Nenek di Bone Gendong Jasad Cucu, Duga Dokter Lambat Tangani Kasus Mantu Hamil
Sebuah ins tragis terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, di mana seorang nenek ditemukan gendong jasad cucunya usai diduga mendapat perlambatan penanganan medis dari pihak rumah sakit. Peristiwa yang mengejutkan ini menimbalkan berbagai reaksi dari masyarakat setempat dan memicu polemik mengenai kualitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
Kronologi insiden bermula ketika seperangkat suami istri, yang dalam keadaan istri sedang hamil muda, datang ke Puskesmas setempat untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Menurut saksi mata, pasien tersebut mengeluhkan gejala yang dianggap serius namun tidak mendapatkan respons yang diharapkan dari tim medis yang bertugas.
Sumber terdekat mengungkapkan bahwa sang istri, yang berusia sekitar 20 tahun, mengeluhkan nyeri hebat di bagian perut. Namun, petugas medis di Puskesmas menilainya hanya sebagai gejala kehamilan normal dan tidak melakukan tindakan diagnostik lebih lanjut. Keputusan ini ternyata fatal karena kondisi pasien terus memburuk setelah pulang dari puskesmas.
Kondisi Memburuk dan Insiden Tragis
Beberapa jam setelah pulang dari puskesmas, kondisi sang istri memburuk drastis. Istri tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa dengan kondisi janin di dalam kandungannya juga tidak lagi memiliki denyut jantung. Mendapati putrinya dan cucunya telah meninggal, sang nenek—yang merupakan ibunda dari sang suami—marah besar dan nekat menggondong jasad cucu tersebut menuju ke pihak rumah sakit.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat seorang perempuan tua berjalan sambil menggendong sebuah benda yang diduga adalah mayat bayi. Diiringi amukan para tetangga, perempuan tersebut terlihat emosional dan menuntut penjelasan dari pihak rumah sakit atas kematian putrinya dan cucunya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, Dr. Andi Muhammad, mengakui adanya insiden tersebut namun belum bisa memberikan komentar lebih detail. "Kami masih melakukan investigasi internal untuk memastikan kebenaran laporan yang beredar. Semua pihak terkait akan dimintai keterangan untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian," ujar Dr. Andi dalam konferensi pers singkat.
Respons Pihak Rumah Sakit
Pihak rumah sakit tempat awalnya pasien mendapatkan perawatan menepis tuduhan bahwa ada kelalaian dalam penanganan kasus ini. Direktur RSUD Bone, dr. Siti Aminah, menjelaskan bahwa tim medis telah melakukan segala upaya penyelamatan sesuai standar prosedur medis.
Menanggapi aksi sang nenek menggendong jasad cucu, dr. Siti menyatakan memahami emosi yang dialami keluarga korban. Namun, ia menegaskan bahwa aksinya tersebut tidak membantu proses investigasi yang sedang berjalan.
Polemik Kualitas Pelayanan Kesehatan
Insiden ini memicu diskusi luas mengenai kualitas pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Banyak pihak khawatir adanya praktik malpraktek atau kelalaian dalam penanganan pasien di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Seorang aktivis kesehatan, Ahmad Fauzi, menilai insiden ini menunjukkan sistem kesehatan yang masih banyak kekurangan. "Kasus ini perlu menjadi evaluasi serius bagi pemerintah. Puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan dalam deteksi dini masalah kesehatan, terutama bagi ibu hamil. Ternyata di lapangan masih banyak kekurangan sumber daya manusia dan sarana prasarana," ujar Ahmad.
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan akan mengawal kasus ini hingga tuntas. "KPAI akan meminta penjelasan lengkap dari pihak rumah sakit dan dinas kesehatan. Kematian seorang ibu dan bayi adalah hal sangat tragis dan tidak boleh terulang," kata Ketua KPAI, Asrul Bahar.
Saat ini, pihak berwenang masih melakukan investigasi untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian sang ibu dan bayinya. Hasil autopsi yang dijadwalkan sepekan ke depan diharapkan dapat memberikan kejelasan apakah benar ada kelalaian medis dalam penanganan kasus ini ataukah disebabkan oleh faktor lain.
Komentar (0)