02, 2026
Ekonomi

Menteri Perindustrian Sarmuji Siapkan Jurus Lintas Kementerian untuk Genjot Ekonomi dan Lapangan Kerja

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/02/6abfb0411de94-menteri-perindustrian-sarmuji-siapkan-jurus-lintas-kementerian-untuk-genjot-ekonomi-dan-lapangan-kerja_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menteri Perindustrian Sarmuji Siapkan Jurus Lintas Kementerian untuk Genjot Ekonomi dan Lapangan Kerja

Menteri Perindustrian Sarmuji menyatakan kesiapannya menyusun sejumlah langkah strategis yang melibatkan kerja sama lintas kementerian guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Menurutnya, sektor industri memegang peran sentral sebagai penggerak utama ekonomi yang mampu memberikan efek berganda terhadap penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sarmuji menegaskan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu kementerian saja. Ia menilai diperlukan sinergi antara Kementerian Perindustrian dengan kementerian dan lembaga lain, terutama dalam hal penyediaan bahan baku, kemudahan investasi, penguatan pasar domestik, hingga peningkatan daya saing produk dalam negeri di pasar ekspor.

Sinergi Lintas Kementerian Jadi Kunci

Dalam sejumlah kesempatan, Sarmuji menekankan pentingnya koordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait insentif fiskal bagi sektor industri padat karya, serta dengan Kementerian Perdagangan untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga bahan baku. Selain itu, kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dinilai krusial untuk menjamin ketersediaan energi dengan harga kompetitif bagi kawasan industri.

Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan Kementerian Ketenagakerjaan dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pelatihan vokasi dan sertifikasi kompetensi dianggap sebagai instrumen penting agar angkatan kerja dapat terserap secara optimal, terutama di sektor manufaktur yang terus bertransformasi menuju otomatisasi dan digitalisasi.

Menurut Sarmuji, pendekatan lintas kementerian tersebut akan diarahkan pada sejumlah prioritas, antara lain industri pengolahan sumber daya alam, industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri otomotif termasuk kendaraan listrik. Sektor-sektor itu dinilai memiliki keterkaitan luas dengan usaha kecil dan menengah serta menyerap banyak tenaga kerja.

Dorong Investasi dan Hilirisasi

Menteri Perindustrian menuturkan bahwa hilirisasi industri tetap menjadi agenda utama. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di daerah penghasil sumber daya. Hilirisasi diyakini mampu memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku dan produk setengah jadi.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan terus mendorong masuknya investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan ketersediaan infrastruktur menjadi faktor penentu yang harus terus dibenahi. Sarmuji menyebut bahwa pemerintah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif agar pelaku industri berani melakukan ekspansi dan menambah kapasitas produksi.

Selain itu, pengembangan kawasan industri terpadu akan diarahkan agar tersebar lebih merata, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antarwilayah sekaligus membuka lapangan kerja di daerah-daerah yang selama ini bergantung pada sektor primer. Pembangunan kawasan industri di luar Jawa juga dipandang dapat memperkuat rantai pasok nasional.

Dampak bagi Lapangan Kerja

Dari sisi ketenagakerjaan, Sarmuji optimistis pertumbuhan industri manufaktur akan berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Setiap investasi baru di sektor industri umumnya diikuti dengan kebutuhan tenaga kerja, baik untuk konstruksi, operasional pabrik, maupun kegiatan pendukung seperti logistik dan jasa. Ia menilai momentum ini harus dimanfaatkan dengan menyiapkan sumber daya manusia yang siap kerja.

Pemerintah juga akan mendorong kemitraan antara industri besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui skema rantai pasok. Dengan cara ini, UMKM dapat menjadi pemasok komponen atau bahan pendukung bagi industri besar, sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas, termasuk oleh pelaku usaha di daerah.

Meski demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi, seperti ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Sarmuji mengaku pemerintah terus memantau perkembangan tersebut dan menyiapkan langkah antisipatif agar target pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja tetap dapat tercapai.

Dengan pendekatan lintas kementerian yang terkoordinasi, Menteri Perindustrian Sarmuji berharap sektor industri dapat kembali menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan diyakini akan membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter