24, 2026
Nasional

Panen Hujan Hingga Sekat Kanal, Gambut Harus Basah untuk Cegah Karhutla

Penanganan kebakaran hutan dan lahan tak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga mencari cara agar lahan gambut tetap basah.]]>

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Panen Hujan Hingga Sekat Kanal, Gambut Harus Basah untuk Cegah Karhutla

Upaya menjaga lahan gambut tetap basah menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari memanen air hujan, membangun embung, hingga memasang sekat kanal di saluran-saluran drainase, agar tinggi muka air gambut tidak turun terlalu dalam dan lahan tidak mudah terbakar.

Gambut Basah sebagai Pertahanan Pertama

Lahan gambut yang kering menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang belum terurai sempurna selama ratusan hingga ribuan tahun, sehingga ketika mengering, material organik tersebut berubah menjadi bahan bakar yang padat. Api yang masuk ke lapisan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga menyusup ke bawah tanah dan menghasilkan asap tebal dalam waktu lama.

Karena itu, pengelolaan air menjadi pertahanan pertama. Prinsipnya sederhana: gambut harus terus dalam kondisi lembap. Dalam praktik restorasi gambut, upaya pembasahan kembali atau rewetting diarahkan agar tinggi muka air tanah tidak turun melebihi ambang tertentu dari permukaan. Semakin dalam air tanah turun, semakin besar risiko lapisan gambut mengering dan terbakar.

Pembasahan dilakukan melalui tiga pendekatan yang saling melengkapi: penimbunan kembali kanal, pembangunan sumur bor yang menembus lapisan gambut, serta pembuatan embung atau kolam penampung air. Ketiganya bertujuan menahan air di dalam lanskap gambut selama mungkin, terutama pada musim kemarau.

Panen Hujan untuk Mengisi Cadangan Air

Salah satu strategi yang berkembang adalah memanen air hujan. Air hujan yang turun di kawasan gambut tidak dibiarkan langsung mengalir keluar melalui kanal-kanal drainase, melainkan ditampung di embung, kolam, atau cekungan buatan. Cadangan air tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membasahi lahan pada periode kering.

Pembangunan embung dinilai efektif pada lahan gambut yang memiliki lapisan kedap air di bawahnya. Pada lokasi dengan kondisi hidrologi berbeda, sumur bor menjadi pilihan karena mampu mengisi lapisan gambut dari bawah. Penentuan lokasi menjadi penting agar bangunan air tidak sia-sia dan benar-benar mampu mempertahankan kelembapan pada radius yang diharapkan.

Selain infrastruktur, pemeliharaan menjadi faktor penentu. Embung yang tertimbun sedimen atau sekat kanal yang rusak akan kehilangan fungsinya. Karena itu, pemantauan berkala dan perbaikan cepat diperlukan, terutama menjelang musim kemarau.

Sekat Kanal Menahan Air agar Tidak Terbuang

Pembangunan sekat kanal menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pembasahan gambut. Kanal-kanal yang sebelumnya dibuat untuk mengeringkan lahan, misalnya untuk kepentingan perkebunan atau transportasi kayu, kini menjadi jalur utama keluarnya air dari gambut. Sekat kanal dipasang melintang untuk memperlambat dan menahan aliran air sehingga permukaan air di kanal tetap tinggi dan meresap kembali ke lahan di sekitarnya.

Sekat kanal umumnya dibuat dari material lokal seperti kayu, tanah, atau kombinasi keduanya, dengan pertimbangan kekuatan, biaya, dan dampak terhadap akses masyarakat. Pada kanal yang relatif lebar, konstruksi sekat memerlukan perhitungan teknis agar tidak jebol saat debit air meningkat.

Tantangan di Lapangan

Meski secara teknis relatif sederhana, penerapan pembasahan gambut menghadapi berbagai tantangan. Kanal drainase yang masih aktif, pembukaan lahan, serta aktivitas yang mengubah tata air menjadi kendala yang kerap dijumpai. Di sisi lain, sebagian kanal berada di wilayah dengan kepentingan ekonomi yang kuat sehingga penataan tata air memerlukan koordinasi lintas pihak.

Kondisi cuaca juga menentukan. Pada tahun dengan curah hujan rendah akibat fenomena iklim seperti El Nino, pasokan air berkurang drastis dan muka air gambut turun lebih cepat. Pada situasi inilah infrastruktur pembasahan diuji, sekaligus menjadi periode paling rawan munculnya titik panas.

Peran Masyarakat dan Pemantauan Titik Panas

Keberhasilan menjaga gambut tetap basah tidak hanya bergantung pada bangunan air. Keterlibatan masyarakat di sekitar lahan menjadi kunci, antara lain melalui kelompok masyarakat peduli api yang melakukan patroli, pemantauan, dan pemadaman dini. Edukasi mengenai larangan membuka lahan dengan cara membakar juga terus dilakukan.

Pemantauan titik panas melalui satelit menjadi instrumen peringatan awal. Ketika terdeteksi anomali suhu, verifikasi lapangan dilakukan untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar kebakaran atau hanya pantulan panas. Kecepatan respons menentukan luas area yang terbakar, terutama pada lahan gambut yang api bawah tanahnya sulit dipadamkan.

Dengan kombinasi panen hujan, pembangunan embung dan sumur bor, serta sekat kanal, diharapkan tinggi muka air gambut dapat dipertahankan pada level yang aman. Namun, tanpa pengelolaan tata air yang konsisten dan pengawasan terhadap kanal drainase, upaya tersebut mudah kehilangan daya guna. Menjaga gambut tetap basah bukan pekerjaan musiman, melainkan komitmen berkelanjutan sepanjang tahun.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter