30, 2026
Nasional

Nestapa Ibu Hamil Kehilangan Bayi dan Rahim, Diduga Ada Kelalaian Petugas

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Nestapa Ibu Hamil Kehilangan Bayi dan Rahim, Diduga Ada Kelalaian Petugas

Seorang ibu hamil di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, harus menanggung duka mendalam setelah kehilangan bayi yang dikandungnya sekaligus rahimnya dalam sebuah persalinan yang berujung tragedi. Peristiwa itu diduga kuat melibatkan kelalaian petugas medis di fasilitas kesehatan tempat korban menjalani perawatan. Kasus ini mencuat ke permukaan setelah keluarga korban melaporkan dugaan malapraktik kepada pihak berwenang dan menyampaikannya kepada publik melalui sejumlah kanal advokasi kesehatan.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari keluarga, korban yang berusia 34 tahun tersebut masuk ke sebuah rumah sakit swasta di kawasan Soreang dengan kondisi kehamilan yang telah memasuki trimester ketiga. Ia datang dengan keluhan kontraksi yang dirasakan semakin kuat. Menurut penuturan suami korban, tim medis sempat memeriksa kondisi janin dan menyatakan denyut jantung bayi masih dalam batas normal. Namun, proses persalinan tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga akhirnya berujung pada keputusan operasi darurat.

Keluarga mengklaim bahwa komunikasi antara dokter dan pihak keluarga berlangsung tidak transparan. Mereka mengaku tidak pernah mendapat penjelasan rinci mengenai risiko yang dihadapi, termasuk kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada ibu maupun bayi. Ketika kondisi korban memburuk, menurut keluarga, tindakan medis baru diambil setelah terjadi pendarahan hebat yang tidak dapat dihentikan.

Rahim Harus Diangkat untuk Selamatkan Nyawa

Dokter yang menangani korban akhirnya memutuskan untuk melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim guna menghentikan pendarahan yang terus berlangsung. Keputusan itu diambil sebagai langkah terakhir untuk menyelamatkan nyawa pasien. Namun, bayi yang dikandung korban tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal beberapa saat setelah dilahirkan. Kondisi tersebut membuat korban kehilangan dua hal sekaligus dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Sang suami menuturkan bahwa istrinya kini dalam kondisi trauma berat. Ia tidak hanya kehilangan anak yang telah lama dinantikan, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk mengandung kembali. Keluarga merasa tindakan pengangkatan rahim seharusnya bisa dihindari jika penanganan dilakukan lebih cepat dan lebih cermat sejak awal. Mereka menduga ada keterlambatan dalam merujuk pasien ke fasilitas dengan fasilitas yang lebih lengkap, serta lemahnya pemantauan kondisi janin selama proses persalinan.

“Kami merasa ada yang tidak beres sejak awal. Kami tidak pernah diberikan penjelasan yang jelas. Tiba-tiba saja kondisi istri saya memburuk, dan kami hanya diberi tahu bahwa rahimnya harus diangkat,” ujar sang suami saat ditemui di kediamannya, seperti dikutip dari sejumlah pemberitaan. Ia berharap ada penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui apakah memang terjadi kelalaian dalam proses persalinan tersebut.

Pihak Rumah Sakit Membantah Adanya Kelalaian

Pihak rumah sakit membantah tuduhan kelalaian yang dialamatkan kepada mereka. Dalam keterangan resminya, manajemen rumah sakit menyatakan bahwa seluruh prosedur medis telah dijalankan sesuai standar operasional yang berlaku. Mereka menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan histerektomi merupakan tindakan penyelamatan nyawa yang tak bisa dihindari akibat komplikasi pendarahan pascapersalinan.

“Tindakan yang diambil oleh tim medis sudah sesuai dengan prosedur dan merupakan upaya maksimal untuk menyelamatkan pasien. Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa pasien dan keluarga,” demikian bunyi pernyataan resmi pihak rumah sakit. Manajemen juga menyatakan siap bekerja sama dengan pihak berwenang apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dinas Kesehatan Turun Tangan

Menanggapi laporan keluarga, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung menyatakan telah menerjunkan tim untuk melakukan investigasi. Tim tersebut terdiri atas dokter spesialis kebidanan, perwakilan organisasi profesi, serta auditor medis independen. Investigasi difokuskan pada dua hal utama, yakni kualitas pelayanan selama proses persalinan dan ketepatan waktu pengambilan keputusan medis.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung menyampaikan bahwa pihaknya tidak dapat berspekulasi sebelum hasil investigasi keluar. Ia memastikan proses pemeriksaan akan berjalan transparan dan melibatkan pihak ketiga untuk menjaga objektivitas. “Kami akan memeriksa rekam medis, kronologi kejadian, serta keterangan dari semua pihak yang terlibat. Jika ditemukan unsur kelalaian, kami akan menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Kasus ini menambah daftar panjang persoalan keselamatan ibu dan bayi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kematian ibu masih menjadi tantangan serius, dengan pendarahan pascapersalinan sebagai salah satu penyebab utama. Para pemerhati kesehatan masyarakat mendorong penguatan sistem rujukan berjenjang, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta transparansi komunikasi antara dokter dan keluarga pasien agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Hingga berita ini diturunkan, keluarga korban masih menunggu hasil investigasi resmi. Mereka berharap kejadian yang menimpa istri mereka menjadi bahan evaluasi bagi sistem pelayanan kesehatan, terutama dalam penanganan kehamilan risiko tinggi. Sementara itu, korban masih menjalani pemulihan fisik dan pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma yang dialaminya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter