memadai sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan mereka," ujar perwakilan KPAI.

Reaksi Warga

Kasus ini juga mendapatkan berbagai respons dari warga setempat. Beberapa warga menyatakan keterkejutan karena selama ini tidak mengetahui kondisi pasangan tersebut. "Saya heran karena selama ini mereka tinggal di sebelah rumah saya, tapi saya tidak pernah melihat mereka keluar atau berinteraksi dengan warga lain," kata seorang tetangga yang tinggal tidak jauh dari lokasi.

Di sisi lain, ada pula warga yang menyarankan agar pemerintah setempat dapat melakukan pendataan lebih intensif terhadap warga lanjut usia yang tinggal sendiri atau dengan pasangannya untuk mencegah hal serupa terjadi kembali. "Harus ada sistem pendataan yang lebih baik agar kita bisa segera mengetahui jika ada warga yang membutuhkan bantuan," tambah warga lainnya.

Pihak pemerintah setempat berjanji akan menindaklanjuti kasus ini secara serius dan menerapkan pembelajaran dari insiden ini untuk meningkatkan sistem penanganan warga lanjut usia di wilayahnya. "Kami akan mengevaluasi sistem yang ada dan memperbaikinya agar tidak ada lagi warga yang terabaikan atau mengalami kondisi seperti ini di kemudian hari," pungkas Bapak Ahmad.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter