12, 2026
Teknologi

Nenek Ini Potret dan Jual Gosip Tetangga, Ngaku Sampai Punya Dua Rumah

Modal duduk diam di depan rumah, lansia asal Kolombia ini diklaim berhasil menjual 'gosip' para tetangganya hingga mendapatkan dua rumah.]]>

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Nenek Ini Potret dan Jual Gosip Tetangga, Ngaku Sampai Punya Dua Rumah

Nenek Ini Potret dan Jual Gosip Tetangga, Ngaku Sampai Punya Dua Rumah

Seorang nenek berusia tujuh puluhan tahun menjadi sorotan setelah diketahui menjual potret kehidupan pribadi tetangganya kepada media massa. Wanita yang identitasnya masih dirahasiakan ini mengaku telah mengumpulkan kekayaan dari menjual gosip-gosip sensitif lingkungannya, bahkan mengaku memiliki dua rumah hasil dari aktivitasnya tersebut.

Kasus ini bermula ketika sejumlah warga di kawasan permukiman setempat mulai curiga dengan aktivitas mencurigakan seorang nenek yang tinggal di sebelah rumah mereka. Beberapa warga mengaku sering melihat tamu-tamu tak dikenal datang dan pergi dari rumah sang nenek dalam kondisi yang merahasiakan.

Ketika ditanya oleh wartawan, sang nenek dengan terbuka mengakui bahwa dirinya memang menjual informasi tentang kehidupan tetangganya. "Saya hanya menjapa apa yang saya dengar dan lihat," ujarnya sambil tersenyum. Menurutnya, informasi yang ia kumpulkan biasanya tentang perselingkuhan, masalah keuangan, atau konflik dalam keluarga tetangganya.

Metode Kumpul Gosip

Metode yang digunakan sang nenek terbilang sederhana namun efektif. Ia seringkali duduk di teras rumahnya setiap sore, sambil menjahit atau bermain catur dengan tetangga sekaligus mendengar percakapan mereka. Ia juga aktif bergab dalam kegiatan RT/RW dan lingkungan untuk memperoleh akses lebih banyak informasi.

Sang nenek mengaku memiliki jaringan informan di berbagai rumah di lingkungannya. "Ada tetangga suka bercerita, ada juga yang suka dengar gosip," jelasnya. Informasi yang ia kumpulkan kemudian disaring dan dikembangkan menjadi cerita yang lebih menarik sebelum dijual kepada wartawan atau pemberitaan online.

Keuntungan yang Diperoleh

Menurut pengakuannya, sang nenek telah menghasilkan puluhan juta rupiah dari aktivitas ini. Ia bahkan mengaku memiliki dua rumah, satu sebagai tempat tinggal utama dan satu lagi sebagai investasi hasil dari menjual gosip. "Uangnya lumayan, bisa buat tambah rumah," ujarnya bangga.

Ia menuturkan bahwa harga informasi bervariasi tergantung sensitivitas dan minat wartawan. Informasi tentang perselingkuhan atau masalah hukum biasanya dihargai lebih mahal. "Kalau berita itu bisa bikin heboh, harganya mahal," katanya sambil menepuk-nepuk dompetnya.

Reaksi Warga dan Pihak Berwenang

Ketika dikonfirmasi, sejumlah warga mengaku terkejut dan merasa tidak nyaman dengan pengakuan sang nenek. "Kan kita nggak tahu, apa sudah kita ceritakan ke dia, apa belum," ujar salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya. Beberapa warga mengaku mulai berhati-hati dalam berbicara di dekat rumah sang nenek.

Sementara itu, Kepala Polsek setempat, Kompol Ahmad Yani, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai aktivitas tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa menjual informasi palsu atau berita bohong dapat dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. "Kalau ada bukti dan ada laporan, pasti kita akan tangani sesuai hukum yang berlaku," tegasnya.

Etika Jurnalistik yang Dibongkar

Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai etika jurnalistik sejumlah media yang membeli informasi dari sumber yang tidak jelas. Seorang jurnalis senior, Budi Santoso, mengatakan bahwa membeli informasi dari sumber yang merahasiakan identitas dan tidak memeriksa kebenarannya secara mendalam melanggar kode etik jurnalistik.

"Jurnalis harus memastikan kebenaran informasi dan mempertimbangkan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan bagi masyarakat," tutur Budi. Ia menambahkan bahwa kasus ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi seluruh praktisi jurnalisme untuk lebih berhati-hati dalam mengumpulkan dan mempublikasikan informasi.

Sementara itu, sang nenek tampaknya tidak menyesali aktivitasnya tersebut. Ia mengaku akan terus melanjutkan pekerjaannya selama masih ada yang mau membeli informasinya. "Ini pekerjaan saya, saya hanya menjapa apa yang saya tahu," pungkasnya sambil tersenyum lebar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter