Mantan manajer Manchester United Erik ten Hag buka suara mengenai dua mantan anak asuhnya, Alejandro Garnacho dan Jadon Sancho. Dalam pemaparannya, pelatih asal Belanda itu menyoroti persoalan kedisiplinan dan mentalitas yang ia nilai sempat menjadi penghambat perkembangan kedua pemain selama berseragam Setan Merah. Ten Hag juga mengaku sempat menawarkan jalan keluar kepada keduanya, termasuk kemungkinan bergabung dengannya di Bayer Leverkusen.
Latar Belakang Konflik di Old Trafford
Ten Hag menangani Manchester United sejak 2022 hingga Oktober 2024. Selama periode itu, ia harus menghadapi sejumlah persoalan internal di ruang ganti, termasuk yang melibatkan pemain muda berbakat asal Argentina, Garnacho, dan penyerang sayap asal Inggris, Sancho. Menurut Ten Hag, kedua pemain memiliki kualitas teknis yang mumpuni, tetapi belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan taktik dan aturan internal tim.
Garnacho, yang menembus tim utama pada era Ten Hag, disebut kerap menjadi sorotan karena sikapnya. Ten Hag menilai pemain kelahiran 2004 itu perlu kedisiplinan lebih tinggi, baik dalam latihan maupun dalam pengambilan keputusan di lapangan. Meski demikian, ia tetap mengakui kontribusi Garnacho yang beberapa kali menjadi pembeda dalam pertandingan penting.
Sementara itu, hubungan Ten Hag dengan Sancho berlangsung lebih tegang. Konflik keduanya mencuat ke publik setelah Sancho menyampaikan pernyataan terbuka yang menyinggung soal perlakuan tidak adil. Sancho kemudian tersisih dari skuad utama dan sempat dipinjamkan ke Borussia Dortmund sebelum akhirnya kembali ke Manchester United.
Ajakan Pindah ke Leverkusen
Dalam pemaparannya, Ten Hag mengungkap bahwa ia sempat membuka peluang bagi Garnacho dan Sancho untuk melanjutkan karier di Bayer Leverkusen, klub yang ia tangani setelah meninggalkan Manchester United. Tawaran itu, menurutnya, bukan sekadar langkah untuk melepas pemain, melainkan upaya memberikan lingkungan baru yang dinilai lebih kondusif bagi perkembangan keduanya.
Ten Hag menilai Bundesliga memiliki karakter permainan yang cocok dengan gaya Garnacho dan Sancho, terutama karena menekankan transisi cepat dan permainan sayap. Ia menyebut keduanya masih memiliki usia yang produktif dan potensi besar apabila mampu menjaga konsistensi serta memperbaiki sikap profesional.
Namun, wacana tersebut tidak terealisasi. Garnacho dan Sancho mengambil jalur berbeda pada bursa transfer musim panas 2025. Garnacho memilih bergabung dengan Chelsea, sementara Sancho melanjutkan karier di Aston Villa dengan status pinjaman. Keduanya meninggalkan Manchester United setelah tidak lagi menjadi bagian dari rencana utama tim di bawah pelatih baru.
Persoalan Mentalitas dan Konsistensi
Ten Hag menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar kemampuan bermain. Menurutnya, sepakbola elite menuntut lebih dari bakat, yakni kedisiplinan harian, kepatuhan pada instruksi taktik, serta kemampuan menerima kritik. Ia menyebut sejumlah pemain muda di Manchester United menghadapi tekanan besar karena ekspektasi klub yang tinggi, sementara proses pendewasaan mereka belum selesai.
Kritik itu sejalan dengan pengalaman Ten Hag selama menangani Manchester United. Ia beberapa kali mengambil keputusan tegas terhadap pemain yang dinilai tidak memenuhi standar, termasuk mencoret nama dari daftar pertandingan. Kebijakan tersebut menuai perdebatan, tetapi ia bertahan pada prinsip bahwa aturan tim harus berlaku sama bagi semua pemain.
Dampak bagi Manchester United
Kepergian Garnacho dan Sancho menandai berakhirnya satu babak tersendiri dalam proyek pembangunan skuad Manchester United. Garnacho merupakan produk akademi yang sempat dianggap sebagai aset jangka panjang, sementara Sancho didatangkan dengan biaya transfer besar dari Borussia Dortmund pada 2021. Keduanya meninggalkan Old Trafford tanpa benar-benar memenuhi ekspektasi yang dibebankan saat kedatangan.
Bagi Ten Hag, pengalaman itu menjadi pelajaran tersendiri. Ia menilai manajemen pemain muda tidak cukup dilakukan lewat pendekatan taktik, tetapi juga melalui pembinaan karakter dan komunikasi yang intensif. Ia menyebut Leverkusen menjadi tempat ia mencoba menerapkan pendekatan serupa, dengan penekanan pada kedisiplinan dan tanggung jawab individu di dalam tim.
Hingga kini, Garnacho dan Sancho berupaya membangun kembali karier di klub masing-masing. Garnacho menghadapi tantangan berat bersaing di lini serang Chelsea yang padat, sedangkan Sancho berusaha menemukan konsistensi performa di Aston Villa. Publik sepakbola akan menilai apakah perpindahan tersebut benar-benar menyelesaikan persoalan yang sempat mengemuka selama keduanya berada di Manchester United.
Komentar (0)