30, 2026
Teknologi

Pakar IPB Ungkap Dampak Kelangkaan Beras 5 Kg pada Perilaku Konsumen

Dalam beberapa hari terakhir, jagat maya ramai memperbincangkan beras premium kemasan 5 kg yang disebut mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat.]]>

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pakar IPB Ungkap Dampak Kelangkaan Beras 5 Kg pada Perilaku Konsumen

Pakar IPB Ungkap Dampak Kelangkaan Beras 5 Kg pada Perilaku Konsumen

Kelangkaan beras kemasan 5 kg yang terjadi beberapa waktu terakhir menjadi sorotan para ahli ekonomi dan pangan. Seorang pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ahmad Rofiq menjelaskan fenomena ini memiliki dampak signifikan terhadap pola perilaku konsumen masyarakat Indonesia. Menurutnya, kelangkaan beras kemasan 5 kg tidak sekadar masalah ketersediaan semata, tetapi juga menunjukkan pergeseran perilaku konsumen yang perlu menjadi perhatian serius.

Dalam analisisnya, Prof. Ahmad menjelaskan bahwa beras kemasan 5 kg menjadi primadona bagi sebagian besar keluarga di Indonesia karena praktis dan mudah dibawa. "Kemasan 5 kg menjadi pilihan bagi keluarga kecil hingga menengah karena dianggap cukup untuk kebutuhan konsumsi harian dan praktis saat dibawa dari pasar atau toko," ujarnya saat dihubungi secara terpisah.

Dampak Psikologis terhadap Konsumen

Menurut Prof. Ahmad, kelangkaan beras 5 kg menciptakan efek psikologis yang kompleks pada konsumen. "Ada fenomena 'fear of missing out' atau FOMO yang terjadi di sini. Konsumen cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan sebenarnya karena khawatir tidak akan mendapatkan lagi di kemudian hari," jelasnya.

Perilaku ini menurutnya menciptakan siklus lingkar setan di mana kelangkaan semakin parah karena konsumen berlomba-lomba menumpuk stok. "Padahal dalam kenyataannya, stok beras di tingkat nasional masih aman. Ini adalah masalah persepsi dan perilaku yang terdistorsi," tambahnya.

Pergeseran Pola Konsumen

Fenomena ini juga menunjukkan pergeseran pola konsumen yang menarik untuk diteliti. Prof. Ahmad melihat bahwa konsumen semakin cenderung berbelanja secara emosional darada secara rasional. "Ketika ada isu kelangkaan, konsumen cenderung bereaksi spontan tanpa mempertimbangkan secara matang apakah benar-benar membutuhkan jumlah yang dibeli," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pola konsumsi yang sehat seharusnya berdasarkan perencanaan dan kebutuhan aktual, bukan ditentukan oleh kepanikan atau isu yang beredar. "Kita harus kembali pada pola konsumsi yang bijak, yaitu membeli sesuai kebutuhan dan tidak terpancing oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya," pesannya.

Dampak pada Sektor Pangan

Dari sisi sektor pangan, kelangkaan beras 5 kg juga memiliki dampak yang signifikan. Menurut Prof. Ahmad, fenomena ini mengakibatkan ketidakseimbangan distribusi dan harga. "Distributor dan pengecer sering kali memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga dengan alasan ketersediaan yang terbatas, padahal stok di tingkat pusat masih mencukupi," jelasnya.

Ia juga menyoroti bahwa kelangkaan ini berdampak pada ketersediaan beras di daerah terpencil yang memang bergantung pada distribusi dari pusat. "Ketika kota-kota besar melakukan pembelian massal, daerah terpencil jadi kekurangan karena distribusi terbagi tidak merata," tambahnya.

Solusi Jangka Pendek dan Panjang

Untuk mengatasi masalah ini, Prof. Ahmad menyarankan beberapa solusi. "Pemerintah perlu melakukan edukasi intensif kepada masyarakat tentang pola konsumsi yang bijak. Selain itu, pengawasan distribusi perlu diperketat untuk mencegah praktik spekulasi harga," ujarnya.

Ia juga merekomendasikan agar pemerintah memperbanyak varian kemasan beras yang tersedia di pasaran. "Dengan adanya berbagai varian kemasan, konsumen memiliki lebih banyak pilihan dan tidak terpusat pada satu jenis kemasan tertentu," jelasnya.

Dalam jangka panjang, lanjut Prof. Ahmad, perlu dibangun sistem pangan yang lebih tangguh dan responsif. "Kita perlu meningkatkan produksi beras secara nasional, memperbaiki sistem logistik, dan mengembangkan teknologi penyimpanan yang lebih baik untuk mengurangi risiko kerusakan dan kehilangan pasca panen," pungkasnya.

Dengan demikian, fenomena kelangkaan beras 5 kg tidak hanya menjadi isu ekonomi semata, tetapi juga menjadi cerminan dari perubahan perilaku konsumen yang perlu diatasi melalui pendekatan yang komprehensif melibatkan berbagai pihak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter