Media Inggris, The Athletic, membuka tabir sisi komersial di balik kesuksesan Timnas Indonesia pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam laporan investigatif yang diterbitkan pekan ini, media tersebut mengungkap bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, disebut memperoleh keuntungan finansial besar dari gelaran turnamen yang dimenangkan skuad Garuda tersebut.
Konteks Turnamen dan Kemenangan Indonesia
FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi turnamen pertama yang digelar di bawah bendera FIFA setelah organisasi sepak bola dunia itu mengambil alih pengelolaan kompetisi kawasan Asia Tenggara dari AFF. Indonesia keluar sebagai juara setelah mengalahkan Thailand di laga final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Kemenangan ini disambut euforia nasional, namun di balik perayaan tersebut, sejumlah pihak mulai mempertanyakan dampak komersial dan tata kelola turnamen.
Analisis The Athletic
The Athletic melaporkan bahwa format baru turnamen yang membawa nama FIFA membuka peluang pendapatan baru yang signifikan. Hak siar global, sponsorship tingkat dunia, serta paket digital turnamen disebut mengalami lonjakan nilai dibandingkan edisi terakhir Piala AFF. Media itu menyoroti bagaimana nama "FIFA" dalam judul turnamen meningkatkan daya tarik komersialnya di pasar internasional, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa sebagian besar pendapatan turnamen mengalir ke FIFA melalui skema lisensi dan pengelolaan hak komersial. Sumber yang dikutip The Athletic menyebut Infantino secara langsung mendapat keuntungan reputasi dan finansial, karena turnamen ini memperkuat posisi FIFA sebagai pengendali ekosistem sepak bola global di level kawasan.
Meski demikian, The Athletic tidak menyebut angka pasti keuntungan yang diperoleh Infantino. Media itu menekankan bahwa struktur kontrak dan distribusi pendapatan turnamen tidak dipublikasikan secara transparan, sehingga sulit menakar seberapa besar dana yang benar-benar kembali ke asosiasi anggota, termasuk PSSI.
Respons PSSI dan FIFA
PSSI melalui pernyataan resminya membantah tudingan bahwa Indonesia hanya menjadi "alat" komersial bagi FIFA. Menurut PSSI, keuntungan terbesar bagi Indonesia adalah prestasi olahraga, peningkatan peringkat FIFA, serta dampak ekonomi dari kunjungan wisatawan dan perputaran uang selama turnamen. PSSI juga menegaskan bahwa hak siar dan pendapatan turnamen dibagi berdasarkan perjanjian yang telah disepakati bersama.
Sementara itu, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas laporan The Athletic. Namun dalam beberapa kesempatan, Infantino menegaskan bahwa visinya adalah mengembangkan sepak bola di kawasan yang selama ini kurang tergarap, termasuk Asia Tenggara. Ia menyebut investasi FIFA di kawasan ini sebagai bagian dari komitmen global untuk memperluas basis penggemar sepak bola.
Dampak bagi Sepak Bola Indonesia dan Asia Tenggara
Terlepas dari polemik tersebut, gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 memberi Indonesia posisi tawar lebih tinggi di kancah sepak bola Asia. Prestasi ini membuka peluang Indonesia untuk mengikuti turnamen undangan tingkat dunia serta meningkatkan nilai jual pemain muda Indonesia di pasar transfer internasional.
Di sisi lain, kritik terhadap tata kelola turnamen menjadi peringatan bahwa sepak bola modern tidak bisa lepas dari kepentingan komersial. Pengamat sepak bola nasional menilai PSSI perlu memastikan bahwa kesepakatan dengan FIFA bersifat adil dan transparan, agar keuntungan tidak hanya dinikmati segelintir pihak di level global, tetapi juga dirasakan langsung oleh pembinaan sepak bola di Tanah Air.
The Athletic menutup laporannya dengan catatan bahwa kesuksesan Indonesia di lapangan justru memperkuat narasi FIFA tentang keberhasilan model turnamen baru mereka. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu pasar utama sepak bola dunia, dengan konsekuensi komersial yang semakin besar bagi FIFA dan para pemegang kepentingan di dalamnya.
Komentar (0)