30, 2026
Nasional

Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan terpilih, berinovasi untuk kemandirian pangan dan pemberdayaan masyarakat.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) kembali menggelar ajang penghargaan bagi desa-desa yang dinilai berhasil mengembangkan kemandirian pangan. Melalui DPD RI Awards 2026, sepuluh kandidat terpilih masuk dalam tahap penjurian akhir untuk kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Kesepuluh kandidat tersebut berasal dari berbagai provinsi dan mewakili keragaman karakteristik wilayah, mulai dari desa pesisir, desa pegunungan, hingga desa dengan lahan pertanian terbatas.

Latar Belakang Penghargaan

DPD RI Awards merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan DPD RI sebagai bentuk apresiasi terhadap pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan individu yang berkontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan menyasar desa-desa yang mampu memenuhi kebutuhan pangan warganya secara mandiri, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis pertanian, peternakan, perikanan, dan produk olahan pangan.

Ketua Komite I DPD RI menyatakan bahwa penilaian tahun ini menitikberatkan pada tiga aspek utama, yaitu keberlanjutan produksi pangan, keterlibatan masyarakat, serta dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh warga desa. Menurutnya, kemandirian pangan tidak cukup diukur dari produksi semata, tetapi juga dari kemampuan desa menjaga stabilitas pasokan, distribusi, dan konsumsi pangan di tingkat lokal.

Profil Sepuluh Kandidat

1. Desa Sumber Rejeki, Jawa Tengah

Desa ini mengembangkan sistem pertanian terpadu dengan memadukan padi, jagung, dan hortikultura. Lumbung pangan desa dikelola melalui badan usaha milik desa (BUMDes) yang menyerap hasil panen petani dengan harga stabil. Program pekarangan pangan lestari juga diterapkan hampir di seluruh rumah tangga.

2. Desa Mekar Jaya, Jawa Barat

Kandidat ini dikenal melalui gerakan peternakan kolektif berbasis kandang komunal. Warga mengelola ternak domba dan ayam kampung yang hasilnya menjadi sumber protein bagi keluarga sekaligus tambahan pendapatan. Pengolahan pupuk organik dari kotoran ternak menjadi nilai tambah tersendiri.

3. Desa Tani Makmur, Sumatera Utara

Desa ini memanfaatkan lahan kering untuk budidaya ubi kayu dan kacang tanah. Kelompok tani perempuan berperan besar dalam produksi olahan pangan rumahan, seperti keripik dan tepung lokal, yang dipasarkan hingga ke ibu kota kabupaten.

4. Desa Pesisir Bahari, Sulawesi Selatan

Sebagai desa pesisir, wilayah ini mengandalkan budidaya rumput laut dan perikanan tangkap skala kecil. Pemerintah desa membangun cold storage sederhana untuk menjaga kualitas hasil tangkapan dan menstabilkan harga jual.

5. Desa Subur Makmur, Kalimantan Timur

Desa ini mengembangkan sistem agroforestri dengan memadukan tanaman pangan dan tanaman keras. Program diversifikasi pangan mendorong warga mengonsumsi sumber karbohidrat alternatif seperti sagu dan umbi-umbian.

6. Desa Ngudi Rejeki, DI Yogyakarta

Kandidat ini menonjol melalui digitalisasi pencatatan stok pangan desa. Data produksi dan konsumsi diperbarui secara berkala sehingga distribusi bantuan pangan lebih tepat sasaran. Kelompok wanita tani aktif mengelola kebun bibit desa.

7. Desa Harapan Baru, Nusa Tenggara Barat

Desa ini berhasil mengatasi keterbatasan air melalui pembangunan embung dan sistem irigasi tetes. Lahan yang sebelumnya tidak produktif kini ditanami sayuran bernilai ekonomi tinggi untuk memenuhi pasar lokal.

8. Desa Sari Bumi, Bali

Pendekatan berbasis adat dan subak menjadi ciri khas kandidat ini. Sistem irigasi tradisional dipadukan dengan manajemen modern, sementara hasil pertanian diolah menjadi produk pangan khas desa yang mendukung sektor pariwisata.

9. Desa Karya Nyata, Papua

Desa ini mengembangkan kebun pangan komununal dengan komoditas sagu, pisang, dan sayuran lokal. Pendampingan dari penyuluh pertanian membantu warga meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.

10. Desa Rukun Tani, Sumatera Barat

Kandidat terakhir mengandalkan integrasi sawah dan kolam ikan serta pengelolaan koperasi desa yang aktif. Koperasi berperan sebagai penampung hasil panen dan penyedia sarana produksi pertanian bagi anggotanya.

Proses Penjurian dan Harapan

Penilaian dilakukan melalui verifikasi dokumen, kunjungan lapangan, serta wawancara dengan pemerintah desa dan kelompok masyarakat. Dewan juri melibatkan akademisi, praktisi pertanian, dan perwakilan kementerian terkait. Pemenang dijadwalkan diumumkan pada puncak acara DPD RI Awards 2026.

Komite I DPD RI berharap ajang ini tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi sarana berbagi praktik baik antardesa. Pengalaman sepuluh kandidat dinilai dapat direplikasi oleh desa lain dengan penyesuaian terhadap kondisi geografis, sosial, dan budaya setempat. Dengan demikian, kemandirian pangan diharapkan tumbuh dari tingkat desa dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter