Menbud Dorong Penguatan Ekosistem Budaya Hulu-Hilir di WCCE 2026
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem budaya yang terintegrasi antara hulu dan hilir. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Persiapan World Congress on Cultural Economy (WCCE) 2026 yang digunakan di Jakarta, Rabu (15/11/2023).
Dalam rapat yang dihadiri oleh para pemangku kebijakan, praktisi budaya, dan akademisi ini, Menbud mengemukakan bahwa pengembangan ekonomi kreatif dan budaya memerlukan sinergi antara berbagai pihak. "Ekosistem budaya yang kuat harus terintegrasi dari hulu (produksi, pengembangan, dan pendidikan) hingga hilir (pemasaran, distribusi, dan konsumsi)," ujar Menbud.
Target WCCE 2026 Sebagai Platform Global
World Congress on Cultural Economy (WCCE) 2026 diproyeksikan akan menjadi ajang internasional yang mengumpulkan pemikir, praktisi, dan pelaku industri budaya dari seluruh dunia. Acara ini diharapkan dapat menjadi platform untuk mempromosikan potensi ekonomi kreatif Indonesia sekaligus memperkaya wawasan tentang perkembangan ekonomi budaya global.
Strategi Penguatan Ekosistem Budaya
Untuk mewujudkan ekosistem budaya yang terintegrasi, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi akan mengimplementasikan beberapa strategi. Pertama, peningkatan kapasitas pelaku budaya melalui program pelatihan dan pendidikan formal maupun nonformal. Kedua, fasilitasi akses pasar bagi produk-produk budaya Indonesia baik secara domestik maupun internasional.
Ketiga, percepatan digitalisasi industri budaya melalui pengembangan platform digital yang memudahkan akses informasi dan distribusi karya. Keempat, pembenahan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri budaya, termasuk perlindungan kekayaan intelektual dan simplifikasi perizinan.
Keterlibatan Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal
Menbud menyorosi pentingnya peran pemerintah daerah dan komunitas lokal dalam membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan. Setiap daerah memiliki kekayaan budaya yang unik dan potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan.
Tantangan dan Peluang
Meski memiliki potensi besar, pengembangan ekonomi budaya di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Antara lain adalah kurangnya akses modal bagi pelaku usaha, rendahnya literasi digital, serta kesulitan dalam penetrasi pasar global. Selain itu, isu kekayaan intelektual dan persaingan produk impor juga menjadi tantangan tersendiri.
Di sisi lain, tantangan ini membuka peluang bagi kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dalam persiapan WCCE 2026, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk membangun jaringan internasional yang saling menguntungkan. "WCCE 2026 bukan hanya sekadar acara, tetapi juga kesempatan untuk membangun ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan dan inklusif," ujar Menbud.
Langkah Konkret Menuju WCCE 2026
Untuk memastikan keberhasilan WCCE 2026, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah merumuskan beberapa langkah konkret. Pertama, pembentukan panitia pelaksana yang terdiri dari berbagai unsur untuk memastikan koordinasi yang efektif. Kedua, penyusunan dokumen kerja yang merinci rencana aksi, timeline, dan anggaran.
Ketiga, pengembangan program unggulan yang akan dipamerkan dalam WCCE 2026, termasuk program pemberdayaan UMKM sektor budaya, digitalisasi warisan budaya, dan program pertukaran seniman internasional. Keempat, pembentukan jejaring mitra internasional untuk mempromosikan WCCE 2026 secara global.
Dengan persiapan yang matang, pemerintah optimis bahwa WCCE 2026 tidak hanya akan meningkatkan citra Indonesia di mata internasional, tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan budaya di Tanah Air. "Ekosistem budaya yang terintegrasi adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang maju berbasis budaya dan ekonomi kreatif," tutup Menbud.
Komentar (0)