NASA mengungkapkan kekhawatiran bahwa aktivitas China di Bulan dapat menghambat misi Amerika Serikat untuk mencapai dan memanfaatkan wilayah kutub selatan Bulan. Kekhawatiran itu muncul di tengah persaingan antariksa yang semakin ketat antara kedua negara, khususnya terkait wilayah yang diyakini menyimpan cadangan air es dalam jumlah besar dan berpotensi menjadi lokasi strategis untuk eksplorasi jangka panjang.
Kutub Selatan Bulan Menjadi Rebutan
Kutub selatan Bulan menjadi perhatian utama karena sejumlah kawah di sana diduga mengandung deposit es air yang tetap stabil di area yang tidak pernah terkena sinar matahari. Es tersebut dinilai penting untuk menghasilkan air minum, oksigen, hingga bahan bakar hidrogen dan oksigen bagi operasi antariksa di masa depan. Selain itu, wilayah itu memiliki area yang terus-menerus tersinari matahari, yang memudahkan produksi tenaga surya bagi pangkalan yang direncanakan berdiri di sana.
Program Artemis milik NASA menargetkan pendaratan awak manusia kembali ke Bulan, termasuk di wilayah kutub selatan, sebagai persiapan menuju misi berawak ke Mars. Sejumlah negara mitra turut terlibat dalam program tersebut. Namun, proyek China yang juga mengarah ke kutub selatan dinilai dapat menimbulkan tumpang tindih klaim lokasi pendaratan dan pemanfaatan sumber daya serta potensi ketegangan baru di ruang angkasa.
Pihak NASA menyatakan bahwa persaingan bukan hanya soal siapa yang lebih dahulu menginjakkan kaki di lokasi tertentu, melainkan juga soal penetapan norma, standar keselamatan, dan tata kelola pemanfaatan sumber daya Bulan. Menurutnya, keberadaan satu pihak di lokasi strategis dapat memengaruhi akses pihak lain, sekalipun secara hukum tidak ada klaim kedaulatan atas Bulan.
Regulasi Ruang Angkasa dan Keterbatasan Aturan
Traktat Antariksa Luar Angkasa tahun 1967 melarang setiap negara mengklaim kedaulatan atas Bulan atau benda langit lain. Akan tetapi, traktat itu tidak mengatur secara rinci soal eksploitasi sumber daya maupun penetapan zona eksklusif di permukaan Bulan. Kondisi tersebut menciptakan kekosongan aturan yang membuat negara-negara pemilik program antariksa mencari kesepakatan bilateral maupun multilateral untuk mengisi celah tersebut.
Amerika Serikat mempromosikan Kesepakatan Artemis sebagai kerangka kerja sama yang mengatur prinsip transparansi, interoperabilitas, dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab. Sejumlah negara telah menandatangani kesepakatan itu. China, di sisi lain, mengembangkan kerja sama antariksa melalui program bersama Rusia dan sejumlah negara lain, termasuk rencana pembangunan Stasiun Penelitian Bulan Internasional. Perbedaan kerangka kerja ini berpotensi melahirkan dua blok standar yang berbeda di Bulan.
Pengamat kebijakan antariksa menilai persaingan di kutub selatan Bulan memiliki dimensi geopolitik yang menyerupai perebutan wilayah di Bumi, meski secara hukum tidak ada wilayah yang dapat dimiliki negara mana pun. Mereka menyebut lokasi pendaratan, jalur komunikasi, dan sumber daya menjadi objek negosiasi tidak resmi yang menentukan posisi masing-masing negara di masa depan.
Jadwal Misi dan Persaingan Waktu
China menargetkan pengiriman awak ke Bulan pada dekade 2030-an, sementara NASA berupaya mempercepat misi pendaratan berawak melalui rangkaian peluncuran Artemis. Perbedaan jadwal itu membuat kedua negara berlomba memastikan kehadiran lebih awal di lokasi yang dianggap paling strategis. Sejumlah analisis menyebut lokasi pendaratan yang ideal di kutub selatan terbatas, sehingga pemilihan titik yang berdekatan dapat menimbulkan ketegangan operasional.
Selain itu, program antariksa komersial turut memengaruhi dinamika ini. Perusahaan-perusahaan swasta Amerika Serikat mengembangkan pendarat, wahana, dan layanan transportasi Bulan, sedangkan China mendorong kemitraan antara badan antariksa negara dan perusahaan domestik. Kombinasi antara negara dan sektor swasta memperluas cakupan aktivitas di Bulan, termasuk eksplorasi, pemetaan, dan uji teknologi pemanfaatan sumber daya.
Meski kekhawatiran semakin terbuka, kedua negara tetap menyatakan komitmen pada prinsip penggunaan Bulan untuk tujuan damai. Dialog antariksa bilateral masih terbatas, dan sejumlah pengamat menilai pentingnya mekanisme komunikasi langsung untuk mencegah kesalahpahaman operasional di orbit maupun di permukaan Bulan. Tanpa kerangka kerja sama yang jelas, persaingan di kutub selatan berpotensi menjadi ujian pertama tata kelola ruang angkasa abad ini.
Komentar (0)