20, 2026
Nasional

Masalah Vinicius Itu... Ngomongin Masa Lalu Melulu

Vinicius Jr dicap sedang turun jauh performanya. Malah sang winger, lebih banyak sebut-sebut kejayaan masa lalunya di Real Madrid.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Masalah Vinicius Itu... Ngomongin Masa Lalu Melulu

Nama Vinicius Junior nyaris tidak pernah lepas dari dua hal: aksi individunya di lapangan dan cerita yang ia bawa ke ruang publik di luar lapangan. Dalam beberapa tahun terakhir, penyerang Real Madrid itu berulang kali mengangkat persoalan yang sama, mulai dari kasus rasisme yang ia alami, keputusan wasit yang ia nilai tidak adil, hingga kekecewaan atas hasil Ballon d'Or. Bagi sebagian pihak, sikap itu adalah bentuk keberanian. Bagi sebagian lain, itulah masalahnya: narasi yang terus berputar pada masa lalu.

Kronologi yang Terus Diulang

Perhatian dunia terhadap Vinicius meledak setelah insiden di Stadion Mestalla pada Mei 2023. Dalam laga Valencia melawan Real Madrid, ia menjadi sasaran cemoohan rasial dari sebagian penonton. Laga sempat dihentikan, ia mendapat kartu merah, dan kasusnya bergulir ke ranah hukum. Sejak itu, pemain berusia 25 tahun tersebut hampir selalu mengaitkan pengalaman pribadinya dengan pembicaraan yang lebih luas tentang rasisme di sepak bola Spanyol.

Ia tidak berhenti pada satu peristiwa. Dalam sejumlah wawancara, Vinicius menyoroti bahwa masalah serupa masih terjadi di berbagai stadion. Salah satu pernyataannya yang paling banyak dikutip adalah ketika ia menyinggung penyelenggaraan Piala Dunia 2030 yang melibatkan Spanyol. Menurutnya, jika kondisi tidak berubah, negara tuan rumah layak dipertanyakan. Pernyataan itu memicu reaksi keras, termasuk dari kalangan pengurus liga dan sebagian media setempat yang menilai ia terlalu jauh mencampuri urusan tuan rumah turnamen.

Kritik yang Mengarah pada Narasi Berulang

Kritik utama bukan terletak pada isi keluhannya, melainkan pada pola penyampaiannya. Sejumlah pengamat menilai Vinicius cenderung menarik persoalan lama ke dalam setiap diskusi baru. Ketika performanya dibahas, ia dianggap mengalihkan perhatian ke pengalaman yang sudah terjadi. Ketika timnya kalah, ia disebut mengembalikan perdebatan ke isu yang sama.

Pola itu terlihat jelas dalam perdebatan seputar Ballon d'Or 2024. Vinicius datang sebagai salah satu favorit setelah menjadi tokoh kunci keberhasilan Real Madrid meraih gelar Liga Champions dan La Liga. Ketika trofi jatuh ke tangan Rodri, kubu Real Madrid memilih memboikot acara di Paris. Vinicius sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan penghargaan itu untuk merasa diakui. Namun reaksi publik justru berlanjut berbulan-bulan, dengan sebagian pendukung terus membandingkan statistik dan narasi masa lalu sebagai pembenaran.

Beban bagi Tim dan Ruang Ganti

Di lingkungan klub, isu ini tidak selalu mudah dikelola. Real Madrid secara resmi mendukung penuh pemainnya, terutama dalam kasus rasisme, dan bahkan melaporkan sejumlah oknum penonton ke pihak berwenang. Namun secara internal, kebutuhan untuk terus merespons narasi lama kerap dianggap mengganggu fokus. Pelatih dan rekan setim berulang kali diminta berkomentar, sehingga energi yang seharusnya diarahkan pada persiapan pertandingan tersedot ke perdebatan di luar lapangan.

Pembelaan: Bukan Masa Lalu, tapi Luka yang Belum Sembuh

Argumen dari kubu sebaliknya sama kuatnya. Bagi pendukung Vinicius, apa yang disebut "masa lalu" sesungguhnya belum pernah selesai. Kasus rasisme di stadion tidak berhenti pada satu insiden di Mestalla. Laporan-laporan lembaga pemantau diskriminasi di Spanyol menunjukkan bahwa keluhan serupa terus muncul dari musim ke musim. Dalam kerangka itu, mengulang cerita bukanlah bentuk obsesi, melainkan upaya memastikan persoalan tidak dilupakan.

Pandangan ini juga menyoroti ketimpangan perlakuan. Vinicius menilai dirinya lebih sering menjadi sasaran provokasi dan pengadilan media dibandingkan pemain lain dengan profil serupa. Ia pernah menyatakan bahwa dirinya tidak akan berhenti bersuara selama masih ada pemain muda yang mengalami hal yang sama. Pernyataan itu menempatkan isu ini bukan sebagai keluhan pribadi, melainkan sebagai advokasi kolektif.

Dampak pada Performa

Di tengah perdebatan, catatan statistik Vinicius tetap menjadi salah satu yang terbaik di Eropa. Kontribusi gol dan assist-nya menempatkannya sebagai motor serangan Real Madrid dan tim nasional Brasil. Namun fluktuasi performa kerap dikaitkan dengan tekanan psikologis akibat sorotan nonteknis. Sejumlah pengamat menilai ia perlu lebih selektif dalam merespons provokasi, sementara yang lain menilai tuntutan itu justru mengalihkan tanggung jawab dari pelaku rasisme kepada korban.

Yang jelas, narasi tentang Vinicius kini tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya. Media, pengurus liga, suporter, dan pihak-pihak berkepentingan lain ikut menentukan arah perdebatan. Setiap kali ia berbicara, kutipan lama kembali muncul, dan setiap kali ia mencetak gol, isu lama ikut terangkat. Siklus itu membuat sosoknya selalu berada di dua waktu sekaligus: pertandingan yang sedang berjalan dan peristiwa yang sudah lewat.

Penutup yang Belum Ditemukan

Pertanyaannya bukan lagi apakah Vinicius berhak bersuara, melainkan kapan persoalan ini akan benar-benar tuntas. Selama akar masalahnya, yakni perlakuan rasial di stadion dan lemahnya penindakan, belum terselesaikan, keluhan yang sama akan terus muncul. Sebaliknya, selama isu ini belum tuntas, kritik bahwa ia "terlalu sering membicarakan masa lalu" juga akan terus bergema. Dua narasi itu berjalan berdampingan, dan hingga kini belum ada pihak yang mampu memutusnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter