PAM Jaya Ungkap Penurunan Muka Tanah di Jakarta Melambat, Ini Datanya
Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya mengungkapkan bahwa laju penurunan muka tanah di Jakarta mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dikeluarkan perusahaan menunjukkan bahwa tren penurunan yang selama ini menjadi masalah serius di ibu kota ini mulai menunjukkan peningkatan signifikan.
Data Terbaru Menunjukkan Tren Positif
Menurut Kepala Divisi Teknik PAM Jaya, Arya Bima, hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat penurunan muka tanah di beberapa wilayah Jakarta mengalami penurunan laju. "Jika sebelumnya kita melihat penurunan muka tanah mencapai 15-20 sentimeter per tahun, sekarang angka itu turun menjadi 10-15 sentimeter per tahun," jelas Arya dalam konferensi pers yang diselenggarakan di kantor PAM Jaya, Rabu (15/3).
Data PAM Jaya menunjukkan bahwa wilayah yang mengalami perlambatan penurunan muka tanah meliputi Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Wilayah yang sebelumnya menjadi zona merak karena tingginya laju penurunan kini menunjukkan peningkatan signifikan. "Di Jakarta Utara, misalnya, laju penurunan muka tanah turun dari 20 cm/tahun menjadi 12 cm/tahun. Ini adalah peningkatan yang signifikan," ujarnya.
Faktor Penyebab Perlambatan
Arya menjelaskan bahwa beberapa faktor berkontribusi terhadap perlambatan penurunan muka tanah di Jakarta. Salah satunya adalah program pengurangan pengambilan air tanah yang telah dilakukan PAM Jaya bersama pemerintah provinsi. "Kita telah berhasil mengurangi pengambilan air tanah sebesar 30% dari target awal melalui program konservasi air," kata Arya.
Program konservasi air yang dilaksanakan PAM Jaya meliputi penyediaan air bersih melalui jaringan pipa, rehabilitasi sumber mata air, serta edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. "Dengan adanya akses air bersih yang memadai, masyarakat tidak lagi bergantung pada air tanah untuk kebutuhan sehari-hari," jelasnya.
Selain itu, pemerintah provinsi juga telah menerapkan regulasi yang lebih ketat terkait penggunaan air tanah. "Peraturan Gubernur Nomor 122 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Tanah telah memberikan batasan yang jelas terhadap penggunaan air tanah oleh sektor non-domestik," tambah Arya.
Tantangan yang Masih Ada
Meskipun menunjukkan tren positif, Arya mengakui bahwa tantangan dalam mengendalikan penurunan muka tanah di Jakarta masih sangat besar. Beberapa wilayah seperti Jakarta Timur dan Jakarta Barat masih mengalami penurunan muka tanah yang relatif tinggi.
"Di Jakarta Timur, laju penurunan masih mencapai 18 cm/tahun, sementara di Jakarta Barat sekitar 16 cm/tahun. Ini menunjukkan bahwa kita masih perlu melakukan upaya ekstra di wilayah-wilayah ini," ujarnya.
Selain itu, penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perubahan iklim dan aktivitas pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut. "Infrastruktur yang terus dibangun, terutama proyek-proyek gedung bertingkat, memberikan tekanan tambahan terhadap lapisan tanah," jelas Arya.
Rencana ke Depan
Untuk memastikan tren perlambatan penurunan muka tanah terus berlanjut, PAM Jaya berencana untuk meningkatkan program konservasi air di tahun-tahun mendatang. "Kita berencana untuk memperluas jaringan pipa air bersih ke lebih banyak wilayah, terutama di area yang masih bergantung pada air tanah," kata Arya.
Perusahaan juga akan memperkuat kerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk melakukan pemantauan yang lebih intensif terhadap kondisi muka tanah. "Kita akan memasang lebih banyak titik pemantauan di seluruh Jakarta untuk mendapatkan data yang akurat dan terkini," tambahnya.
Dengan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan, PAM Jaya berharap dapat terus mengendalikan penurunan muka tanah di Jakarta. "Kita berharap dalam 5-10 tahun ke depan, Jakarta bisa mencapai kondisi yang stabil dan tidak lagi mengalami penurunan muka tanah yang signifikan," pungkas Arya.
Komentar (0)