Pramono Anung dan Ambisi Menjadikan Pasar Baru sebagai Myeongdong Versi Jakarta
Calon Gubernur Jakarta nomor urut 3, Pramono Anung, menyimpan gagasan besar untuk kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ia berkeinginan menyulap kawasan belanja legendaris itu menjadi pusat wisata belanja yang menyerupai Myeongdong di Seoul, Korea Selatan. Gagasan tersebut bukan sekadar wacana kampanye, melainkan bagian dari visi penataan kawasan komersial yang ia janjikan jika terpilih memimpin Jakarta periode 2024-2029.
Pasar Baru telah lama dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial Belanda. Kawasan ini menjadi saksi bagaimana Jakarta tumbuh sebagai kota dagang dengan beragam etnis dan budaya yang berbaur. Namun, seiring perkembangan zaman dan munculnya pusat-pusat perbelanjaan modern, pamor Pasar Baru kian meredup. Kondisi ini yang membuat Pramono melihat perlunya pembenahan serius agar kawasan tersebut kembali berkilau.
Konsep Penataan yang Diusung Pramono
Dalam berbagai kesempatan, Pramono menyampaikan bahwa konsep pengembangan Pasar Baru akan mengadopsi pendekatan yang diterapkan Myeongdong. Kawasan wisata belanja di Seoul itu terkenal sebagai pusat jajanan kaki lima, toko kosmetik, dan butik fashion yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Myeongdong mampu memadukan antara pedagang tradisional, merek-merek modern, serta ruang publik yang nyaman untuk berjalan kaki.
Menurut Pramono, Pasar Baru memiliki potensi serupa karena lokasinya strategis, dekat dengan kawasan bisnis dan pusat pemerintahan. Ia menilai kawasan ini bisa dibenahi dengan menata pedagang kaki lima, memperbaiki trotoar, menambah pencahayaan, serta menciptakan ruang terbuka yang menarik bagi pejalan kaki. Penataan itu diharapkan membuat pengunjung betah berlama-lama dan meningkatkan perputaran ekonomi bagi para pedagang.
Penataan Pedagang Kaki Lima
Salah satu fokus utama gagasan Pramono adalah penataan pedagang kaki lima. Selama ini, PKL di kawasan Pasar Baru kerap dianggap mengganggu ketertiban dan lalu lintas. Alih-alih menggusur, Pramono menginginkan pendekatan yang lebih manusiawi dengan menyediakan lokasi khusus yang tertata rapi, bersih, dan tetap ramai dikunjungi pembeli. Penataan ini dinilai dapat mengangkat citra kawasan tanpa mematikan mata pencaharian warga kecil.
Peningkatan Infrastruktur dan Aksesibilitas
Selain penataan pedagang, Pramono menyoroti pentingnya perbaikan infrastruktur. Trotoar yang lebar dan ramah bagi pejalan kaki, penerangan jalan yang memadai, serta kebersihan kawasan menjadi syarat utama agar Pasar Baru nyaman dikunjungi pada siang maupun malam hari. Akses transportasi umum juga menjadi perhatian, mengingat kawasan ini dilalui berbagai moda transportasi seperti TransJakarta dan KRL. Konektivitas yang baik diyakini akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan.
Belajar dari Keberhasilan Myeongdong
Myeongdong menjadi rujukan banyak kota di dunia karena keberhasilannya menciptakan ekosistem wisata belanja yang hidup. Kawasan itu tidak hanya menjual produk, tetapi juga pengalaman. Wisatawan datang untuk mencicipi kuliner jalanan, menikmati pertunjukan jalanan, dan berbelanja dengan suasana yang meriah. Pramono menilai Pasar Baru dapat meniru formula tersebut dengan tetap mempertahankan karakter lokal dan sejarah kawasan.
Ia menekankan bahwa Pasar Baru tidak perlu kehilangan identitasnya sebagai kawasan bersejarah. Justru kekayaan sejarah dan bangunan tua yang masih berdiri dapat menjadi daya tarik tersendiri. Kombinasi antara nuansa heritage dan sentuhan modern diyakini mampu menciptakan pengalaman belanja yang berbeda dibanding pusat perbelanjaan konvensional.
Dukungan dan Tantangan
Gagasan ini mendapat respons beragam. Sebagian pedagang menyambut baik karena berharap kunjungan pembeli kembali meningkat. Mereka mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi. Namun, sejumlah pengamat tata kota mengingatkan bahwa penataan kawasan harus melibatkan partisipasi warga dan pedagang sejak awal. Tanpa pelibatan itu, program penataan berisiko menuai penolakan di lapangan.
Tantangan lain adalah soal pembiayaan dan koordinasi antarinstansi. Penataan kawasan komersial melibatkan pemerintah provinsi, pemerintah kota, dinas terkait, hingga pengelola gedung dan pusat perbelanjaan di sekitar. Diperlukan perencanaan matang agar pembenahan tidak berhenti di tahap wacana.
Dampak yang Diharapkan
Jika terealisasi, gagasan Pramono berpotensi mengembalikan Pasar Baru sebagai ikon wisata belanja Jakarta. Peningkatan kunjungan wisatawan diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi pedagang kecil, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan daerah. Kawasan ini juga bisa menjadi alternatif destinasi bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana belanja khas Jakarta.
Lebih jauh, keberhasilan penataan Pasar Baru dapat menjadi contoh bagi kawasan komersial lain di Jakarta. Pramono berharap pendekatan yang mengedepankan kenyamanan pejalan kaki, kebersihan, dan pelestarian sejarah bisa diterapkan di berbagai sudut kota. Dengan begitu, Jakarta tidak hanya memiliki pusat perbelanjaan modern, tetapi juga ruang publik yang hidup dan berkarakter.
Wacana menjadikan Pasar Baru sebagai Myeongdong versi Jakarta kini menunggu pembuktian. Publik akan menilai apakah gagasan ini sekadar janji kampanye atau benar-benar diwujudkan dalam kebijakan nyata setelah pemilihan berlangsung.
Komentar (0)