Warga di sejumlah kawasan permukiman di Kota dan Kabupaten Bekasi menghadapi persoalan klasik setiap musim kemarau: sulitnya mendapatkan air bersih. Sumur gali dan sumur bor yang menjadi andalan sehari-hari mengering, sementara pasokan air perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah. Kondisi itu membuat sebagian warga harus membeli air tangki, menampung air hujan, atau menempuh jarak cukup jauh hanya untuk memperoleh air layak pakai. Gambaran kehidupan yang disebut "seperti di gurun pasir" itu bukan tanpa dasar: tanah retak, vegetasi mengering, dan air menjadi barang yang harus diperebutkan.
Sumur Mengering, Warga Bergantung pada Air Tangki
Di banyak permukiman padat di Bekasi, air tanah menjadi sumber utama karena jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum tersedia atau belum mengalir stabil. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, permukaan air tanah turun dan sumur yang biasanya menghasilkan air mendadak hanya menyisakan lumpur. Warga kemudian beralih ke air isi ulang untuk kebutuhan minum dan memasak, sementara untuk mandi dan mencuci mereka membeli air tangki secara kolektif.
Ketergantungan pada air tangki membawa konsekuensi ekonomi. Pengeluaran untuk air menjadi pos baru dalam anggaran rumah tangga, terutama bagi keluarga dengan penghasilan harian. Sebagian warga memilih berhemat: air bekas cucian dipakai ulang untuk menyiram tanaman atau membersihkan lantai, sementara mandi dilakukan seadanya. Pola hidup yang mirip dengan upaya bertahan di daerah kering itu menunjukkan bahwa persoalan air di Bekasi bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan persoalan struktural yang berulang setiap tahun.
Antrean dan Waktu Tunggu
Selain soal biaya, warga juga menghadapi persoalan waktu. Menunggu pasokan air tangki, mengangkut jeriken, atau mengantre di titik pengisian air menjadi rutinitas tambahan yang menyita waktu produktif. Bagi pekerja harian, waktu yang habis untuk mencari air berarti berkurangnya kesempatan memperoleh penghasilan. Kekhawatiran lain muncul ketika kualitas air yang diperoleh tidak terjamin, misalnya berwarna keruh atau berbau, sehingga warga harus menyaring dan merebus terlebih dahulu.
Tekanan pada Air Tanah dan Alih Fungsi Lahan
Kekeringan sumur di Bekasi tidak dapat dilepaskan dari tingginya tekanan terhadap sumber daya air. Sebagai kawasan dengan pertumbuhan permukiman, kawasan industri, dan pergudangan yang cepat, Bekasi mengalami penurunan luas ruang terbuka hijau yang berfungsi menyerap dan menyimpan air. Permukaan tanah yang sebagian besar tertutup bangunan dan jalan membuat air hujan lebih banyak menjadi limpasan daripada meresap ke dalam tanah, sehingga pengisian ulang akuifer berkurang.
Di sisi lain, pengambilan air tanah secara masif oleh rumah tangga, industri kecil, dan kegiatan usaha menambah beban. Ketika pengambilan berlangsung terus-menerus sementara imbuhan air menurun, penurunan muka air tanah menjadi sulit dihindari. Kondisi inilah yang membuat sumur-sumur warga lebih cepat kering pada musim kemarau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Persoalan diperkuat oleh belum meratanya layanan air perpipaan, terutama di kawasan permukiman padat dan wilayah pinggiran yang jauh dari jaringan utama.
Jaringan Perpipaan Belum Menjangkau Semua
Keterbatasan cakupan layanan air perpipaan membuat warga tidak memiliki banyak pilihan. Sebagian wilayah memang telah terlayani, tetapi kualitas layanan kerap terganggu oleh tekanan air yang rendah, terutama pada jam-jam pemakaian puncak. Wilayah lain harus menunggu perluasan jaringan yang tidak selalu sesuai dengan kecepatan pertumbuhan permukiman. Akibatnya, air tanah tetap menjadi penopang utama, meskipun keberlanjutannya semakin tidak pasti.
Langkah yang Dibutuhkan
Persoalan air bersih di Bekasi menuntut penanganan yang tidak berhenti pada respons darurat berupa dropping air. Diperlukan perencanaan jangka panjang yang mencakup perluasan dan peningkatan keandalan jaringan perpipaan, pengendalian pengambilan air tanah, serta penguatan kawasan resapan air melalui ruang terbuka hijau, biopori, dan sumur resapan di lingkungan permukiman. Edukasi penghematan air juga menjadi bagian penting agar tekanan terhadap sumber daya air tidak semakin besar.
Bagi warga, musim kemarau tahun ini kembali menjadi pengingat bahwa akses air bersih belum sepenuhnya terjamin di kawasan perkotaan yang tumbuh cepat. Gambaran permukiman yang kering dan warga yang harus berburu air menunjukkan kesenjangan antara pertumbuhan pembangunan dan kesiapan infrastruktur dasar. Tanpa perbaikan yang menyeluruh, kondisi yang digambarkan "seperti hidup di gurun pasir" berpotensi terus berulang setiap tahun, terutama ketika curah hujan menurun dan permintaan air terus meningkat.
Komentar (0)