Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Israel menyatakan bahwa usia maksimal manusia kemungkinan besar telah "terprogram" sejak masa kandungan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan menyoroti peran faktor genetik yang diwarisi dari ibu sebagai penentu utama rentang hidup seseorang. Studi tersebut mengidentifikasi bahwa variasi gen tertentu yang diturunkan melalui DNA mitokondria—bagian sel yang berfungsi sebagai sumber energi—memiliki kaitan erat dengan usia harapan hidup.
Fokus pada DNA Mitokondria
Penelitian ini dipimpin oleh ilmuwan dari Universitas Ben-Gurion, Israel, bekerja sama dengan peneliti dari Kanada dan Amerika Serikat. Mereka menganalisis data genetik dari tiga kelompok populasi berbeda: orang Yahudi Ashkenazi, penduduk Prancis, dan kelompok etnis Amish. Ketiga populasi ini dipilih karena memiliki catatan silsilah keluarga yang panjang dan terperinci, sehingga memudahkan pelacakan pewarisan sifat genetik antar generasi.
DNA mitokondria (mtDNA) hanya diwarisi dari ibu, bukan dari ayah. Karena itu, peneliti dapat melacak garis keturunan maternal secara jelas. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu yang mewarisi jenis mtDNA tertentu—yang disebut haplogroup—memiliki kecenderungan hidup lebih lama dibandingkan mereka yang mewarisi varian lain. Perbedaan ini tidak dipengaruhi oleh gaya hidup, status sosial ekonomi, atau faktor lingkungan lainnya, melainkan murni berasal dari warisan genetik ibu.
Peran Suhu Tubuh dan Produksi Energi
Tim peneliti menduga mekanisme di balik temuan ini berkaitan dengan efisiensi produksi energi di dalam mitokondria. mtDNA tertentu menghasilkan energi secara lebih efisien dan menghasilkan lebih sedikit radikal bebas—molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan mempercepat proses penuaan. Selain itu, varian mtDNA tertentu juga dikaitkan dengan suhu tubuh yang sedikit lebih rendah, yang dalam berbagai studi pada hewan diketahui berkorelasi dengan usia hidup yang lebih panjang.
Dengan kata lain, "jam biologis" seseorang sebagian telah ditentukan sejak pembuahan, jauh sebelum ia dilahirkan. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti usia manusia sepenuhnya bersifat deterministik. Faktor lingkungan, pola makan, aktivitas fisik, dan akses terhadap layanan kesehatan tetap memainkan peran penting dalam menentukan seberapa panjang seseorang benar-benar hidup.
Antara Genetik dan Gaya Hidup
Kepala penelitian, Dan Mishmar dari Departemen Ilmu Hayati Universitas Ben-Gurion, menyatakan bahwa hasil studi ini membuka jalan baru untuk memahami proses penuaan dari sudut pandang genetik. Menurutnya, memahami bagaimana mtDNA memengaruhi umur dapat membantu pengembangan terapi yang menargetkan mitokondria untuk memperlambat penuaan atau mencegah penyakit terkait usia.
Namun, sejumlah ilmuwan lain menyambut temuan ini dengan catatan. Mereka menilai ukuran sampel yang digunakan masih terbatas dan efek yang teramati relatif kecil. Kritik juga muncul terkait sulitnya memisahkan pengaruh genetik murni dari faktor sosial-budaya dalam populasi tertutup seperti Amish dan Ashkenazi, yang memiliki pola pernikahan internal dan gaya hidup serupa. Selain itu, korelasi antara haplogroup mtDNA dan usia panjang tidak selalu konsisten di berbagai populasi dunia, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan lebih luas.
Implikasi bagi Dunia Kesehatan
Meski masih menuai perdebatan, studi ini menambah bukti bahwa penuaan bukan sekadar proses acak. Sejumlah penelitian sebelumnya memang telah mengaitkan panjang telomer—ujung kromosom yang memendek seiring bertambahnya usia—dengan rentang hidup. Temuan terbaru ini melengkapi gambaran tersebut dengan menyoroti peran mitokondria sebagai "pembangkit listrik" sel yang ternyata juga berfungsi sebagai penentu usia.
Bagi masyarakat umum, pesan praktisnya tetap sama: warisan genetik mungkin menentukan batas atas potensi usia seseorang, tetapi cara menjalani hidup menentukan seberapa dekat seseorang mencapai batas itu. Berhenti merokok, menjaga pola makan seimbang, berolahraga secara teratur, dan mengelola stres tetap menjadi faktor yang dapat dikendalikan. Sementara itu, bagi dunia medis, temuan ini memperkuat urgensi penelitian lebih lanjut mengenai terapi berbasis mitokondria yang suatu hari nanti mungkin dapat memperpanjang usia sehat manusia.
Komentar (0)