04, 2026
Nasional

MRT Fase 2 Dibangun, Lalu Lintas Gajah Mada-Hayam Wuruk Direkayasa

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

MRT Fase 2 Dibangun, Lalu Lintas Gajah Mada-Hayam Wuruk Direkayasa

Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Fase 2 rute Bundaran HI-Kota memasuki tahap konstruksi yang berdampak langsung pada kawasan jalan utama Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan menerapkan rekayasa lalu lintas di sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Jalan Hayam Wuruk untuk mengakomodasi pekerjaan proyek tersebut. Rekayasa ini berlaku selama masa konstruksi dan akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan pekerjaan di lapangan.

MRT Fase 2 merupakan kelanjutan dari MRT Fase 1 yang telah beroperasi menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran HI. Fase kedua membentang sepanjang kurang lebih 11,8 kilometer dengan tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Seluruh jalur Fase 2 dibangun di bawah tanah sehingga pekerjaan konstruksi berlangsung tanpa mengganggu ruang terbuka di permukaan secara permanen, meski tetap menimbulkan dampak sementara terhadap arus lalu lintas.

Dampak terhadap Arus Kendaraan

Rekayasa lalu lintas di kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk dilakukan dengan mengurangi lebar lajur yang tersedia bagi kendaraan bermotor. Sebagian ruas jalan mengalami penyempitan akibat aktivitas penggalian dan pemasangan struktur penahan tanah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kepadatan arus, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari ketika volume kendaraan melintas di kawasan tersebut cukup tinggi.

Dinas Perhubungan mengatur ulang siklus lampu lalu lintas di sejumlah persimpangan utama untuk mengurai antrean. Pengaturan ini disesuaikan dengan pola pergerakan kendaraan yang berubah selama masa konstruksi. Petugas di lapangan dikerahkan untuk membantu mengarahkan pengguna jalan, khususnya di titik-titik rawan penumpukan kendaraan seperti persimpangan Harmoni dan kawasan Sawah Besar.

Selain pengaturan lampu lalu lintas, sejumlah lajur dialihfungsikan dan rambu-rambu baru dipasang sebagai penanda jalur. Pengendara diimbau memperhatikan rambu dan mengikuti arahan petugas agar tidak salah mengambil lajur yang dapat memperparah kemacetan. Sosialisasi mengenai perubahan arus lalu lintas dilakukan melalui berbagai kanal informasi resmi pemerintah daerah.

Alternatif Rute dan Transportasi Umum

Pengguna jalan yang biasa melintasi Gajah Mada dan Hayam Wuruk disarankan mencari rute alternatif selama masa konstruksi. Beberapa jalur yang dapat dipertimbangkan antara lain Jalan Majapahit, Jalan Abdul Muis, serta ruas-ruas jalan di kawasan Pecinan dan sekitar Kota Tua. Namun, pemilihan rute alternatif perlu memperhitungkan kondisi lalu lintas yang juga berpotensi padat akibat peralihan volume kendaraan.

Masyarakat juga didorong memanfaatkan transportasi umum untuk mengurangi beban jalan. Moda seperti TransJakarta, KRL Commuter Line, dan angkutan umum lainnya menjadi pilihan yang dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang melintas di kawasan terdampak. Penggunaan transportasi umum dinilai lebih efisien, terutama bagi perjalanan rutin menuju kawasan perkantoran dan pusat perdagangan di sekitar Gajah Mada serta Hayam Wuruk.

Bagi pengendara yang tetap menggunakan kendaraan pribadi, disarankan mengatur waktu perjalanan dengan berangkat lebih awal. Perencanaan perjalanan yang matang membantu menghindari keterlambatan akibat kepadatan yang meningkat selama masa konstruksi berlangsung.

Manfaat Jangka Panjang

Meski menimbulkan ketidaknyamanan sementara, pembangunan MRT Fase 2 dinilai membawa manfaat besar bagi transportasi perkotaan Jakarta. Kehadiran jalur MRT hingga kawasan Kota akan memperluas jangkauan layanan angkutan massal berbasis rel dan menghubungkan pusat kota dengan kawasan utara yang padat aktivitas. Konektivitas antarwilayah diperkirakan meningkat seiring beroperasinya jalur ini nanti.

Pemerintah daerah menargetkan proyek MRT Fase 2 rampung sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Setiap tahapan konstruksi akan diikuti dengan penyesuaian rekayasa lalu lintas agar dampak terhadap pengguna jalan dapat ditekan seminimal mungkin. Koordinasi antara kontraktor proyek, Dinas Perhubungan, dan kepolisian dilakukan untuk memastikan pengaturan lalu lintas berjalan efektif.

Masyarakat diharapkan memahami bahwa rekayasa lalu lintas ini merupakan konsekuensi dari upaya peningkatan sistem transportasi publik. Partisipasi pengguna jalan dalam mematuhi aturan dan memanfaatkan alternatif perjalanan menjadi kunci kelancaran mobilitas selama pembangunan berlangsung. Informasi terkini mengenai perubahan arus lalu lintas akan terus diperbarui seiring perkembangan pekerjaan di lapangan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter