Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan fasilitas hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mulai beroperasi pada 1 Juli 2027. Proyek strategis ini dirancang untuk memangkas rantai distribusi pangan sekaligus memastikan ketersediaan daging ayam bagi masyarakat dengan harga yang lebih stabil.
Dalam kunjungan kerja ke lokasi proyek di Bone, Mentan menyatakan bahwa pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi tersebut bukan sekadar membangun pabrik, tetapi merupakan upaya membangun ekosistem produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit, pakan, peternakan, rumah potong hewan, hingga pengolahan produk siap konsumsi.
Integrasi dari Hulu ke Hilir
Konsep hilirisasi yang dikembangkan di Bone menggabungkan beberapa lini usaha sekaligus. Pada sisi hulu, pemerintah mendorong pengembangan kandang ayam beserta sarana pendukung seperti pakan dan vaksin. Pada sisi hilir, dibangun rumah potong hewan modern dengan kapasitas pemotongan yang memadai, fasilitas pendingin atau cold storage, serta unit pengolahan lanjutan menjadi produk bernilai tambah.
Mentan menilai integrasi semacam ini penting karena selama ini rantai pasok ayam nasional kerap terpotong menjadi banyak mata rantai yang membuat harga di tingkat konsumen jauh lebih mahal dibanding harga di peternak. Dengan sistem terintegrasi, jarak antara produsen dan konsumen dipersingkat, sehingga fluktuasi harga dapat ditekan.
Target Operasional 1 Juli 2027
Pemerintah menetapkan tenggat operasional pada 1 Juli 2027. Tenggat itu disebut telah mempertimbangkan waktu pembangunan fisik, pemasangan peralatan, uji coba produksi, serta sertifikasi keamanan pangan. Mentan menegaskan bahwa target tersebut harus dicapai oleh semua pihak yang terlibat, baik pemerintah daerah, badan usaha, maupun mitra peternak rakyat.
Menurutnya, keberadaan fasilitas hilirisasi di Bone akan menjadi percontohan bagi daerah lain. Ia berharap model tersebut bisa direplikasi di berbagai sentra peternakan ayam di Indonesia agar ketahanan pangan nasional semakin kokoh.
Dampak bagi Peternak dan Perekonomian Daerah
Kehadiran proyek ini diperkirakan memberi dampak langsung kepada peternak rakyat di Kabupaten Bone dan sekitarnya. Peternak tidak lagi bergantung pada tengkulak untuk menjual hasil produksinya karena fasilitas hilirisasi menyediakan penyerapan hasil ternak dengan skema kemitraan.
Selain itu, pembangunan fasilitas tersebut berpotensi menyerap tenaga kerja lokal, baik pada tahap konstruksi maupun saat operasional. Lapangan kerja baru akan muncul di sektor pemotongan, pengolahan, pengemasan, logistik, dan pemasaran.
Pemerintah daerah menyambut baik investasi ini. Mereka menilai hilirisasi ayam terintegrasi dapat menggerakkan ekonomi wilayah serta meningkatkan pendapatan asli daerah melalui aktivitas industri dan perdagangan. Beberapa pelaku usaha juga diharapkan masuk sebagai mitra, terutama pada sektor pengolahan produk turunan ayam yang memiliki pasar luas.
Tantangan yang Harus Diatasi
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi. Ketersediaan bahan baku pakan, terutama jagung dan bungkil kedelai, menjadi persoalan yang harus diantisipasi. Fluktuasi harga pakan global dapat memengaruhi biaya produksi dan daya saing produk.
Selain itu, aspek biosekuriti dan kesehatan hewan menjadi perhatian penting. Wabah penyakit pada unggas dapat mengganggu pasokan bahan baku ke fasilitas hilirisasi. Karena itu, sistem pengawasan kesehatan hewan harus diperkuat sejak dari peternakan.
Masalah lain adalah kesiapan sumber daya manusia. Operasional rumah potong hewan modern dan unit pengolahan membutuhkan tenaga kerja terlatih yang memahami standar keamanan pangan, sanitasi, serta teknik pengolahan yang benar.
Bagian dari Strategi Ketahanan Pangan
Proyek hilirisasi ayam di Bone merupakan bagian dari strategi besar Kementerian Pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan, khususnya penyediaan protein hewani. Daging ayam menjadi salah satu sumber protein yang paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia sehingga stabilitas pasokan dan harganya sangat penting.
Mentan berulang kali menekankan bahwa pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Nilai tambah harus dinikmati oleh petani dan peternak melalui pengolahan di dalam negeri. Hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga mampu mengolah dan memasarkan produk jadi.
Dengan target operasional 1 Juli 2027, pemerintah berharap fasilitas hilirisasi ayam terintegrasi di Bone dapat menjadi tonggak baru dalam tata kelola industri perunggasan nasional yang lebih efisien, berkeadilan, dan berkelanjutan. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan serupa di daerah lain.
Komentar (0)