30, 2026
Nasional

Salju Abadi di Puncak Jaya Papua Tak Lagi Abadi, 2027 Diprediksi Hilang

Salju abadi di Puncak Jaya, pegunungan Carstensz di Papua, Indonesia, diperkirakan akan menghilang tak lama lagi. Prediksi waktunya semakin mendekati.]]>

Dewi Lestari
Dewi Lestari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Salju Abadi di Puncak Jaya Papua Tak Lagi Abadi, 2027 Diprediksi Hilang

Salju abadi yang selama ribuan tahun menyelimuti Puncak Jaya di Pegunungan Sudirman, Papua, berada di ambang kepunahan. Berbagai kajian iklim dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa lapisan es tropis yang menjadi salah satu dari sedikit gletser tropis di dunia itu terus menyusut secara signifikan, dan diprediksi akan hilang sepenuhnya pada 2027 atau paling lambat awal dekade berikutnya jika laju pemanasan global tidak ditekan.

Gletser Tropis yang Tersisa di Dunia

Puncak Jaya, yang berada di ketinggian sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut, merupakan puncak tertinggi di Indonesia sekaligus salah satu lokasi yang memiliki gletser tropis. Selain di Papua, gletser tropis hanya dapat ditemukan di beberapa wilayah pegunungan tinggi di Afrika Timur, Pegunungan Andes, serta di Himalaya. Keberadaan salju abadi di Puncak Jaya telah lama menjadi objek penelitian ilmiah internasional, terutama karena posisinya yang unik di kawasan tropis dengan kelembapan tinggi.

Selama beberapa dekade terakhir, sejumlah ekspedisi dan penelitian menunjukkan tren penyusutan yang konsisten. Data dari berbagai lembaga penelitian mencatat bahwa luas lapisan es di Puncak Jaya telah berkurang drastis sejak awal abad ke-20. Pada awal 1900-an, lapisan es diperkirakan masih mencakup area yang jauh lebih luas, namun kini hanya tersisa beberapa bidang kecil yang terfragmentasi di sekitar puncak.

Faktor Penyebab Penyusutan

Penyusutan salju abadi di Puncak Jaya dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor. Pertama, kenaikan suhu udara global akibat emisi gas rumah kaca mengakibatkan percepatan pencairan es di kawasan pegunungan tinggi. Kedua, fenomena El Nino yang membuat curah hujan berkurang dan suhu menjadi lebih hangat turut mempercepat hilangnya lapisan es.

Ketiga, perubahan pola presipitasi mengurangi pasokan salju baru yang seharusnya menebalkan kembali lapisan es. Ketika curah hujan salju menurun sementara proses pencairan terus berlangsung, keseimbangan massa gletser pun terganggu secara permanen. Keempat, aktivitas manusia di sekitar kawasan, termasuk pembukaan lahan dan operasi pertambangan di wilayah pegunungan, dikhawatirkan turut memengaruhi kondisi iklim mikro setempat.

Dampak Ekologis dan Sosial

Hilangnya salju abadi di Puncak Jaya bukan sekadar kehilangan pemandangan alam. Peristiwa ini membawa dampak ekologis yang serius. Lapisan es berfungsi sebagai penyimpan air yang melepaskan cairan secara bertahap ke sungai-sungai di sekitarnya. Ketika es hilang, aliran sungai dapat mengalami perubahan pola, baik dari sisi debit maupun waktu ketersediaan air. Masyarakat adat di pegunungan Papua yang menggantungkan hidup pada sumber air dari kawasan tersebut berpotensi menghadapi kesulitan.

Selain itu, hilangnya gletser juga berdampak pada keanekaragaman hayati. Beberapa jenis flora dan fauna endemik yang beradaptasi dengan kondisi dingin di ketinggian dikhawatirkan kehilangan habitatnya. Perubahan suhu dan kelembapan dapat mendorong pergeseran zona vegetasi ke arah yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mengurangi luas ekosistem alpine tropis.

Peringatan Ilmiah dan Proyeksi 2027

Sejumlah ilmuwan memproyeksikan bahwa lapisan es di Puncak Jaya akan benar-benar lenyap sekitar tahun 2027. Proyeksi ini bukan tanpa dasar. Pengukuran yang dilakukan secara berkala menunjukkan percepatan laju pencairan dalam beberapa tahun terakhir. Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi berarti, maka generasi mendatang hanya akan mengenal salju abadi Puncak Jaya melalui dokumentasi foto dan catatan penelitian.

Indonesia sendiri telah memiliki komitmen dalam pengurangan emisi karbon melalui berbagai kebijakan nasional, termasuk target penurunan emisi sesuai perjanjian iklim internasional. Namun, upaya tersebut memerlukan konsistensi dan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat luas. Pengurangan emisi secara global juga menjadi kunci utama untuk memperlambat laju pemanasan yang berdampak pada gletser tropis.

Upaya Mitigasi dan Adaptasi

Di tingkat lokal, berbagai langkah mitigasi dan adaptasi dapat dilakukan. Pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi gletser perlu terus dilakukan untuk menyediakan data ilmiah yang akurat. Konservasi kawasan pegunungan, pengendalian aktivitas yang merusak lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat adat dalam menghadapi perubahan iklim menjadi agenda penting.

Selain itu, edukasi publik mengenai dampak perubahan iklim perlu digencarkan agar kesadaran kolektif terbangun. Pengurangan penggunaan energi fosil, transisi ke energi terbarukan, dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan merupakan kontribusi nyata yang dapat menekan laju pemanasan global.

Hilangnya salju abadi di Puncak Jaya menjadi simbol nyata bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Puncak Jaya yang dahulu dikenal sebagai satu-satunya lokasi bersalju di Indonesia kini menjadi saksi bisu percepatan krisis iklim. Tanpa aksi nyata dan terkoordinasi, prediksi kehilangan salju abadi pada 2027 akan menjadi catatan kelam dalam sejarah lingkungan Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dewi Lestari

Penulis kesehatan & nutrisi. Fokus pada topik gizi keluarga dan pola hidup sehat alami.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter