30, 2026
Nasional

Mendagri Tito Ungkap Jejak Bahasa Indonesia Ada di Pulau Penyengat

Mendagri Tito Karnavian apresiasi pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.]]>

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Mendagri Tito Ungkap Jejak Bahasa Indonesia Ada di Pulau Penyengat

Mendagri Tito Karnavian Ungkap Jejak Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, menyimpan jejak sejarah penting bagi perkembangan Bahasa Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tito saat melakukan kunjungan kerja ke pulau bersejarah itu, yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu dan lokasi lahirnya tonggak awal bahasa persatuan bangsa.

Menurut Tito, Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan saksi bisu bagaimana Bahasa Indonesia dibentuk dan diperjuangkan oleh para tokoh bangsa. Ia menyebut pulau kecil yang pernah menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga tersebut sebagai salah satu titik nol perjalanan bahasa nasional yang kini digunakan oleh lebih dari 270 juta penduduk Indonesia.

Pulau Penyengat dan Peran Raja Ali Haji

Dalam penelusurannya, Tito menyoroti peran besar Raja Ali Haji, ulama, sastrawan, sekaligus pujangga besar Melayu yang lahir dan berkarya di Pulau Penyengat. Raja Ali Haji dikenal sebagai penulis Gurindam Dua Belas serta penyusun buku Pedoman Bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi penting bagi standardisasi Bahasa Indonesia.

"Di pulau ini, kita bisa melihat jejak bagaimana Bahasa Melayu yang menjadi akar Bahasa Indonesia dibakukan, ditata, dan dikembangkan menjadi bahasa yang modern dan terstruktur," ujar Tito di hadapan sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat setempat.

Tito menuturkan, peran Raja Ali Haji melalui karya-karyanya membuat Bahasa Melayu memiliki sistem tata bahasa yang jelas. Hal inilah yang membuat Bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa persatuan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 dan kemudian diikrarkan sebagai Bahasa Indonesia.

Jejak Literasi dan Warisan Intelektual

Mendagri juga menyinggung jejak literasi yang kuat di Pulau Penyengat pada masa kejayaan Kesultanan Riau-Lingga. Pulau itu pernah menjadi pusat penerbitan dan percetakan, bahkan memiliki tradisi tulis-menulis yang melahirkan banyak karya sastra, kitab keagamaan, hingga naskah hukum. Tradisi intelektual tersebut, kata dia, menjadi salah satu warisan berharga yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

"Pulau Penyengat ini menunjukkan bahwa tradisi literasi bangsa kita sudah sangat maju sejak dahulu. Bahasa Indonesia bukan bahasa yang lahir tiba-tiba, tetapi hasil dari proses panjang peradaban Melayu yang berpusat di kawasan ini," jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah terus memperkuat upaya pelestarian situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat, termasuk Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun dengan campuran putih telur, kompleks makam raja-raja, serta bangunan-bangunan peninggalan kesultanan lainnya. Menurut Tito, pelestarian warisan budaya ini penting tidak hanya untuk kepentingan wisata, tetapi juga untuk memperkuat identitas kebangsaan.

Relevansi bagi Generasi Muda dan Kebijakan Pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, Tito menekankan bahwa pemahaman terhadap sejarah bahasa harus menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pembinaan kesadaran berbangsa. Ia menilai generasi muda perlu mengetahui bahwa Bahasa Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari.

Mendagri juga mengaitkan keberadaan Pulau Penyengat dengan kebijakan pemerintah dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan di daerah. Menurutnya, Kementerian Dalam Negeri mendorong pemerintah daerah untuk mengintegrasikan muatan sejarah lokal, termasuk sejarah bahasa, dalam program pembinaan masyarakat dan kegiatan pendidikan nonformal.

"Bahasa adalah identitas. Kalau kita memahami sejarahnya, kita akan lebih menghargai dan menjaga bahasa persatuan ini. Pulau Penyengat adalah bukti nyata bahwa Bahasa Indonesia lahir dari kesadaran intelektual dan semangat persatuan," tutur Tito.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Pengembangan Wisata Sejarah

Kunjungan Mendagri ke Pulau Penyengat juga dimanfaatkan untuk meninjau sejumlah infrastruktur dan fasilitas publik di kawasan tersebut. Pemerintah Kota Tanjungpinang menyambut baik perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian situs sejarah Pulau Penyengat. Kepala daerah setempat menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan kawasan itu sebagai destinasi wisata edukasi berbasis sejarah dan budaya Melayu.

Pulau Penyengat selama ini menjadi salah satu ikon wisata di Kepulauan Riau. Akses menuju pulau dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan perahu motor dari Kota Tanjungpinang. Di pulau seluas kurang lebih 3,5 kilometer persegi itu terdapat berbagai peninggalan sejarah, seperti Masjid Raya Sultan Riau, Istana Kantor, Balai Adat, serta kompleks makam Raja Ali Haji dan para sultan Riau-Lingga.

Sejumlah kalangan menilai pernyataan Mendagri menjadi pengingat penting bahwa pelestarian bahasa dan sejarah tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keutuhan bangsa. Pulau Penyengat diharapkan terus menjadi pusat kajian dan pengembangan Bahasa Melayu serta Bahasa Indonesia, sekaligus menjadi destinasi yang mendidik generasi penerus tentang perjalanan panjang bahasa persatuan.

Dengan penekanan pada aspek historis dan kultural tersebut, kunjungan Mendagri ke Pulau Penyengat menegaskan posisi pulau itu sebagai salah satu situs penting dalam narasi kebangsaan Indonesia, khususnya dalam sejarah lahir dan berkembangnya Bahasa Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter