23, 2026
Nasional

Man City Terancam Kehilangan Pemiliknya, Bos IFR Buka Suara soal Kasus Finansial

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Manchester City berada di titik paling rawan dalam sejarah modern klub. Bukan hanya karena ancaman sanksi atas 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League, tetapi juga karena status kepemilikan klub kini masuk ke dalam pembicaraan publik. Otoritas pengatur independen sepak bola Inggris atau IFR menegaskan bahwa persoalan finansial dan kepemilikan adalah dua hal yang saling terkait, dan keduanya berada dalam jangkauan kewenangan lembaga tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah munculnya spekulasi bahwa pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, berpotensi menghadapi konsekuensi terberat jika panel independen memutuskan klub terbukti melanggar aturan. Dalam kerangka regulasi baru, sanksi tidak lagi berhenti pada pengurangan poin, denda, atau larangan transfer. Regulator memiliki jalur untuk menilai kelayakan pemilik dan pengurus klub, termasuk kemungkinan memerintahkan perubahan struktur kepemilikan.

Bos IFR, dalam pernyataannya yang dikutip sejumlah media, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mencampuri proses peradilan internal Premier League, tetapi tetap memantau perkembangan kasus tersebut karena implikasinya luas bagi tata kelola sepak bola Inggris. Ia menyebut prinsip utamanya sederhana: klub harus dikelola secara berkelanjutan, transparan, dan tidak bergantung pada pemilik yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan.

Duduk perkara 115 dakwaan

Premier League melayangkan 115 dakwaan kepada Manchester City pada Februari 2023. Dakwaan itu mencakup dugaan pelanggaran aturan pelaporan keuangan yang akurat selama periode 2009 hingga 2018, dugaan tidak memberikan keterangan lengkap mengenai remunerasi manajer dan pemain, dugaan pelanggaran aturan financial fair play UEFA, serta dugaan ketidakpatuhan terhadap aturan profitabilitas dan keberlanjutan pada musim-musim berikutnya.

Klub asal Manchester itu secara konsisten membantah seluruh dakwaan. Manajemen City menyatakan memiliki bukti yang tidak terbantahkan dan siap membuktikannya di hadapan panel independen. Sidang pemeriksaan berlangsung tertutup, dipimpin panel yang dibentuk sesuai aturan Premier League, dan berjalan dalam rentang waktu yang panjang sebelum akhirnya dinyatakan selesai.

Hingga kini belum ada keputusan resmi. Namun rentang sanksi yang mungkin dijatuhkan sangat lebar, mulai dari denda, pengurangan poin, pembatasan transfer, hingga yang paling ekstrem berupa pengeluaran klub dari kompetisi. Dalam skenario terburuk, konsekuensinya tidak berhenti di level tim, tetapi merembet ke struktur korporasi City Football Group yang menaungi sejumlah klub di berbagai negara.

Kewenangan baru regulator

Regulator independen dibentuk melalui undang-undang tata kelola sepak bola yang disahkan parlemen Inggris. Mandatnya adalah memastikan keberlanjutan finansial klub, melindungi kepentingan suporter, dan mencegah praktik kepemilikan yang merugikan kompetisi. Regulator bekerja dengan sistem lisensi: klub wajib memenuhi syarat tertentu untuk bisa berkompetisi.

Diskualifikasi pemilik dan pengurus

Dalam kerangka itu, regulator memiliki kewenangan untuk menilai kelayakan pemilik, direktur, dan pengurus klub. Jika seseorang dinilai tidak layak, regulator dapat menjatuhkan sanksi, termasuk larangan menjabat atau berkecimpung dalam pengelolaan klub. Kewenangan inilah yang membuat frasa "kehilangan pemilik" bukan sekadar hiperbola.

Meski demikian, jalur tersebut tidak otomatis dan tidak sederhana. Regulator menegaskan setiap keputusan harus melalui proses uji kelayakan yang rinci, berbasis bukti, dan menghormati hak pihak yang diperiksa untuk membela diri. Bos IFR menekankan bahwa lembaganya tidak bertindak sebagai hakim atas perkara finansial yang sedang ditangani Premier League, melainkan menjalankan fungsi pengawasan sesuai mandat yang diberikan undang-undang.

Sikap klub dan Premier League

Manchester City menolak mengomentari secara rinci pernyataan regulator. Klub memilih bersandar pada proses hukum yang sedang berjalan dan menegaskan komitmennya terhadap aturan kompetisi. Di sisi lain, Premier League menjaga jarak dari perdebatan publik dan menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan panel independen.

Yang menjadi sorotan adalah soal waktu. Regulator baru mulai menjalankan fungsi pengawasan secara penuh, sementara kasus 115 dakwaan sudah berjalan lebih dulu. Situasi ini memunculkan pertanyaan soal seberapa jauh regulator dapat masuk ke perkara yang sudah ditangani mekanisme internal liga, dan sejauh mana keputusannya nanti dapat memengaruhi penilaian kelayakan pemilik.

Dampak bagi City Football Group dan industri

City Football Group bukan entitas kecil. Jaringan klubnya tersebar di beberapa benua, dengan Manchester City sebagai inti. Ketidakpastian soal status kepemilikan berpotensi memengaruhi nilai investasi, rencana ekspansi, dan kepercayaan mitra komersial. Bagi kompetisi secara keseluruhan, kasus ini menjadi ujian atas kredibilitas aturan finansial yang selama bertahun-tahun dikritik karena lemah dalam penegakan.

Klub-klub lain di Premier League mengamati perkembangan ini dengan saksama. Sebagian mendorong penegakan aturan yang tegas, sebagian lain khawatir preseden yang lahir dari kasus ini bisa melemahkan posisi mereka sendiri di kemudian hari. Regulator berada di tengah tarikan kepentingan itu.

Yang dinanti berikutnya

Keputusan panel independen atas 115 dakwaan menjadi kunci. Jika klub dinyatakan bersih, tekanan terhadap status kepemilikan akan mereda. Jika sebaliknya, rangkaian proses lanjutan hampir pasti terjadi, termasuk kemungkinan banding dan penilaian ulang oleh regulator.

Yang jelas, kasus ini telah mengubah cara sepak bola Inggris memandang hubungan antara uang, kepemilikan, dan integritas kompetisi. Manchester City berada di pusatnya, dan bos IFR memastikan bahwa tidak ada klub yang berada di luar jangkauan aturan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter