08, 2026
Teknologi

Pakar IPB Jelaskan Fenomena Tanah Kalimantan Retak Seperti di Afrika

Munculnya retakan pada lahan di Dusun Limus, Kalimantan Barat, menarik perhatian karena sekilas menyerupai pola tanah retak di kawasan kering Afrika.]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pakar IPB Jelaskan Fenomena Tanah Kalimantan Retak Seperti di Afrika

Pakar IPB University Jelaskan Penyebab Tanah Kalimantan Retak Menyerupai Fenomena di Afrika

Fenomena munculnya retakan-retakan besar pada permukaan tanah di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian publik setelah beredar luas di media sosial dan berbagai platform berbagi video. Retakan yang membelah tanah dengan pola memanjang dan lebar itu disebut-sebut menyerupai kondisi rekahan raksasa yang kerap terjadi di kawasan Benua Afrika, terutama di wilayah Afrika Timur yang dikenal memiliki Sesar Afrika Timur. Kemiripan visual tersebut memicu spekulasi mengenai penyebabnya, mulai dari aktivitas tektonik hingga potensi bahaya geologis baru di Pulau Kalimantan.

Pakar dari IPB University memberikan penjelasan ilmiah mengenai fenomena tersebut. Menurut kajian yang disampaikan, retakan tanah di Kalimantan tidak dapat langsung disamakan dengan rekahan tektonik skala besar yang terjadi di Afrika. Perlu dipahami bahwa rekahan di Afrika, khususnya di kawasan Great Rift Valley, terbentuk akibat proses tektonik lempeng yang berlangsung selama jutaan tahun dan melibatkan pergerakan lempeng besar bumi. Sementara itu, retakan tanah yang muncul di Kalimantan lebih banyak berkaitan dengan dinamika kondisi tanah permukaan serta pengaruh aktivitas manusia dan cuaca ekstrem.

Dosen dan peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University menjelaskan bahwa retakan tanah di Kalimantan umumnya merupakan gejala retak tanah atau soil fissuring, bukan patahan aktif baru. Retakan semacam ini lazim muncul pada tanah dengan tipe tertentu, terutama tanah lempung ekspansif atau expansive clay. Tanah jenis ini memiliki sifat mengembang ketika basah dan menyusut ketika kering. Ketika musim kemarau panjang melanda dan kadar air tanah turun drastis, volume tanah menyusut secara signifikan sehingga permukaannya pecah membentuk rekahan yang bisa memanjang hingga beberapa meter.

Faktor Pemicu Retakan Tanah di Kalimantan

Sejumlah faktor disebut berkontribusi terhadap munculnya retakan tanah di Kalimantan. Pertama, curah hujan yang tidak merata dan periode kemarau yang lebih kering dari biasanya. Perubahan pola hujan menyebabkan fluktuasi kadar air tanah yang tajam. Ketika tanah kehilangan air dalam jumlah besar, proses penyusutan terjadi tidak merata sehingga terbentuk celah-celah di permukaan.

Kedua, jenis tanah di beberapa wilayah Kalimantan memang didominasi oleh lempung dan material halus yang sensitif terhadap perubahan kelembapan. Tanah hasil pelapukan batuan sedimen dan vulkanik tua di kawasan tersebut memiliki karakter mengembang-susut yang kuat, sehingga lebih rentan retak dibandingkan tanah berpasir.

Ketiga, aktivitas manusia turut mempercepat munculnya retakan. Pembukaan lahan besar-besaran, penebangan hutan, serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan pertambangan mengubah tata air tanah. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi kemampuan tanah menahan air, sehingga permukaan tanah lebih cepat kering dan mudah pecah. Selain itu, beban kendaraan berat dan aktivitas alat berat di sekitar lokasi dapat memicu retakan yang kemudian melebar.

Keempat, faktor morfologi dan topografi. Retakan lebih mudah terlihat dan meluas pada daerah dengan kemiringan tertentu, terutama jika terjadi erosi permukaan yang mengikis lapisan tanah atas. Air yang mengalir di celah retakan kemudian memperbesar ukuran rekahan dari waktu ke waktu.

Bukan Indikasi Gempa atau Letusan Gunung Berapi

Pakar IPB University menegaskan bahwa retakan tanah di Kalimantan tidak serta-merta menjadi indikasi akan terjadi gempa bumi besar atau letusan gunung berapi. Kalimantan secara geologis relatif lebih stabil dibandingkan wilayah lain di Indonesia yang berada di zona pertemuan lempeng. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan tidak mengabaikan gejala perubahan lingkungan.

Retakan yang terjadi perlu diidentifikasi secara langsung di lapangan untuk memastikan penyebabnya. Pemeriksaan meliputi pengukuran dimensi retakan, kedalaman, arah rekahan, jenis tanah, serta pengamatan kondisi sekitar seperti keberadaan sumber air, vegetasi, dan aktivitas manusia. Tanpa data lapangan yang memadai, sulit menyimpulkan secara pasti apakah retakan murni akibat penyusutan tanah atau ada faktor lain.

Jika retakan terjadi di kawasan permukiman atau dekat infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, dan saluran air, dampaknya bisa merugikan. Retakan dapat melemahkan fondasi bangunan, memicu amblesan tanah, dan mempercepat kerusakan jalan. Oleh karena itu, langkah mitigasi diperlukan, antara lain dengan memperbaiki drainase, menjaga tutupan vegetasi, menghindari pembebanan berlebihan di atas tanah yang retak, serta melakukan penimbunan dan pemadatan kembali pada rekahan yang membahayakan.

Langkah Antisipasi dan Peran Pemerintah Daerah

Pakar menyarankan pemerintah daerah bersama instansi terkait melakukan pemetaan wilayah rawan retakan tanah. Pemetaan ini penting untuk mengidentifikasi area dengan jenis tanah ekspansif dan riwayat kemarau panjang. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyebab dan cara menangani retakan tanah perlu dilakukan agar tidak timbul kepanikan maupun informasi yang menyesatkan.

Masyarakat diimbau tidak menyebarkan spekulasi yang menyamakan retakan di Kalimantan dengan fenomena tektonik Afrika tanpa dasar ilmiah. Perbandingan visual semata tidak cukup untuk menarik kesimpulan geologis. Pendekatan ilmiah dengan data lapangan, analisis tanah, dan pemantauan berkelanjutan menjadi kunci memahami fenomena ini secara utuh.

Dengan pemahaman yang tepat, fenomena tanah retak di Kalimantan dapat disikapi secara rasional. Penanganan yang berbasis kajian ilmiah dan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, serta masyarakat diharapkan mampu mengurangi risiko dan mencegah dampak yang lebih luas di masa mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter